-->

Hantu? | Part 1


Aku selalu ingin menertawakan hidupku, hidup yang menurutku tak ada gunanya sama sekali. Menangis? Bahkan air mataku sudah habis terhapus oleh waktu. Sifatku sekarang berubah, keras kepala dan egois. Itu semua karena kehadirannya, dia yang membuatku jadi menderita, bahkan Aku ingin selalu membunuhnya. Tapi Aku masih punya akal sehat untuk tidak melakukannya. Dia hanya gadis manja yang tidak tahu diri, Aku benar-benar membencinya. Aku Ahra, siswi kelas 2 SMA yang mempunyai adik berbeda satu tahun denganku. Dan adikku, dia Nida. Hm, bahkan tak ada kemiripan dalam nama kami.

“Pagi semua,” sapanya sambil menghampiri kami di meja makan.
“Pagi,” balas ayah dan ibu, kecuali Aku tentunya.
Dia mencium pipi ayah dan ibu, saat menghampiriku Aku hanya menatap sinis kearahnya. Yang benar saja, dia sudah besar bukan anak kecil lagi, dasar manja. Dia langsung duduk disampingku tanpa mencium pipiku. Dulu Aku senang, dia adikku kecilku yang manis. Tapi Aku sadar jika ayah dan ibu pilih kasih pada kami. Apa yang dia minta selalu ia dapat, sedangkan Aku harus memohon sambil menangis.

Kami mulai sarapan, tak ada Nida di meja makan satu jam pun akan ditunggu, tapi tak ada Aku dimeja makan satu menitpun ditinggal.
“Ahra, nanti pulang sekolah kamu harus ke toko nenek.” Titah ayahku. Bagus, Aku yang bekerja, dia yang digaji pasti.
Aku Ahra, siswi kelas 2 SMA yang mempunyai adik berbeda satu tahun denganku. Dan adikku, dia Nida. Hm, bahkan tak ada kemiripan dalam nama kami.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, menolak pun percuma pada akhirnya Aku akan dipaksa.

“Nida juga ingin membantu kak Ahra, yah” timpal Nida tiba-tiba. Apa-apaan dia itu? Dasar penjilat.
“Kalau begitu, kau saja yang pergi.” Ucapku malas, benar-benar dia itu.
“Ahra, jangan bicara begitu pada Nida.” Sentak ayah tiba-tiba. Yang benar saja, apanya yang salah?
“Terserah,”

Ayah menggebrak meja keras, ibu hanya memandangku berbeda, dan Nida… dasar sok polos, “Ahra, jaga bicaramu.” Apa? Apanya yang salah?
“Sudah, cukup!” Aku langsung pergi meninggalkan meja makan, tak peduli dengan teriakan ayahku yang memuakkan.

Pulang sekolah sesuai perintah ayahku Aku pergi ke toko nenek, toko kue lebih tepatnya. Meski sudah tua tapi nenek masih aktif melakukan ini dan itu. Aku senang membantu nenek, dia seperti ibuku. Karena ibu hanya jadi ibunya Nida.

“Ahra, ini sudah malam. Kamu tidak pulang?” Tanya nenek padaku yang sedang membersihkan kaca.
“Mungkin sebentar lagi,”
“Ini sudah jam 10 malam, nenek khawatir dijalan.”
“Jam 10?” Heranku, saat Aku melihat jam ditanganku, “benar, sudah jam sepuluh.” Aku segera bergegas untuk pergi, mengambil tasku dikursi kasir, lalu pamit pada nenek, “Ahra, pamit pulang dulu nek.” Pamitku dan segera pergi untuk pulang.
“Hati-hati dijalan,” Nenekku berteriak kencang, “iya, nek.”

Ini aneh, biasanya Aku ingat waktu. Aku selalu pulang pukul 5 sore, dan sekarang Aku tak sadar kalau sudah malam, ada apa denganku? Aku mempercepat langkahku, ternyata jalanan sudah sepi. Saat dipersimpangan jalan, Aku mendengar langkah kaki seseorang dibelakangku. Jangan bilang…

Aku langsung berteriak saat dia menyentuh pundakku, ini tak mungkin terjadi padaku. Aku Ahra, seorang gadis yang mati pada usia yang masih muda? Aku semakin takut dan berusaha berontak saat tangan itu menutup mulutku. Aku menyikut perutnya, saat ia merintih Aku seperti kenal suaranya.

“Ini Aku, tenanglah.” Ucapnya dengan nada kesakitan.
Tunggu, Aku seperti mengenal suaranya. Saat melihat kearahnya, ternyata benar itu dia. Aku langsung menyingkirkan tangannya dari mulutku, “Rizal? Apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku kaget.
“Seharusnya Aku yang bertanya? Apa yang kau lakukan?” Tanyanya seperti mengintrogasiku.
“Aku dari toko nenek,” jelasku yang sesungguhnya.
“Benarkah? Aku tak yakin.”
“Terserah, itu bukan urusanku.” Aku langsung berbalik badan, dan pergi meninggalkannya.

“Seharusnya kau senang bertemu denganku,” ucapnya yang kini ada disampingku.
Aku melihatnya sekilas sambil menatap sinis, “jangan menatapku begitu, nanti kau suka.” Dia benar-benar terlalu percaya diri.
Aku menendang kakinya keras, Aku benar-benar kesal padanya. Aku langsung meninggalkannya tanpa peduli jika ia kesakitan.

Tak kusangka dia menemaniku sampai depan gerbang, benar-benar baik. Jangan sampai ia mendengarnya.
“Ini rumahmu, dan sana masuk.” Dia mengucapkan itu sambil mendorong keras bahuku.
“Kamu ini, bagaimana jika Aku jatuh?”
“Kebawahlah jika kau jatuh.”
Benarkan, dia itu menyebalkan. Dengan perasaan kesal, Aku berbalik dan langsung membuka gerbang.

“Hati-hati,”
Aku menoleh kearahnya, “seharusnya, kau yang hati-hati.”
Dia hanya tersenyum, “Aku laki-laki, jadi tak perlu khawatir.”
Aku hanya tersenyum mendengar alasannya. Dia tetap sama, tanpa berubah sedikitpun.
“Hati-hati,” ucapku dan langsung membuka gerbang untuk masuk. Aku melihat kearahnya sebentar sebelum menutup gerbang, Aku membalas senyumnya.

“Dari mana saja kamu Ahra?” Sentak seseorang dari arah belakangku. Aku sedikit terkejut karenanya, saat Aku berbalik ayah menampar pipiku keras disertai teriakan ibu dan Nida. Aku jatuh tersungkur karena tak bisa menjaga keseimbangan.
“Masuk kerumah!” Perintahnya tanpa mempedulikan Aku terjatuh.

Dia pergi meninggalkanku, dan juga ibu sama sekali tak membantuku untuk bangun, kecuali uluran tangan seseorang yang Aku benci. Aku menepis tangan itu dan bangun sendiri, ”kak,” Aku tidak peduli dengan suara lirihnya itu, pasti itu hanya suatu kebohongan. Aku langsung beranjak masuk meninggalkannya, tentu dengan air mata yang sedang kutahan. Entah dari mana air mata itu muncul lagi.

Baca Part 2 disini

Pengarang Cerita : Khairani
Facebook : Khairani

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Hantu? | Part 1"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

;