-->

Murid Pindahan | Part 10 | Mengakhiri semuanya


Pagi itu yang cerah, panas matahari meriak membasahi seluruh tubuhku. Aku sedang berjalan-jalan keliling sekitar kota untuk mengisi akhir pekanku. Lalu teriak seorang perempuan sambil melambaikan tangannya. Aku tak bisa melihat dengan jelas karena silauan cahaya matahari, tapi aku masih bisa mengetahui lekuk tubuh itu. Aku menghampirinya.

“Ketua kelas?”

“Ah, kau memanggilku itu lagi. Kita tidak sedang di sekolah kan, panggil saja aku dengan namaku.”

“Maaf maaf. Ini rumahmu?” Aku melirik ke arah rumah besar nan mewah itu. Hampir keseluruhannya ber-cat pink, dan ada juga bagasi mobilnya. Lalu di depannya taman bunga, bunga mawar. Tunggu dulu, aku seperti punya ingatan tentang bunga mawar itu.

“Hei, hei!”

“A-ah... kau bicara sesuatu?”

“Huhh, kau ini. Aku bertanya padamu apa kau mau mampir atau tidak. Oh iya, kau terlihat menatap lama bunga di tamanku, kau mau melihatnya dari dekat?”

“Boleh.” Aku memasuki halaman rumahnya, mengikutinya dari belakang. Kalau dari dalam, halamannya jadi berasa lebih luas.

“Kau duduklah. Biar aku ambilkan minum, kau mau minum apa?”
“Hmmm... mungkin coklat dingin.”

“Baiklah, tunggu di sini.”

Aku berkeliling sebentar sambil menunggu Nessa kembali. Aku menemukan sebuah kolam ikan yang cukup besar. Aku duduk kembali sambil memandangi bunga-bunga di taman. Lalu seekor kucing menghampiriku. Empat ekor, satu betina, satu jantan, dan dua lagi anak kucing sepasang.

Nessa pun datang membawa minumannya.

“Ini, silahkan.”

“Maaf jadi merepotkan.”

“Oh iya, kenapa kau keliling kota. Kau mencari sesuatu?”

“Ah, bukan. Aku hanya mau melihat seisi kota ini, mungkin ada hal yang menarik untuk kukunjungi.”

“Huhh, satu-satunya yang mencolok di sini adalah sekolah kita.”

“Benarkah? Apa sekolah kita selalu menjuarai perlombaan?”

“Bukan begitu, ini soal yang lebih buruk. Sekolah kita itu, terkutuk.” Aku terpekik mendengarnya. Tak kusangka rumornya seperti itu.

“Terkutuk? Maksudmu, soal hal apa?”

“Aku juga tak tahu pasti. Setahun sebelumnya saat aku masih kelas 8, seluruh murid kelas 9 menghilang entah kemana. Rumornya dia diculik makhluk halus. Tapi akhir-akhir ini, aku lebih banyak mendengar soal bunuh diri, bahkan aku tak pernah mendengar lagi insiden murid hilang itu. Entah kutukannya berubah atau tidak, tapi kurasa sekolah ini memang masih terkutuk.”

“Itu bukannya lebih terdengar kelas 9 yang dikutuk. Yah, itu cukup menyeramkan. Tapi, aku tetap tak percaya hal itu. Bagaimana menurutmu sendiri, kau berpikir bahwa sekolah kita itu terkutuk?”

“Aku juga tak ingin percaya tapi, aku lahir dan sekolah di kota ini. Jadi, kurasa kutukan itu benar-benar ada.”

“Kalau aku...” Aku mendongak ke arah matahari yang mulai tertutup oleh awan.

“Aku ingin menghentikan kutukan itu, jika itu memang benar-benar ada.”

Sambil terkekeh Nessa bilang, “Ya, aku akan mendoakanmu semoga berhasil.” Aku hanya tersenyum.

