-->

Murid Pindahan | Part 2 | Bermain Game


Aku hanya terbaring dikasurku selama 3 hari terakhir. Sekolah diliburkan untuk melakukan investigasi. Dan besok aku sudah harus mulai berangkat lagi.

Sesekali aku berjelajah di media sosial hanya untuk menghilangkan rasa jenuh, ditemani secangkir coklat panas buatan ibuku.

Ckling! aku masih menghiraukan notif pesan yang entah dari siapa. Kulanjutkan meminum coklat yang sudah terasa hangat sambil mendengarkan musik yang kudengarkan lewat headset.

Setelah merasa sedikit lebih santai, kubuka kembali media sosial-ku dan kulihat isi pesan masuk tadi.

"Hallo, bagaimana kabarmu?" Sebuah pesan dari akun mencurigakan, terlihat jelas dari namanya "Murid Pindahan". Tunggu dulu, murid pindahan? Apa ini kesempatanku untuk mencari tahu? Tapi dari kejadian 3 hari lalu, seharusnya tak pantas untuk coba-coba. Bagaimana kalau ini berbahaya?

Ckling!

"Kau tak mau membalas pesanku? Aku yakin kau pasti sudah mengenaliku. Tak apa, sudah kubilang sebelumnya kalau aku tak akan menyakitimu, jadi santai saja."

Dengan ragu, ku membalas pesannya, "Apa maumu?"

"Oh, sudah kuduga kau orang menarik. Aku hanya ingin bermain game."

"Game? Apa maksudmu?"

"Temui aku besok di atap sekolah."
Pesan pun berakhir. Aku mencoba membuka profilnya namun selalu error. Dan isi pesannya... menghilang.

Esok hari di beranda rumah. Sungguh, aku masih terpikir, apakah aku harus berangkat sekolah? Bagaimana kalau terjadi sesuatu lagi? Tapi kutepis semua keraguan itu dan berpikir kalau mungkin lebih baik mati sambil mengetahui rahasianya daripada hidup tanpa tahu apa-apa.

Aku telah melewati gerbang masuk sekolah, menaiki tangga sebelah barat, dan disibelah kananku lewat tiga kelas, tertulis nama kelasku. Aku membuka pintu dan langsung menuju tempat duduku. Tak ada yang menghiraukanku tentu saja, aku juga murid pindahan sebulan yang lalu. Dan temanku yang pertama dan satu-satunya disini adalah Randi.

Aku hanya fokus ke cerpen yang kubaca. Dan tanpa sadar, aku menantikan si murid pindahan itu.

Sekitar 3 jam berlalu, aku tak belajar apa-apa hari ini. Entahlah, maksudku, otakku hanya terpikir satu hal yaitu si murid pindahan.

Bell berbunyi dan aku meninggalkan tempat dudukku untuk sekedar membeli jajan di kantin. Setelah selesai membeli jajanan, aku berniat kembali ke kelasku. Tapi, kuurungkan niatku setelah melihat Randi melambai-lambaikan tangannya ke arahku.

"Kau terlihat kurang semangat hari ini," ujar Randi.
Aku duduk di depannya, "Kupikir aku selalu terlihat seperti itu sejak pertama kali."
"Ya kau ada benarnya juga," Randi terkekeh.
Sebelum dia melanjutkan pembicaraannya dia terlihat lebih mementingkan minumannya ketimbang bicara denganku. Buktinya, dia menyedot habis jus mangga yang tadi masih penuh.
"Ahh, ini benar-benar segar. Kau mau? Aku yang traktir."
"Tidak, terima kasih. Jadi, kau memanggilku hanya untuk pesta minum?"
"Ah iya, maaf-maaf. Aku jadi lupa topik utamanya."
"Oh yaampun. Terdengar seperti benar-benar dirimu"
"Begini, selama sebulan kau tampak selalu sendirian. Jadi, alangkah baiknya kau mencari teman seperti yang lain-"
"Terima kasih sarannya, tapi aku tak butuh." Aku berdiri dari tempat dudukku dan kembali menuju kelas. Aku memang lebih memilih menghabiskan waktuku membaca cerpen atau novel daripada bertukar kalimat dengan orang lain.

