-->

Murid Pindahan | Part 3 | Sebuah kontrak yang mengikat


Clak! setetes coklat panas jatus kelantai. Aku terlalu ceroboh, harusnya kutunggu sampai dingin baru kuminum. Aku menaruh kembali gelasku di samping keyboard yang sudah berdebu. Jariku mulai mengetikkan sesuatu di kolom pencarian google. Dan pada akhirnya tertuju ke situs media sosial.

Seperti yang kuduga, dia mengerimiku pesan lagi.
"Besok kita akan main apa?"

"Bagaimana kalau sekarang saja kita mulai gamenya." Aku mengajaknya bermain sebuah game online casual. Pikirku aku akan mendapatkan sesuatu jika aku menang. Tapi aku masih kepikiran, apa yang akan terjadi jika aku kalah?

"Baiklah kita main apa?"

"Kita akan bermain game online. Jika aku membunuh lebih banyak darimu, aku menang. Dan sebaliknya, jika kau lebih banyak membunuh, kau yang menang."

***

Sekitar 20 menit berlalu. Dan skor akhirnya adalah. Aku mendapatkan 34 kill dan dia 37. Aku tak menyangka dia bisa mengalahkanku di game online. Itu membuatku semakin penasaran sekaligus tertarik.

"Baiklah. Aku kalah. Jadi, apa yang akan ku dapatkan dari kekalah ini?"

"Hmmm... Kau akan melihatnya besok. Sampai jumpa."

Seperti biasa sebuah chat singkat yang membuatku penasaran. Aku ini sebenarnya melangkah ke arah mana?

***

Di kelas. Suasana yang ramai membuatku tak bisa tenang. Aku menyandarkan pipiku di tas yang kutaruh di meja. Tidur terlalu malam-lah yang membuatku terlelap. Walau di kerumunan murid yang sedang ribut berdiskusi, pasal ulangan tengah semester yang akan diadakan minggu depan.

"Hei, hei! Bangun." Seseorang berbisik di telingaku. Aku tak menghiraukannya sampai guru datang menghampiriku.

Plak! Penggaris meluncur dahsyat dipipiku, membuat garis merah menyakitkan.

"Aduh..." Aku memegangi pipiku yang terasa sakit. Dan berdiri di depan semua murid. Ini terasa memalukan. Di samping tempat dudukku, aku melihat cewek menatapku sambil menahan tawanya.

Bell yang kutunggu-tunggu pun akhirnya berbunyi. Aku terlepas dari siksa malu-ku. Oh yaampun, aku tak mau mengingatnya lagi. Itu benar-benar membuatku malu, harus berdiri di hadapan semua murid dan menjelaskan pelajaran yang tak kumengerti. Apa lagi, ada satu cewek yang menertawaiku. Tunggu... Inikah hukuman kekalahanku?

Aku duduk di pojokkan kantin, dan membaca cerpen seperti biasanya. Ketika sedang asyik membaca, cerpenku ditarik.

"Hei apa apaan i... ni" Aku terkejut melihat cewek yang menertawakanku berdiri di hadapanku.

"Apa?"

"Apa, katamu? Itukah yang kau ucapkan ketika bicara dengan perempuan?" Oh yaampun, perempuan memang selalu rumit. Lebih baik kuhindari saja situasi ini.

"Dengar ya. Jika kau tak suka, jangan bicara padaku. Dan berikan buku itu padaku."

"Aku akan mengembalikannya jika kau mau menjawab satu pertanyaanku ini."

"Baiklah. Terserah."

"Apa kau kenal dengan Maya?"

"Tidak. Sekarang kemarikan bukunnya."

"Sudah kuduga."

"Hei. Apa maksudmu 'sudah kuduga'? Kemarikan bukunya."

"Apa kau tau kalau dia bunuh diri?" Aku sempat terpaku. Aku mencoba berpikir dua kali. Memutar otakku. Situasi apa lagi ini?

"Apa... Apa maksudmu memberitahuku hal itu?"

"Maya adalah teman sekelasmu! Dia selalu berbicara tentangmu setiap kali kau tidak di kelas. Dan kau bahkan tak mengingat namanya? Sekarang aku bertanya sekali lagi. Apa kau bagian dari kelas kami?!" Aku tak mengerti apa yang membuatnya bicara dengan nada tinggi di hadapanku. Aku menundukkan kepalaku. Bukan karena menyesali sesuatu. Tetapi aku ingin tahu, dimana sekarang aku berpijak.

"Kemarin dia berencana akan menembakmu hari ini. Dan sekarang dia sudah tiada. Kau tau, Maya adalah sahabatku. Dan kuingin dia bahagaia bahkan di hari terakhirnya! Satu hal yang kuinginkan darimu. Aku ingin kau mengingat kami." Dia memelukku. Terisak. Aku tak tahu situasi macam apa ini. Dia menertawakanku. Dia membangunkanku ketika aku tidur di am pelajaran. Dia memarahiku karena aku menjadi bagian buruk dari sahabatnya. Dan sekarang, dia bersandar padaku.

"Kau ingin tahu... kenapa aku tertawa ketika kau di hukum?"

"..."

"Maya bilang padaku. 'Jika aku tak bisa membuat orang itu menegok ke arahku dengan berbuat baik kepadanya, maka aku tak keberatan dibenci olehnya agar dia menatapku. Cuma agar kami saling berhadapan'." Lagi-lagi, aku tak bisa bicara apa-apa. Sebenarnya apa yang membuatku berada di sekolah ini. Takdir apa yang membawaku ke sini?

Ckling! notif pesan masuk dari handphone-ku. Aku membuka pesannya. Ternyata si murid pindahan itu.

"Bagaimana hadiah kekalahannya? Kau suka? Aku memilih orang ang tepat untukmu."

"Aku yakin kau pasti punya banyak pertanyaan lagi, kan? Kemarilah. Aku berada di lapangan basket. Mari kita mulai game selanjutnya."

Aku punya perasaan tak enak. Aku harus memenagkannya kali ini.

Baca part 4 disini

Pengarang Cerita : Rian Yanuar
Facebook : Ashley Graham

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Murid Pindahan | Part 3 | Sebuah kontrak yang mengikat"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

;