-->

Murid Pindahan | Part 8 | Lingkaran Kematian


"Maaf, ada perlu apa ya?" Tanyaku, mendongak ke atas.

"Biar kuberitahu, sejarah sekolah ini." Tanpa basa basi, dia langsung berbisik di telingaku.

"Mari, kita bicara di tempat lain," Ajaknya. Dia menuju pintu di balik meja tempat dia berjaga, lalu membisikkan sesuatu ke orang yang di sebelahnya. Aku mengikutinya dari belakang.

Tuk! Dia menghidangkanku secangkir coklat panas.

"Nah, sekarang, dari mana mulainya ya.... Baiklah, pertama-tama biar kuperkenalkan diriku. Semua murid di sini memanggilku penjaga perpus, itu hal biasa bagiku. Tak ada yang memanggilku dengan namaku, itu membuatku lupa akan namaku sendiri."

*** (Sekitar beberapa tahun lalu. Sudut pandang penjaga perpus.)

Kringg! Bel istirahat pertama berbunyi. Sekumpulan siswa-siswi berdatangan ke ruangan dengan rak yang penuh buku ini. Banyak sekali yang datang setiap harinya. Entah itu membaca novel atau mempelajari sesuatu.

Karena terlalu banyak, aku sampai tak bisa menghafal nama mereka. Tidak, aku punya satu anak yang selalu ku perhatikan. Dia pendiam, aku hanya melihatnya sesekali berbicara dengan murid lain, setelah itu sisa waktunya dihabiskan dengan membaca buku di sini.

Hari ini dia datang seperti biasa. Duduk di kursi paling pojok. Seakan mengisolasikan dirinya dari orang-orang. Aku memperhatikannya dari balik meja-ku. Sambil menyeruput kopi hitamku, pandanganku tak lepas darinya. Aku rasa ada 'sesuatu' di dirinya.

Dia meraih buku di rak no 4 baris paling ujung di rak ke 2. Bukunya berwarna merah dan berlogo kambing bertanduk. Aku tak pernah melihat seseorang membaca itu sebelumnya. Aku juga tak pernah melihat buku itu saat membersihkan ruangan ini. Mungkin karena terlalu banyak buku, aku jadi melupakannya.

Sudah berjam-jam dia membaca buku itu. Semua murid sudah keluar, tinggal dirinya dan aku saja yang ada di ruangan ini. Setelah bebrapa menit, dia menutup bukunya dan berjalan ke arahku.

"Permisi," Salamnya padaku.

Aku menjawab, "Iya, ada perlu apa?"

"Bolehkah aku meminjam buku ini?" Dia menaruh bukunya di atas mejaku. Bruk! Buku itu terlihat berat juga tebal. Aku mengambil dan memperhatikan buku itu tapi tak kubuka. Aku menaruhnya kembali. Dari cover-nya buku itu terlihat menyeramkan. Mungkin, sebuah novel horror yang dikemas dengan model menyeramkan dan warna merah darah agar terlihat lebih menarik di mata penyuka novel horror. Itulah pemikiranku saat pertama kali melihatnya dengan dekat.

"Jadi, kau sudah membaca bukunya?" Aku mencoba bertanya sedikit padanya.
"Tentu saja. Isinya penuh dengan hal menyeramkan. Mungkin kita bisa mempraktekannya," Ujarnya sambil terkekeh.

Setelah aku selesai men-stempel buku itu. Aku menyerahkannya kembali padanya.

"Ini, bukunya."

"Terima kasih." Anak itu lalu pergi keluar dari perpustakaan.

"Jangan lupa mengembalikannya tetap waktu!" Teriakku. Lalu anak itu melambaikan tangannya.

Selain sebagai penjaga perpustakaan. Aku juga bekera sebagai penjaga sekolah ini tergantung shift kerjaku. Dan sekarang aku berjaga di malam jum'at kliwon. Setelah berkeliling di sekolah ini, aku merilekskan tubuhku dengan duduk santai di ruang perpustakaan.

Ketika semua orang dibuatkan kopi oleh istrinya, aku disini hanya dibekali kopi dalam termos buatan ibuku, aku belum menikah di usiaku yang 32 tahun ini. Sambil menyeruput kopi-ku, aku berkeliling mencari sebuah buku yang sekiranya menarik. Aku melihat buku terpampang di rak no 2. Aku meraihnya, buku itu berjudul "Bermalam di sekolah terlarang."

"Oh yaampun. Aku terlalu tua untuk lelucon ini." Aku menaruh kembali buku itu ketempatnya dan lebih memutuskan untuk mencari buku lain.

Trak! Suara tenjela yang terbanting. Kurasa angin takkan bisa membanting jendela yang terkunci. Aku mencoba mengecek. Ternyata jendelanya benar terbuka. Aku menutupnya kembali, tapi ketika aku mengeluarkan kepalaku dari jendela, seekor burung gagak hampir menyambarku. Burung itu terbang sangat cepat, tepat di depan wajahku sampai membuatku terjatuh.

"Burung sialan!"

"Oh, selamat malam. Maaf aku masuk lewat jendela." Seseorang berbicara di belakangku. Aku sedikit merinding. Memangnya ada penjaga lain selain diriku yang berjaga malam ini, ah, kurasa tidak!

Pelan-pelan aku menengok ke belakang. "Kau!" Aku melihat anak itu mendekap buku yang dipinjamnya tadi siang.

"Maaf, aku belum sempat memperkenalkan diriku. Namaku Albert, Albert saja. Salam kenal, pak penjaga," Ujarnya tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku.

"Apa yang kau lakukan malam malam di sini? Kau tau kan kalau kau tak boleh ada di sekolah ketika waktu sekolah sudah selesai, kecuali kau mendapat izin!" Aku mencoba memperingatinya.

"Kalau soal itu, aku minta maaf."

"Lalu, apa tujuanmu datang malam-malam ke sini?"

"Seperti yang kuucapkan tadi siang. Bapak ingat??"

"Hah? Oh, kau mau mengembalikannya tepat waktu? Yasudah, kemarikan bukunya, lalu cepat pulanglah kalau tak ada keperluan lagi."

"Mohon maaf sekali lagi, tapi aku tak berniat mengembalikannya sekarang."

"Jadi, kau mau apa tengah malam ke sini?"

"Bapak benar-benar lupa atau... pura-pura lupa?"

"..."

"Seperti yang kukatakan tadi siang bahwa 'Kita mungkin bisa mempraktekan, apa yang ada dalam buku ini'. Aku yakin bapak juga tertarik dengan buku ini, kan? Hanya saja, abapak terlalu takut memulainya. Jadi, biar aku pandu bapak dan bapak tinggal mengikuti apa kata saya saja."

Setelah itu dia mengeluarkan sebotol cairan merah dari tasnya. Apa itu darah? Entahlah, aku hanya terpaku dan melihatnya dari jauh sementara dia membuat sebuah simbol dengan cairan itu.

Baca Part 9 disini

Pengarang Cerita : Rian Yanuar
Facebook : Ashley Graham

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Murid Pindahan | Part 8 | Lingkaran Kematian"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

;