Murid Pindahan | Part 4 | Arti sebuah kekalahan
Aku bergegas menuju lapangan basket. Tapi langkahku dicegah oleh cewek tadi. Tanganku ditarik. Lalu dia berkata, "Berjanjilah, kau akan berteman dengan kami. Untuk Maya juga untukku." Aku hanya menjawabnya dengan tersenyum, dan dia juga balik senyum padaku.
Di lapangan basket, dia sedang berdiskusi dengan pemain lain. Kenapa dia memakai jersey basket? Apa dia memintaku bermain basket? Ya, itu cukup masuk akal. Tapi aku tak ada kesempatan menang, aku cupu dalam olahraga.
"Lihat, dia sudah datang," Tunjuknya mengarah padaku.
"Dia? Aku tak pernah melihatnya sebelumnya," ujar laki-laki di sebelahnya.
"Ini, pakailah," dia lalu melemparkan jersey basket berwarna merah padaku.
Tak berpikir lagi, aku langsung ke ruang ganti.
Ketika sedang memakai jersey-ku. Seseorang membuka pintu ruang ganti.
"Jangan khawatir. Jika kau menang, kau bisa mengetahui satu hal. Dan jika kau kalah, kau tetap mengetahui hadiahnya. Kau belum mengerti kan, hadiah apa yang kusiapkan untukmu jika kau kalah?"
"..." Aku hanya mendengarkannya tanpa menjawab.
"Hadiahnya cuma satu-"
"Kupikir kau tidak mau bicara jika aku belum menang. Yah terserahlah." Aku meninggalkan ruang ganti, dan langsung menuju lapangan basket.
Kesempatan menangku 50%. Tergantung bagaimana aku memposisikan diriku. Jika aku ragu untuk memasukkan bola, aku hanya perlu mengumpan, merebut dan jangan biarkan musuh mendapatkan satu poin pun. Lagi pula dia tak bilang kalau gamenya menang dari poin perseorangan. Tak peduli jika aku tak memasukkan poin ataupun dia mendapatkan lebih banyak dariku. Aku cukup mengandalkan tim-ku.
Ah, tunggu dulu. Rasanya, aku tak pernah merasa bersemangat seperti ini ketika olahraga. Jujur saja, aku merasa lebih hidup di sekolah ini. Tidak, aku merasa lebih hidup karenanya.
Biasanya aku akan gemetar jika berdiri dilapangan. Tapi entah kenapa, kali ini aku tidak merasakannya. Mungkin aku terlalu fokus untuk menang.
Babak pertama, tim-ku mendapat 8 poin dan tim lawan mendapat 10.
Babak kedua, tim-ku 11 dan tim lawan 8.
Babak ketiga, tim-ku 9 dan tim lawan 10.
Babak keempat, mendapatkan poin seri yaitu 10-10. Dan aku tak menyangka aku mencetak 1 poin di babak ini. Tapi hasil seri, membuatku harus bermain 5 menit lagi, tapi tubuhku sudah kelelahan. Dan pertandingan di menit tambahan di akhiri dengan skor 10-11. Dan dengan skor akhir 38-39. Itu pertandingan yang cukup sengit.
Di akhir pertandingan aku mengetahui kalau aku kalah, itu juga yang membuatku terlihat mengawasi ruangan sekitar lapangan basket ini. Keringat yang membasahi tubuh juga rasa lelah yang tak terbendung, membuatku ingin pergi ke kantin untuk membeli minum.
Suara teriakkan dari belakang menghentikan langkahku. Aku langsung menengok dan kulihat satu pemain lawan terkapar dengan darah yang memenuhi dahinya. Semua orang berteriak dan mengerumuni orang yang terkapar itu.
Murid Pindahan membisikkan sesuatu sambil pergi meninggalkan lapangan. "Sekarang kau tahu hadiahnya, kan?" katanya. Aku diam terpaku di tengah-tengah lapangan, sedangkan orang-orang menggotong tubuh orang itu dan membawanya ke UKS.
Pat! Punggungku ditepuk dari belakang. Ternyata teman setim-ku.
"Ini, minumlah." Dia memberiku sebotol air putih dingin. Aku hanya memeganginya tanpa meminumnya.
"Pasti berat, mendapatkan pengalaman seperti itu di pertandingan pertamamu, kan?"
"Bagaimana kau tahu, ini pertandingan pertamaku?"
"Terlihat dari caramu bermain. Tapi aku tak menyangka kau bisa mencetak 1 poin," ujarnya sambil tersenyum bangga.
"Apa yang terjadi... Dengan orang tadi?"
"Aku juga tak tahu, dia tiba-tiba membenturkan kepalanya ke tiang ring basket. Dia tak punya alasan untuk melakukan itu. Rasanya akhir-akhir ini banyak sekali kejadian aneh yang meninmpa murid-murid disini. Kau juga harus hati-hati. Mungkin rasa depresi sekecil apapun bisa saja membuatmu melakukan hal yang tak kau inginkan."
"Apa kejadian ini pernah terjadi sebelum-sebelumnya?"
"Kurasa tidak. Ah, aku harus menjenguk dia di UKS, kau mau ikut?"
"Tidak, terima kasih. Aku akan menjenguknya kapan-kapan."
"Ah, baiklah. Kalau begitu sampai jumpa. Oh oya, aku berharap kita bisa bertanding lagi, tapi selanjutnya aku akan jadi lawanmu." Aku menjawabnya dengan tersenyum. Aku pikir aku tak akan mau main lagi.
Di kantin, aku duduk dengan Randi. Dia banyak menceritakan tentang si Murid Pindahan. Itu karena mereka berada di kelas yang sama. Entah kenapa, ketika dia membicarakan tentang si murid baru, aku merasa seperti dia sedang membicarakanku. Lalu pembicaraan disambung dengan kabar duka tentang pemain basket tadi. Dia meninggal.
Satu kesimpulanku. Si murid pindahan akan membunuh 1 murid secara acak setiap kali aku kalah, tidak, mungkin dia memilihnya tergantung situasi. Mengingat dia ingin memeberikan sesuatu yang menarik di game ini. Kematian seseorang yang baru kau temui akan menjadi hal yabg paling mengganjal di hatimu. Contohnya kau bertemu dengan sesorang di stasiun, kau berbicara dengannya pasal pekerjaan yang akan dia lamar. Lalu tiba-tiba dia menjatuhkan dirinya ke rel kereta yang dan membuatnya terlindas. Kau pasti berpikir, apa yang membuatnya melakukan hal itu? Dari hal ini, aku menyimpulkan hal 'menarik' bagi si Murid Pindahan adlah melihat lawan bermainnya kebingungan dan semakin penasaran dengan permainan yang dia ikuti.
Jam terakhir adalah jam kosong. Sebuah kebetulan jam kosong di kelasku dan kelas Randi. Aku mengisi waktu luang dengan bermain catur di perpustakaan dan mengajak si Murid Pindahan. Disini persenannya kemenangannya besar. Aku sudah terbiasa menang ketika bermain catur. Aku juga sempat berpikir apakah si penjaga perpus akan mati jika aku kalah? Atau murid lain yang ada di sini? Yang jelas kali ini aku melakukan skakmat.
Aku menang. Aku akan menanyakan apa tujuan dia membunuh orang.
Baca part 5 disini
Pengarang Cerita : Rian Yanuar
Facebook : Ashley Graham

0 Response to "Murid Pindahan | Part 4 | Arti sebuah kekalahan"
Post a Comment