Ya, begitu, memang harus begitu. Doakanlah aku agar berhasil. Bahkan sekalipun nyawaku taruhannya, aku akan membuatnya berhasil. Sungguh ironis. Pemikiranku yang sekarang sangat bertolak belakang denganku sebulan yang lalu.

“Oh iya, kau mau mendengar cerita seram lagi?” Aku mengangguk karena tak ada hal lain yang harus kulakukan hari ini.

“Beberapa hari yang lalu, jam 9 malam. Aku mendengar suara langkah kaki dari arah taman. Kamarku yang berletak tak jauh dari taman membuat suaranya semakin terdengar nyaring. Dan ketika aku pergi keluar untuk mengecek apa yang ada di sana. Aku hanya menemukan bunga mawar yang patah. Padalah aku dan ibuku selalu merawatnya dengan baik, bahkan sore tadi aku sempat menyiraminya dan tak ada ranting yang patah. Aku bertanya-tanya apa ada orang yang masuk ke halamanku hanya untuk mengambil bunga mawar?” Cerita Nessa panjang lebar. Aku ingat, ya aku mengingatnya. Kiriman tengkorak dan bunga mawar, aku belum sempat menanyakan punya siapa tengkorak itu. Tapi kurasa bunga mawarnya diambil dari taman di rumah Nessa.

“Itu cukup menyeramkan. Menurutku dia ingin mengambil bunga mawar yang harumnya sama sepertimu.” Ngomong apa aku ini? Muka Nessa memerah.

“M-m-m-mana mungkin! Apa yang kau bicarakan!” Dia memalingkan wajahnya dan menutupinya dengan tangannya.

“A-ah... yah... maksudku...” Pembicaraan pun jadi canggung.

“Aku rasa aku harus kembali ke rumah. Ibuku sedang pergi mengunjungi bibiku, jadi aku harus menjaga rumahnya.”

“E-ehhh, kau sudah mau pulang.”

“Iya, sampai ketemu besok.” Aku berjalan keluar dari rumahnya. Tadi itu apa ya?

***

Aku berbaring di kasurku sambil bermain handphone setelah selesai belajar untuk persiapan ujian besok. Ckling! Satu notif pesan masuk.

“Kau menikmati akhir pekanmu? Bagaimana hadiahku, kau sudah menemukan jawabannya kira-kira tengkorak siapa ya itu?”

“Yah, setidaknya aku mengetahui kalau kau telah mengambil bunga mawar di rumah Nessa.”

“Nessa? Ah, cewek itu. Aku terkejut kau mengetahuinya. Apa kau berteman baik dengannya?”

“Apa itu urusanmu, ‘si Abadi’?

“Ohh, kau mengetahui lebih dari yang kupikirkan. Menarik.”

“Kira-kira, bagaimana kalau aku bertemu dengan ‘si pengutuk’ itu ya? Apa aku juga akan dikutuk?”

“Apa maksudmu? Si pengutuk? Kau ini bicara apa, aku tak mengerti arah pembicaraanmu.”

“Kau sungguh tak tahu? Bagaimana soal Albert dan Penjaga Perpus yang kau ambil matanya?”

“Sialan!”

“Nah, kira-kira kau tahu punya siapa tengkorak itu? Biar kutebak, dia adalah Albert.”

“Kau tahu kau sedang bicara dengan siapa, hah!”

“Maaf maaf.”

“Bagaimana kalau cewek itu kubunuh.”

“Kau bertanya padaku? Jelas-jelas itu hanya terjadi jika kau mengalahkanku besok, kan? Apa mungkin kau mau membunuhnya tanpa bermain game dulu denganku? Sejak kapan kau jadi pengecut.”

“Kau jadi pandai bicara.”

Dia menghentikan pembicaraannya. Nah tinggal persiapan untuk besok.

Lanjutannya COMING SOON!

Pengarang Cerita : Rian Yanuar
Facebook : Ashley Graham

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Murid Pindahan | Part 10 | Mengakhiri semuanya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

;