Hantu? | Part 2
Aku hanya bisa menatap punggung kak Ahra yang perlahan menjauh. Sebenci itukah dia kepadaku? Apa ini memang salahku? Tanpa kusadari butiran air jatuh, aku hanya diam.
Aku berjalan sambil terhuyung dan masuk ke kamar yang bersebelahan dengan kamarnya. Aku berhenti di sisi ranjang, dan berjongkok untuk meraih sesuatu.
"Ini dia" batinku. Ku buka tutup kotak yang berwarna biru muda. Ada banyak barang disana, dan ada yang menarik perhatianku. "Bungkus coklat," lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum getir, sambil membayangkan apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu.
Flashback on
"Kak, Nida mau itu" aku terus saja merengek meminta coklat kesukaanku.
"Nida gak boleh makan ini ih," ucap kak Ahra sambil naik ke shofa yang ada di ruang keluarga.
"Ih Nida boleh makan, siapa bilang gak boleh? Pokoknya Nida pengen coklat!" rengek Nida ikut menaiki shofa.
Kak Ahra berlari menghindariku. "Awas kau maunk, peri akan terbang mengejarmu, " aku mengejarnya sambil mencak-mencak gak jelas.
"Sejak kapan kakak jadi maunk? Kamu tuh peri tapi kok amit-amit ya wkw, " ejek kak Ahra dengan terus berlari.
"Ih kakak kan galak, pelit pelit pelit,"
Kak Ahra langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. "Kakak ih, Nida mau minta coklatnya aja gak boleh. Dasar kakak pelit pelit." Aku terus berteriak dan menggedor pintu. "Huwaa kak Ahra pelit, awas aja deh. Nanti Nida mau beli coklat sekardus, eh setoko aja. Bahkan penjualnya juga Nida embat." Aku terus berteriak dan ngoceh gak jelas.
Aku mendengar kak Ahra tertawa mendengarnya. "Woy kakak galak bin ngeselin bin pelit bin medit bin apa lagi ya? Em pokoknya itu deh. Keluar ih kak, minta coklat!" Ocehku makin ngawur.
"Nida itu gak boleh makan coklat, dibilangin ngeyel mulu ih." Teriakku sambil membuka bungkus coklat dan memakannya sampai habis.
Karna udah capek ngoceh gak jelas. Aku diam, dan duduk di depan pintu kamar kak Ahra. Cukup lama, dan aku mulai bosan. Dan akhirnya kak Ahra membuka pintunya.
"Yee kak Ahra dah keluar, bagi coklatnya dong," ucapku cengengesan.
"Ngapain kamu duduk di depan pintu kayak orang mau minta sumbangan. Nih nih coklat, capek kakak denger kamu ngoceh mulu dari tadi." Kak Ahra ngomong panjang kali lebar kali tinggi.
"Hehe gini dong kak daritadi, kan Nida juga capek teriak terus." Ucapku masih cengengesan.
"Ya udah, pergi gih, hus hus," kak Ahra mendorong tubuhku menjauh dari kamarnya. Aku yang bodo amat langsung masuk ke kamar untuk menikmati coklat kesukaanku.
"Tunggu, kenapa ini agak aneh ya? Udah ah yang penting bisa makan coklat." Aku tetap bodo amat ya. Setelah aku membuka bungkus coklat itu, ternyata...
Baca Part 3 disini
Pengarang Cerita : Khairani
Facebook : Khairani

0 Response to "Hantu? | Part 2"
Post a Comment