-->

Murid Pindahan | Part 5 | Pertengahan Takdir


"Aku yang menang. Sekarang kau jawab. Apa tujuanmu?"

"Tujuanku? Pertanyaan yang bagus. Tapi, kau salah menanyakan sesuatu. Kau pikir kau tidak tahu tujuanku? Aku yakin kau sudah tahu apa yang kupikirkan. Yah paling tidak kau mengerti dasar dari tujuanku.Tapi tetap saja aku harus menjalankan kewajibanku untuk menjawb pertanyaanmu. Tujuanku adalah... Membunuh semua murid di sini."

Aku sedikit terkejut. Seperti yang dia bilang aku mungkin sudah tahu apa tujuannya. Apa aku terlalu gegabah? Aku hanya ingin memastikan. Tapi kurasa dia benar, harusnya kutanya alasannya.

Tunggu dulu. Apa aku harus menghentikannya?Bisakah aku? Bukannya ragu atau bagaimana. Aku belum mengerti alasannya, aku yakin dia punya alasan. Tidak! apapun alasannya, membunuh tetaplah hal yang salah!

"Kenapa kau diam saja? Kau terlihat bimbang. Santai saja, aku tak akan membunuhmu." Dia memegang pundakku. Aku melepaskannya lalu berteriak, " Kita main lagi! Dan kau harus menjawabnya ketika aku menang!"

"Kau berniat menghabisiku dalam permainan catur ini? Sudah jelas kau lebih unggul. Kau pikir aku akan menerimanya?"

Apa?!

"Kalau begitu, silakan pilih game yang kau inginkan!"

"Kau terlalu gegabah. Aku tak mengenali sifatmu yang seperti itu. Lagipula lihat jamnya." Dia menunjuk ke arah jam yang menunjukkan pukul 15:30. Waktu sekolah akan segera berakhir.

Aku mengerutkan dahiku. Memukul papan catur yang kuletakkan di atas meja. Semua murid yang ada di perpustakaan menatapku begitupun penjaga perpusnya. Aku langsung keluar dan menuju kelasku.

Entah apa yang kupikirkan. Aku sedikit lebih emosian hari ini.

Aku menggendong tas-ku dan tidak langsung pulang ke rumah. Aku mencari tempat yang tenang dan sejuk. Aku menemukan sebuah sungai yang letaknya tak jauh dari sekolah. Aku bersandar di tepian. Angin yang menerpa wajahku seakan ikut membawa semua beban pikiranku.

"Apa aku harus menghentikannya? Apa ini benar-benar keinginanku?" Kaian mungkin akan terheran dengan perkataanku. Tapi perlu kalian tahu, aku sangat membenci yang namanya manusia. Mereka mencemari hampir seluruh tempat yang ada di bumi. Mereka takut akan kematian, tapi mereka sendiri yang paling banyak membunuh makhluk lain. Entah itu sengaja atau tak sengaja, mereka tetap memasang muka seakan "Itu hal biasa yang dilakukan manusia normal." Aku sangat membenci raut wajahnya.

Mungkin terlalu berlebihan kalau aku bilang "membenci manusia." Aku sendiri manusia, begitupun orang tuaku. Ini juga merupakan hal yang aneh, ketika aku memikirkan sesuatu sampai seserius ini. Biasanya aku selalu berpikir "Aku tak peduli. Itu bukan urusanku."

Aku punya satu hal yang ingin kulindungi. Ibuku. Dan aku bisa menebak apa yang dia rasakan ketika aku meninggal. Kepedihan. Kehampaan. Penyesalan. Aku yakin semua 'Ibu' akan merasakan itu ketika kehilangan anaknya. Makanya aku berpikir dua kali. Ketika si Muri Pindahan membunuh banyak murid. Akan banyak seorang Ibu yang merasakan kepedihan. Aku tak ingin itu terjadi.

Tapi bisakah aku menghentikannya? Sedangkan, aku tak tau dia itu apa. Aku tak tau apa saja yang bisa dia lakukan. Hanya satu hal yang kutahu. Aku tak bisa meminta bantuan siapapun. Aku hanya ditemani tekadku, mentalku, dan semua yang bisa kugunakan untuk berpikir.

Setelah lama duduk di tepian, dan matahari sudah mulai terbenam. Aku ingin pulang ke rumah. Tapi aku merasakan ada yang berdiri di belakangku. Aku bisa merasakan wangi harumnya, seperti wangi ibuku. Dia memelukku lalu berbisik di telingaku, "Pejamkan matamu. Dan biarkan semua beban itu mengalir jauh." Hembusan nafasnya membuatku tenang.

"Sekarang buka matamu." Dia lalu melepaskan peluknya. Aku membuka mataku dan merasakan sebuah air mata yang mengalir jatuh melewati kedua pipiku. Aku juga melihat seorang perempuan berada tepat dihadapanku. Dia adalah ketua di kelasku. Kalau kau ingat cewek yang menertawakanku ketika aku di suruh berdiri di depan kelas, dialah orangnya.

"Apa yang sebenarnya kau ingin orang tau. Ucapkanlah."

Ini bukan kehendak otakku, melainkan hatiku. "Aku tak ingin kehilangan siapapun." Ketika aku mengatakan padanya, aku tahu bahwa mungkin esok atau lusa, aku juga akan kehilangan dirinya. Aku tak bisa melakukan hal yang lebih. Jika aku boleh memilih takdirku. Aku ingin menolong orang yang bisa kutolong bahkan walau orang yang bisa ku selamatkan hanya satu, aku tetap ingin melakukannya.

Dia berdiri lalu berjalan ke belakangku. "Aku tak tahu apa yang menjadi bebanmu. Dari pertama kau masuk ke kelas. Aku tahu, kau punya sorot mata sedih, kau ingin menangis tapi kau juga tak menginginkannya. Lalu sorot matamu berubah ketika kau bicara dengan anak dari kelas sebelah. Seakan kau sudah menemukan cahayamu. Tapi sekarang sorot matamu kembali seperti semula. Aku tak tahu mengapa. Aku hanya ingin kau agar tidak merasakan sakit. Kau tahu? Aku sering melihat sorot mata itu dari sahabatku, Maya. Dan aku tak ingin sorot mata itu ditunjukkan lagi oleh sahabatku yang lain."

Aku mendongak. Tersentak dengan perkataannya.

Baca part 6 disini

Pengarang Cerita : Rian Yanuar
Facebook : Ashley Graham

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Murid Pindahan | Part 5 | Pertengahan Takdir"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

;