Setelah agak jauh dari kantin, Randi meneriakkan sesuatu. "Di atap sekolah, ada anak baru yang menunggumu. Kuyakin kau akan akrab dengannya, jadi sapalah dia!"

Setelah mendengarnya, aku langsung menaikki tangga menuju atap. Kubuka pintu dan kulihat seseorang sedang bertumpu di depan sana. Aku menghampirinya. Dia berbalik badan. Dan benar saja, aku mengenali mukanya. Dia adalah si murid pindahan itu.

"Apa maksudnya ini? Jelas-jelas aku melihatmu menusukkan pisau ke tenggorokkanmu sendiri. Bgaimana bisa kau masih hidup, dan segar bugar seperti sekarang?"

"Maaf saja, aku tak berniat untuk menjelaskan apapun sekarang."

"Jadi, apa maumu?"

"Seperti yang kubilang kemarin. Aku ingin kau bermain game denganku."

"Bagaimana jika aku menolak?"

"Hmmm... Mungkin akan ada sesuatu yang membuatmu menyesal karena telah memilih untuk tidak bermain denganku. Dan itu juga membuatku sedih. Kau tau, aku sama sepertimu, tak punya teman. Tapi kurasa ada sebuah kecocokkan dari kita untuk menjalin pertemanan melalui sebuah game. Aku juga memberikan hal yang menarik yang akan membuatmu ikut bermain game denganku."

"Apa itu?"

"Jika kau menang, kau bisa melemparkan satu pertanyaan padaku, apa saja. Dan aku janji akan menjawabnya dengan jujur."

"Cukup adil. Baiklah, apa permainannya?" Yang benar saja, aku menerima permintaaannya? Tapi kalau aku menolak, pasti akan ada hal buruk lagi.

"Kau lihat orang yang menggiring bola di sana?" Dia menunjuk ke arah sekolompok orang yang sedang bermain bola di lapangan.

"Menurutmu, kau bisa menebak, apakah dia berhasil mencetak gol atau tidak?"

Yang kutahu, dia menunjuk Aldi. Aku memang buruk dalam pertemanan, tapi daya ingatku lumayan tinggi lho.

"Menurutku dia akan mencetak gol" Aku hanya memperhatikan murid pindahan itu, apakah dia akan menggunakan sihirnya atau tidak. Itu juga kalau dia pengguna sihir tapi tak ada genre fantasy sih, jadi dia tidak mungkin memeakai sihir.

"Ah, kau menang. Dia mencetak sebuah gol."

"Apa?!" Aku terkejut karena bisa menang dengan semudah itu.

"Jadi, aku menang?"

"Ya, kau bebas bertanya apa saja padaku." Baiklah, aku harus memikirkannya baik-baik. Mungkin kutanya maksudnya dulu.

"Apa tujuanmu bermain game dan mengajakku?"

"Itu terhitung 2. Aku hanya akan menjawab tujuanku saja."

"Apa? kau licik sekali!"

"Oh, lihat pertikaian pertama kita. Kita nampak semakin akrab saja." Yaampun, dia mengatakan hal yang menjijikkan.

"Tujuanku tidak lain dan tidak bukan adalah untuk membunuh semua murid di sekolah ini."

"Apa? Itu tak masuk akal. Aku bahkan tak tau apa kau ini sebenarnya."

"Kau bisa menanyakannya jika kau menang di pertandingan berikutnya. Untuk hari ini, sampai sini saja." Dia berjalan menuju pintu menuruni tangga, aku sempat bertanya apa yang akan terjadi jika aku kalah. Tapi, seperti peraturrannya, dia tak akan menjawab jika aku tak menang.

Bell berbunyi. Menandakan waktu istirahat telah selesai. Dan aku harus masuk ke kelasku lagi.

Baca part 3 disini

Pengarang Cerita : Rian Yanuar
Facebook : Ashley Graham

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Murid Pindahan | Part 2 | Bermain Game"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

;