-->

Murid Pindahan | Part 7 | Perputaran Takdir


Kringgg! Jam pelajaran pertama di mulai. Hari ini aku mengikuti pelajaran layaknya biasa. Aku mendengar baik semua yang guru katakan di depan kelas. Aku juga sempat beberapa kali ditanya, dan aku menjawab semuanya dengan benar.

“Wah! Kau ternyata pintar ya orangnya.”

“Tetap saja, aku tak bisa menyaingimu, ketua kelas.”

“Kau tak terlihat seperti kau tak bisa menyaingiku. Oh iya, kau mau belajar bersama?”

“Aku rasa aku tak bisa, masih banyak pekerjaanku di rumah yang belum di selesaikan.”

“Oh, baiklah. Akan kuberitahu Randi kalau kau tak bisa ikut.”

“Randi?” Pekikku terkejut. Randi katanya? Apa maksudnya? Apa Randi sudah merencanakannya bebrapa hari lalu? Tak mungkin. Kalau belajar kelompok, pasti dilakukan tetap di hari perencanannya, tak ada alasan untuk menundanya.

“Iya, kemarin dia memberitahuku. Kenapa kau ini? Apa ada yang salah?”

“Tidak. Tak ada. Lupakan saja.” Aku tak bisa menyembunyikan raut wajahku yang ketakutan.

“Kau mau kemana!” Teriaknya padaku yang tiba-tiba berlari.

Aku pergi ke toilet untuk membasuh mukaku. Aku menatap ke arah kaca. Ketika aku berkaca, aku melihat wajah si Murid Pindahan dalam diriku. “Aku hanya berkhayal!” Kataku, mencoba meyakinkan diri.

Aku mendengar pintu toilet terbuka. Ketika aku menengok ke arah pintu itu, aku terkejut. “Randi?!”

“Kenapa kau ini? Seperti habis melihat hantu saja.”

“Kau benar-benar Randi, kan?” Tanyaku, sambil menepak-nepak pipinya.

“Hei, hentikan! Kau ini kenapa sih? Kebanyakan baca novel ya?”

“Syukurlah.” Desahku.

Tapi tunggu, jika tengkorak itu bukan milik Randi, lantas milik siapa itu sebenarnya? Untuk sekarang, aku bisa menghela nafasku. Masih banyak pertanyaan yang harus kulemparkan padanya.

“Kau lapar?”

“Kenapa memangnya?”

“Kita ke kantin. Aku yang traktir.” Aku menarik tangannya, aku bersyukur Randi masih hidup. Untuk pertama kalinya, aku merasa sangat tak ingin kehilangan orang yang ku kenal.

“Kau ini kesurupan apa sih?”

***

“Hei! Jangan pesan terlalu banyak!”

“Bukannya kau bilang mau mentraktirku.” Ucapnya dengan daging ayam yang masih dia kunyah.

“Huff,” Desahku, aku tak habis pikir dengannya. Masih bisa makan saja setelah menghabiskan dua mangkuk mie rebus.

“Heiiii!” Teriak ketua kelas sambil melambaikan tangannya, lalu disusul dengan datangnya si Murid Pindahan.

“Kenapa kau tak mengajakku?”

“Y-ya... soal itu-“

“Bagaimana kalau kita main black jack?” Sela si Murid Pindahan sambil mengeluarkan kartu dari sakunya.

“Kauuu, kata siapa kau boleh membawa kartu di sekolah?!”

“Tenanglah ketua kelas, aku tak akan memakainya di jam pelajaran kok.”

“Terserah kau saja.”

“Jadi, siapa yang mau main?”

Randi sibuk dengan makannannya. “Aku tak mau,” Kata ketua kelas.

“Baiklah kau saja,” Tunjuknya padaku.

Sudah kuduga. Entah kenapa wajahnya yang penuh senyum tampak tak ramah di mataku. Aku selalu merasa terancam di setiap kata yang di ucapkannya.

***

Setelah beberapa saat, aku mendapatkan 5 kali menang dalam 10 kali pertandingan, itu artinya kami seri. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika kami mendapatkan hasil seri.

“Baiklah, kita selesai. Bel sudah berbunyi, aku harus kembali ke kelas.”

“Aku juga,” Ucap Randi.

“Kita juga harus kembali ke kelas,” Ujar ketua kelas. Aku mengikutinya kembali ke kelas.

***

Kringgg! Setelah lama mengikuti pelajaran, akhirnya terdengar bel istirahat yang kedua. Aku menghabiskan waktu istirahatku dengan membaca novel di perpustakaan.

Semua pandanganku tertutup oleh hamparan kalimat yang ada di buku novelku. Mataku tertuju padanya, tapi otakku tidak. Aku berpikir kenapa si Murid Pindahan tidak mengajakku bermain sebuah game lagi, bukan berarti aku menanti-nantikannya, aku hanya terheran saja.

Oh iya, soal tengkoraknya. Aku tak tahu harus ku apakan tengkorak itu. Karena bingung, aku menguburnya di halaman belakang rumahku. Dan bunga mawarnya ku taruh di atasnya. Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, milik siapakah tengkorak itu.

“Ekhemm.”

Aku menurunkan buku novelku dari pandanganku. Dan terlihat seseorang berpenutup mata di bagian kirinya, orang itu... sangat seram. Aku tak terkejut melihatnya, soalnya dia penjaga perpus di sini.

“Ada yang perlu ku bantu?”

“Apa kau punya waktu. Aku perlu bicara padamu.”

“Soal apa?”

“Takdirmu dan beberapa pertanyaan yang mungkin bisa ku jawab.”

Baca part 8 disini

Pengarang Cerita : Rian Yanuar
Facebook : Ashley Graham

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Murid Pindahan | Part 7 | Perputaran Takdir"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

;