Lukisan Misterius | Part 1 | Tujuh Hari sebelum Alisa benar-benar sendirian
Waktu itu, empat orang Mahasiswa mengunjungi sebuah toko antik yang terletak di pinggiran jalan. Bagi teman-teman Alisa, toko itu luar biasa! Barang-barang unik dan bersejarah, di simpan dengan rapi di beberapa rak. Namun bagi Alisa, ketika memasuki tempat itu, rasanya.... Aneh. Tidak ada yang menarik, barang-barangnya begitu tua dan menyeramkan.
"Alis! Ayo!" Ellie menggelayutkan lengannya ke tangan Alisa manja. Membawanya masuk lebih dalam ke toko antik itu. Alisa hanya bisa menurutinya seraya tersenyum, menyembunyikan rasa tidak nyamannya pada tempat ini.
Alisa dan Ellie melihat-lihat beberapa barang yang ada di sana. Sesekali, Ellie meminta Alisa mengambil fotonya dengan kamera yang mereka bawa. Erick dan Satya, yang merupakan kedua teman mereka, malah asyik memilih alat musik tua di sisi rak yang lain.
"Keren!" Alisa mengacungkan jempol, menyerahkan kamera kepada Ellie yang langsung tersenyum puas setelah melihat hasil potret Alisa.
"Wah, thanks! Aku akan tunjukkan ini sama Erick dan Satya!" seru Ellie kemudian berlari meninggalkan Alisa. Alisa hanya bisa tersenyum, gemas jika melihat tingkah manjanya seperti ini.
"Alisa?"
Alisa menoleh ke sumber suara, mendapati seseorang yang sangat dia benci berada beberapa langkah darinya. "Ladit?"
"Kamu sedang apa di sini? Sudah lama kita tidak bertemu." Ladit mendekat, namun Alisa mundur menjauh.
"Yang jelas bukan urusan kamu!" sinis Alisa.
"Jadi, kamu masih membenciku?" tanya Ladit hati-hati.
Alisa memutar bola matanya sebal. "Pikir aja sendiri."
"Maaf, Alis."
"Bodoh. Perempuan mana yang mau memaafkan laki-laki playboy seperti kamu?" Alisa emosi, rasanya ingin memakan Ladit hidup-hidup setiap kata maaf keluar dari mulutnya.
"Aku akan memperbaikinya. Aku.... Masih menyayangimu Alis."
"Omong kosong. Memperbaiki apa? Hati aku yang udah gak suka sama laki-laki lagi, iya?"
Ladit tercenung, mencerna perkataan Alisa. "Kamu...."
"Aku menyukai perempuan. Masih mau sama perempuan lesbian kayak aku?"
Ladit tertohok, merasa tidak percaya dengan perkataan Alisa beberapa detik lalu. Namun Ladit juga paham betul, kalau Alisa tidak pernah berbohong.
"Alis, cepat ke sini! Lihat!" Ellie teriak entah dari sisi mana, Alisa hanya bisa mendengar suaranya. Alisa menatap Ladit sebal sebelum akhirnya pergi untuk menemui Ellie.
"Ada apa, El?" Alisa bertanya, memandangi Erick, Satya dan Ellie bergantian.
"Lukisan yang bagus." Erick menatap takjub lukisan besar yang melekat di dinding toko.
"Kita harus membelinya." Satya menimpali.
Ellie mengangguk-angguk. "Aku setuju. Ini mahakarya luar biasa!"
Lukisan dengan latar hutan yang gelap, terlihat begitu lembut menempeli kanvasnya. Bumbu-bumbu tentara yang berbaris di dalamnya, juga menambah kesan ketegasan dari lukisan itu.
"Apanya yang bagus?" Alisa menautkan alisnya bingung.
"Alis gak pernah ngerti karya seni, makanya nggak tahu," kata Erick penuh canda. "Bang, bungkus yang ini, ya!" Erick menambahkan.
Ladit mengangguk, menurunkan lukisan itu dari tempatnya dan memasukkannya ke dalam kresek berukuran besar. Alisa membelalak, jadi Ladit bekerja di sini sekarang. Erick menyerahkan sejumlah uang sesuai dengan harga yang tertera di sana.
