Sweet But Psyco | Part 1 | I Kill My Friend
Lily bukanlah setangkai bunga yang bisa dimiliki siapa pun. Lily, hanyalah seorang gadis dingin yang sangat rahasia bahkan tertutup. Wajahnya sangat cantik dengan bola mata sehitam obsidian, pipinya tirus dengan kedua lesung pipi menghiasi. Dia itu manis, bahkan orang-orang terdekatnya memiliki julukan spesial untuk Lily.
Lily is Sugar Castle (Lily adalah istana gula)
Kehidupan Lily sebenarnya sangat sederhana. Pagi sampai siang, dia sekolah. Sementara pulangnya, dia akan menghabiskan waktu bersama Naura dan Leoni yang merupakan teman terdekat Lily. Jika sore sudah datang, Lily akan memasak untuk Ayah, Ibu, dan Adiknya yang selalu sibuk. Malam hari, Lily makan bersama dan bercanda gurau kemudian tidur.
Namun siapa sangka, kehidupan Lily yang sederhana itu, sebenarnya ada keinginan Lily untuk merubahnya. Lily ingin membuat takdirnya sendiri dengan keluar dari zona membosankan yang ia alami selama bertahun-tahun. Kepribadian Lily yang tertutup, membuat orang-orang disekitarnya tidak tahu kalau Lily adalah seorang psikopat berwajah manis dan menggemaskan.
Membunuh adalah obsesi Lily, dia ingin mencoba melakukannya kepada orang terdekat dan menulis takdirnya sebagai seorang pembunuh. Dan, Lily akan melakukannya mulai hari ini kepada salah satu temannya yang bernama Leoni.
Saat ini, Lily dan Leoni sedang menonton drama korea di kamar Lily. Air mata bercucuran dari kedua mata Leoni ketika melihat ending film yang sangat menyesakkan dada. Leoni menghapusnya dengan tisu, terus mengumpat karena kesal kepada film yang baru saja mereka tonton.
"Sebel. Masa endingnya kayak gitu coba? Coba aja kalau si ceweknya dapet donor mata, dia pasti bisa lihat terus gak bakalan ditinggal nikah," celotehnya dengan bibir mencebik dan hidung memerah karena habis menangis.
Sebaliknya dengan Lily, dia malah biasa saja menonton film satu setengah jam itu, Lily sama sekali tidak tertarik untuk menangisinya. Lily mengambil pisang keju yang tadi dia buat sebelum film di mulai. Pisang keju yang sudah agak dingin itu, Lily tusuk dengan garfu kemudian memakannya.
"Kok kamu malah enak-enakan makan, sih? Gak kesel apa sama film barusan? Ish!" Leoni kembali mengumpat.
"Terus maunya gimana? Kalau emang endingnya begitu, ya gimana lagi," ucap Lily.
"Kalau aku punya kesempatan, rasanya pengen donorin nih mata ke pemeran si cewek, kasihan dia harus buta permanent," rengek Leoni.
"Jadi, kamu mau donorin mata ke si ceweknya?" tanya Lily.
"Iya! Abisnya kesel banget aku."
"Yaudah, donorin aja. Sini, biar aku bantu," ujar Lily kemudian menusukkan garfu di tangannya ke mata Leoni.
Leoni berteriak, merasakan saraf-saraf matanya terpisah dan kemudian tercabut keluar dengan garfu milik Lily. Leoni terus berteriak histeris, menatap satu matanya berada di tangan Lily.
Lily menyimpan mata Leoni di meja, kembali mendekatkan garfu untuk mencabut satu matanya lagi. Leoni mundur dengan badan bergetar, dia mencari benda untuk melawan Lily namun tidak ada benda kuat atau pun tajam yang bisa ia gunakan.
"Lily, kamu kenapa? Lily.... Sadar Lily...."
Lily semakin mendekati Leoni yang kini terpojok di lemari baju, dia menusukkan garfu ke mata Leoni yang satunya kemudian mencongkelnya hingga terlepas. Leoni histeris, dia tidak dapat melihat apa-apa lagi setelah kedua matanya berada di tangan Lily.
Lily mendekat dan berbisik, "Selamat! Kamu sudah mendonorkan mata untuk si cewek,"
Lily kemudian mencekik Leoni dengan keras, membuat napasnya tercekat dengan mulut terbuka. Wajah Leoni lama-kelamaan membiru, kemudian tewas di tangan temannya sendiri.
Baca Part 2 disini
Pengarang Cerita : Bambieta Adora
Facebook : Bambieta Adora

0 Response to "Sweet But Psyco | Part 1 | I Kill My Friend"
Post a Comment