Murid Pindahan | Part 6 | Hati yang hancur
Aku melemparkan tasku ke atas lemari baju, lalu kuhempaskan tubuhku ke atas kasur yang sudah tak empuk lagi. Berjam-jam aku berbaring di kasur. Sampai kulihat jam menunjukkan pukul 07:00. Aku mandi untuk menyegarkan tubuhku. Setelah selesai, aku keluar dari kamar mandi dan kulihat di meja makan sebuah surat. Aku membukanya perlahan.
"Ibu pergi dulu, mau mengunjungi bibimu yang sedang sakit. Maaf tak mengabari sebelumnya, Ibu juga dapat kabar tiba-tiba. Mungkin selama seminggu Ibu tak akan ada di rumah. Jangan lupa mencuci bajumu, basuh sepatumu dan jangan lupa belajar. Besok kau ada ujian, kan? Kalau kau mau makan. Ibu sudah masakkan sesuatu."
Aku membuka tudung saji. ulihat, ada nasi, ikan goreng dan segelas coklat panas yang sudah dingin. Semuanya adalah favorite-ku.
Aku kembali membaca suratnya.
"Kau bisa memasak sendiri untuk besok. Bahan makanannya ada di kulkas. Oh iya, ada kiriman dari temanmu. Ibu menaruhnya di atas lemari. Kau sudah punya sahabat? Kenapa kau tak bilang pada Ibu? Apapun itu, yang penting Ibu senang kau bisa punya teman." Dan kalimatnya telah usai.
"Aku bukan anak kecil lagi." Aku mengambil segelas coklat panas yang sudah dingin itu dan kutenggak sampai habis.
Aku kembali ke kamarku. Memakai baju lalu kembali ke ruang makan. Mengambil piring di rak. Menyendokkan nasi dan lauk-pauknya.
Sesekali aku melihat kursi yang ada di depanku. Aku seakan melihat bayangan si Murid Pindahan itu. Aku menggelengkan kepalaku. "Itu hanya khayalanku!"
Mungkin karena lelah, aku jadi berpikir yang aneh-aneh. Masih ada banyak sisa makanan yang belum kuhabiskan di piringku. Aku menaruhnya di dapur, lalu pergi ke kamarku. Sesaat ketika aku meraih tasku, terlihat sebuah kotak yang lumayan besar. Dan saat itu pula aku mengingat surat dari Ibu tentang temanku yang mengirimkan sesuatu.
Aku menggeser tasku, memilih untuk mengambil kotak itu terlebih dahulu. Bungkusannya susah dibuka. Aku mengambil pisau di dapur untuk membuka bungkusannya. Dan ketika kubuka... Aku sangat terkejut. Aku ingin teriak, tapi kutahan saja. Raut wajahku tak karuan.Kau ingin tau apa isi kotaknya? Baiklah, biar kuberitahu. Isinya adalah sebuah tengkorak dihiasi bunga mawar. Dan yang paling membuatku ngeri, ialah bola mata yang di taruh sepasang di depannya.
Aku menendangnya ke sudut lemari. Ckling! Notif pesan masuk dari handphone-ku. Aku mengambilnya di atas kasur. Ada banyak sekali pesan yang belum kubaca. Ternyata dari Randi. Aku membuka isi pesannya, di setiap kalimatnya aku merasakan kegelisahan yang dirasakannya. Dia menyinggung tentang dirinya yang diawasi seorang penguntit. Dan pesan terakhirnya...
"Dia tepat di depan jendela kamarku. Sekarang aku berada di sudut kamar. Orang tuaku sedang pergi keluar. Mukanya semakin jelas. Sungguh aku tak bercanda, cepatlah kemari jika kau membaca pesanku ini! Tunggu aku sepertinya mengen-" Isi pesan berakhir.
Kau tahu apa yang kupikirkan? Entahlah, aku tak ingin mempercayainya tapi, pikiranku selalu tertuju ke situ.Tengkorak yang kuterima, adalah tengkorak milik Randi.
Ada satu pesan yang belum kubaca, yaitu pesan dari Murid Pindahan.
"Bagaimana hadiahnya, kau suka? Indah bukan? Itu butuh usaha, tapi sekarang sudah terbayarkan. Lihat bola matanya yang indah. Bola mata yang selalu ingin menatapmu."
Aku membalas pesannya. Tapi ketika aku mau mengetikkan satu kata saja, isi pesan jadi error dan seperti biasa, isi pesannya hilang entah kemana.
Baca part 7 disini
Pengarang Cerita : Rian Yanuar
Facebook : Ashley Graham

0 Response to "Murid Pindahan | Part 6 | Hati yang hancur"
Post a Comment