"Come on, kita langsung ke villa!" seru Satya kemudian pergi dari toko. Ellie dan Erick menyusul sambil bersorak heboh.
"Alis!" panggil Ladit ketika Alisa hendak menyusul teman-temannya.
Alisa terpaksa menghentikan langkahnya. "Apa?" sinisnya.
"Hati-hati."
Hati-hati katanya? Ah, ngaco. Apa yang bahaya? Pikir Alisa aneh sendiri. Dia hanya menggelengkan kepala kemudian pergi dari toko antik itu.
_
Villa Permai, Villa luas yang dimiliki oleh keluarga Ellie. Villa ini sepenuhnya menjadi milik Ellie, dia juga berhak membawa teman-teman baiknya untuk tinggal di sini selama mereka kuliah. Kata Mama Ellie, hitung-hitung mereka menemani Ellie yang sangat manja dan anti tinggal sendirian di rumah.
Di sinilah mereka, duduk santai di ruang tivi yang cukup luas. Ellie sedang memakan keripik singkong sambil memainkan handphonenya, Satya dan Erick malah sibuk memaku tembok untuk menempatkan lukisan yang baru mereka beli tadi. Sementara Alisa, dia hanya tiduran di sofa dan menyaksikan acara tivi.
"Selesai. Lukisannya cocok di simpan di sini, kan?" tanya Erick setelah selesai melakukan pekerjaannya.
Alisa dan Ellie menoleh, melihat lukisan besar yang tergantung di bawah tangga. "Bagus! Cocok banget!" seru Ellie merasa puas.
"Menurut kamu, Lis?" Satya menanyai Alisa ketika melihat wajah tidak bersahabat Alisa.
"Jangan tanya aku. Mau di simpan di mana-mana pun lukisannya, aku gak akan suka," ketus Alisa.
"Yah, Alis. Itu lukisan bagus tahu!" ujar Ellie tak mau tahu, seolah menyuruh semua orang setuju dengan pendapatnya.
"Nggak. Lukisannya serem."
"Korban film, biasa." Satya mendengus, geleng-geleng kepala dengan ucapan Alisa yang tak mendasar mengatai lukisan itu seram.
Setelah beres-beres Villa, mereka makan malam dan bergegas tidur di kamar berbeda. Erick dan Satya satu kamar, sementara Alisa dan Ellie berada di kamar yang sama.
"Alis, aku tidur duluan, ya." Ellie berbaring, menarik selimutnya sampai ke leher dan memejamkan mata.
Alisa mengangguk, tidur di ranjang yang berbeda dengan Ellie. Alisa memandangi Ellie dari kejauhan, wajah cantiknya benar-benar membuatnya terpukau.
"Kenapa kamu cantik banget, Ellie?" tanya Alisa entah pada siapa. Dia mendengus, membuang jauh-jauh mimpinya untuk mendapatkan perempuan itu. Ellie tidak lesbi sepertinya, dia normal dan mencintai seorang pria seperti orang pada umumnya.
Sial, ini semua gara-gara Ladit, setelah dia menduakannya berkali-kali, Alisa jadi membenci laki-laki. Alisa kehilangan akal dan lebih memilih menyukai sesama jenis yang menurutnya bisa saling mengerti satu sama lain.
Lampu kamar di padamkan, bersamaan dengan ke empat orang yang mulai terlelap di dalam Villa.
_
TBC
Catatan Alisa [Seharusnya aku tidak membiarkan mereka membeli lukisan itu! Seharusnya aku membuang jauh-jauh lukisan menyeramkan yang tidak jelas asal-usulnya!]
Terima kasih sudah membaca, ini belum ada horror-horrornya. Maklum, masih chapter pertama. Semoga kalian terkesan, ya.
Cerita ini akan menyatukan berbagai macam genre seperti horror, psikopat, mistery.
Baca Part 2 disini
Pengarang Cerita : Bintang Kejora
Facebook : Bintang Kejora

0 Response to "Lukisan Misterius | Part 1 | Tujuh Hari sebelum Alisa benar-benar sendirian"
Post a Comment