Murid Pindahan | Part 9 | Perjanjian dengan iblis
"Perhatikanlah! Aku akan menguasai sekolah ini, tidak, seluruh dunia ini! Aku butuh partisipasimu, jika kau mau menerima dengan senang hati maka akan kuberikan sedikit kekuasaan untukmu, sebuah keabadian," Ujarnya sambil merentangkan tangan ke atas, lalu menumpahkan botol berisi cairan merah itu ke lantai yang sudah diberi simbol aneh.
Aku tak terlalu percaya dengan hal semacam itu, jadi aku menolaknya. Dia berhenti dari ritualnya, lalu berjalan menghampiriku.
"Kalau saja kau mau menerimanya dengan senang hati, aku tak akan repot begini." Dia menusukku dengan jarum yang disembunyikannya di belakang tangannya. Aku tergeletak di lantai. Aku merasa ngantuk, sangat mengantuk. Rasanya mataku terlalu berat untuk dibuka. Kurasa dia menyuntikkan obat bius padaku.
Setelah lama tergeletak di lantai. Aku akhirnya bisa membuka mataku, tapi tunggu, kemana mata kiriku? Aku tak merasakan ada bola ma- Sialan! Albert, dia pasti melakukan ritual dengan mataku.
Brak! Aku melihat Albert terpental ke arah rak buku, bajunya terkoyak. Di lingkaran ritual, aku melihat iblis yang menyeruai manusia namun berkepala kambing, sama seperti yang ada di buku itu.
Iblis itu mengangkat kepala Albert. "Masih terlalu dini untuk memanggilku. Aku akan membawa kehancuran jika saatnya tiba. Bocah! berani-beraninya kau memanggilku!" Bruk! Dia menghajarkan kepala Albert ke arah buku-buku tebal dan membuatnya berdarah.
"Oh, biar kuberikan sesuatu yang menarik padamu." Makhluk itu membuat suatu lambang di dahi Albert lalu melemparnya ke luar jendela.
"Nah nah, sekarang giliranmu." Dia menghampiriku. Aku tak berkutik, aku merasakan energi gelap di sekitar ruangan ini.
"Oh, kau kehilangan matamu. Kalau begitu biar aku beri penggantinya." Dia lalu mencongkel matanya dan menanamnya di mata kiriku.
"Arghhh!" Sensasi aneh memenuhi kepalaku.
"Kau akan tetap di sini. Kau tak bisa pergi kemana-mana. Ingat, manusia, di pertemuan selanjutnya aku tak akan mengampuni kalian." Dia kembali ke lingkaran tadi dan tertelan oleh energi hitam yang ada di sekitarnya.
"Khuh!" Aku memuntahkan darah dari mulutku. Aku pergi ke arah jendela, aneh aku tak bisa keluar. Seakan ada yang menghalangiku, padahal aku mau melihat Albert yang dilempar tadi. Aku kembali untuk mengecek lingkaran tadi tapi sudah hilang.
Beberapa saat kemudian, pintu perpustakaan dibuka. Dengan nafas terengah-engah Albert masuk ke ruangan ini dan mencari-cari iblis tadi. "Sialan!"
"Bagaima bisa kau masih hidup?"
"Ah, aku tak tahu. Tiba tiba tubuhku kembali sehat, aku abadi. Tapi bukan ini yang kuinginkan! Iblis itu, dia akan datang membawa kehancuran."
"Lalu kenapa kau memanggilnya!-"
"Aku tak bermaksud! bukan ini yang kuinginkan." Albert menunduk lalu meneteskan air mata.
"Aku hanya ingin membalaskan dendam orang tuaku. Tapi aku tak bisa apa-apa. Itu makanya aku mencari kekuatan!"
"Apa kau sadar kau telah menyeretku?"
"Maaf, aku ingin... mengakhiri hidupku saja. Kalau saja bisa... Kau tahu? Dia memberiku kutukan. Hal kelam, kepedihan, ketakutan, kesengsaraan, keputus-asaan, semuanya ada dalam otakku. Itu membuatku gila. Dia memberiku sesuatu, lebih tepatnya perintah. Untuk menghentikan rasa sakit yang luar biasa ini, aku harus membunuh semua murid kelas 9. Lalu menyisakan satu, aku tak tahu untuk apa. Tapi aku tak punya cara lain!"
"Hey tunggu! Albert!" Langkahku terhenti oleh penghalang yang dibuat iblis itu khusus untukku.
***
Waktu pun berlalu. Albert membunuh semua teman kelas 9-nya dan menyisakannya satu. Aku tau itu untuk apa. Itu untuk mewariskan kutukannya, agar kutukan ini terus berlanjut! Bertahun-tahun kutukan ini berlanjut dan sampailah ke tahap ini. Dua takdir telah bertemu. Ini adalah permulaan untuk kisah berikutnya. Perlu kau tahu, bahwa kisah ini akan cukup panjang.
***
Setelah lama aku mendengarkan ceritanya, aku meminum coklat panas yang sudah dihidangkan oleh pak penjaga perpus.
"Mari kita ke inti pembahasan."
"Pffft! Tunggu dulu, tadi itu, masih prolog?"
"Sudahlah dengarkan saja. Aku memanggilnya pembunuh, si murid pindahan itu. Jadi, dia itu bukan manusia dia adalah roh semenjak dia mewarisi kutukan yang dibawa oleh Albert. Dan peristiwa dimana dia mati lalu bangkit kembali esok harinya, itu dinamakan resurrecion. Ketika si pembunuh melakukan resurreccion, semua ingatan tentangnya akan hilang."
"Aku mengerti sekarang. Tapi kenapa dia malah mengajakku bermain game?"
"Game? Apa maksudnmu?"
"Ya. Dia mengajakku bermain game dan jika aku kalah dia akan membunuh satu murid di sini. Tapi jika aku menang, dia akan menjawab satu pertanyaanku."
"Oh, kurasa dia sedikit menarik. Kau tahu, si pembunuh biasanya membunuh secara langsung. Lalu me-resurreccion dirinya agar ingatan tentangnya dan kejadian tadi di hapus. Tapi, yang kudengar hanya kasus bunuh diri saja. Kau tahu kenapa?"
"Hmmm... Entahlah."
"Dia mengambil mata kiri-ku" Mata pak penjaga perpus itu mendadak tajam.
"Aku tak akan menanyakan kenapa dan bagaimana, haha. Tapi, kau tahu cara menghentikan semua ini?"
"Tidak." Dia beranjak dari kursinya.
"Tapi aku punya satu rencana." Aku mendongak. Kukira ketika dia bilang 'tidak' sudah tak ada harapan lagi untukku. Tapi akhirnya, aku menemukan sebuah petunjuk!
Baca Part 10 disini
Pengarang Cerita : Rian Yanuar
Facebook : Ashley Graham

0 Response to "Murid Pindahan | Part 9 | Perjanjian dengan iblis"
Post a Comment