-->

Murid Pindahan | Part 1 | Anak Nakal


"Kringgg" bunyi bel menandakkan pulang sekolah.


Aku sebenarnya tak mau pulang lewat jalan ini. Aku juga tak mau mengorbankan kakiku untuk memutar melalui jalan yang jauh hanya untuk menghindari pemandangan ini.

Sudah seminggu sejak murid pindahan itu masuk. Di hari pertama dia selalu dijahili oleh 3 anak nakal dari kelasku. Aku bukan hanya melihatnya sesekali melainkan tiap hari lewat jalan pulang-ku satu-satunya. Dan hari ini seperti biasa, aku berjalan ke arahnya, dari jauh aku melihatnya sedang dipukuli.
"Tolongg... tolong, kumohon."
langkahku terhenti. Aku memang merasa kasihan. tapi apa aku harus berkorban untuknya? Kalau kupikir lagi, aku masih bisa menyaingi mereka kalau satu lawan satu, tapi aku tak yakin kalau mereka mau main bersih.
Anak itu mulai terkapar. Mukanya dipenuhi memar. Melihatnya saja sudah tidak enak apalagi merasakannya. Aku melanjutkan langkahku pulang ke rumah.

Di hari berikutnya. Aku harus mempercepat langkahku karena sudah terlambat.

Hanya beberapa langkah lagi menuju sekolahku. Brakk! seseorang menabrakku dari arah kiri.
"Maafkan aku, aku sedang buru-buru, aku jadi tak melihatmu."
Ada perasaan aneh ketika melihat muka anak itu. Jelas-jelas dia adalah murid pindahan kemarin. Dan jelas-jelas aku melihat wajahnya dihajar sampai babak belur. Tapi tak ada bekas memar atau luka diwajahnya. Kurasa luka yang dia dapatkan kemarin tak akan hilang secepat itu, apalagi luka dihatinya yang kupikir tak akan membuatnya kembali lagi ke sekolah ini.
"Ada apa? Apa ada yang aneh denganku?"
"..." Aku terlalu bingung sampai tak mendengar perkataannya.
Dia mengulurkan tangannya.
"Aku bisa bangun sendiri."
Kurasa dia aneh sekali, memasang raut wajah seperti anak-anak sekolah pada umumnya. Aku yang hanya melihatnya saja merasa sedikit terganggu. Tapi dia yang mengalaminya, melewati setiap detiknya seakan tak pernah terjadi apa-apa di dirinya.

Beberapa menit berlalu. Aku yang sedari tadi memegang tanganku yang terkilir sebab jatuh tadi membuat anak itu mengulangi perkataan yang sama sepanjang jalan.

"Kau benar-benar tak apa-apa?"
"Bisakah kau diam, tanganku hanya terkilir dan itu bukan masalah besar."
"Maaf, itu karena kau tak menjawab pertanyaanku sebelumnya."
"Ya," desahku
"Kalau kau mau aku bisa menyembuhkanmu-"
"Ah, sialan. Aku terlambat."
Gerbang masuk sekolah sudah tertutup rapat.

Aku tak tahu berapa jam aku berdiri di depan tiang bendera. Yang kutahu aku akan pingsan dalam hitunan detik.

Aku mendengar suara langkah kaki dari belakang. Langkah kakinya semakin cepat dan bertambah keras, setiap langkahnya membuatku penasaran ingin menengok ke belakang. Ditambah suara ricuh entah meributkan apa. Aku sudah tak bisa menahan tubuhku.
Brug!... aku masih mendengar suara kericuhan tadi dan semakin ramai saja. Tepat dibelakangku- tunggu? apa aku masih berdiri? Aku tak bisa melihat dengan jelas, tapi kurasa aku masih berdiri menghadap tiang bendera yang kulihat samar-samar.

Aku membuka mataku. Aku melihat sekitar banyak sekali obat dan kotak P3K. Aku dibawa ke UKS. Apa aku pingsan? entahlah aku merasa sangat pusing hari ini.

Suara ricuh tadi masih terdengar itu artinya aku pingsan cuman beberapa menit. Aku melihat ke lendela. Sebuah mobil polisi dan ambulan terparkir di lapangan tempatku berdiri tadi. Apa yang mereka lakukan disini? setelah begitu lama aku menatap ke luar jendela, pintu UKS terbuka. Ternyata si murid pindahan.

"Kau tidur nyenyak? Ah, kurasa tidak. Bagaimana kau bisa tidur kalau ada ribut-ribut dan suara sirine mobil yang menganggumu." Aku tak tahu apa yang dia bicarakan. Dia membuka laci tempat simpan gunting dan benda tajam lainnya, lalu mengambil sebilah pisau.

"Mau apa kau dengan pisau itu?"
"Apa? kau takut? tenang saja aku tak berniat melukaimu. Yah, kalau saja kau mau menolongku kemarin."
"Hei singkirkan pisau itu dari mukaku. Jangan macam-macam denganku!"
"Lucu sekali. Mengancam sambil menunjukkan raut wajah yang ketakutan setengah mati? Kau ini... benar benar pengecut!"
Crasss!
Lantai dipenuhi darah. Aku terpaku melihat dia yang tergeletak setelah menggorok lehernya sendiri. Itu membuatku syok dan pingsan untuk beberapa jam.

Aku membuka mataku. Aku tergeletak di lantai UKS selama berjam-jam. Aku baru ingat, dimana jasad anak itu? hilang? tak ada bekas darah apapun disini. Apa tadi itu cuma mimpi? tapi lacinya terbuka.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Desahku sambil membuka pintu UKS. Di lapangan aku melihat siswa-siswi sedang berbaris. Tanpa pikir panjang aku segera ikut berbaris di sana.
"Kemana saja kau? cepat kesini." Randi memanggilku, dan aku pun mempercepat langkahku.
"Ada apa ini?"
"Apa? Kau bahkan tak tahu kalau Restu baru saja bunuh diri?"
"Apa?!" Aku kaget mendengar ucapan Randi. Restu, salah satu orang yang kemarin menjahili si anak baru.
"Kau yakin? memangnya apa yang membuat dia bunuh diri?"
"Entahlah aku juga tak mengerti alasannya. Tapi aku tau dia loncat dari lantai 3. Kau sendiri teman sekelasnya kan? memangnya kau tidak tau alasannya kenapa?"
"Aku tak tahu, aku hanya melihatnya dengan dua temannya kemarin sedang menjahili anak baru dari kelasku."
"Anak baru? Kamu ini ngelantur! sejak kapan ada anak baru disini?"
"Hah?! kau tidak tau?"
"Bukannya tidak tau, tapi memang tidak ada anak baru disini. Kamu aja yang ngelantur!"
"Loh kok jelas jelas di UKS-" Tunggu dulu... jasad anak baru itu tidak ada. Dan sekarang Randi ngotot bilang kalau tidak ada anak baru disini.
"Aaaaaaaaa!" Tiba-tiba semua jadi ricuh dan murid-murid berlarian panik. Aku melihat dua temannya Restu ikut berdiri di atas pembatas di lantai tiga. Dan mereka berdua mulai menjatuhkan dirinya ke bawah. Seketika badanku gemetar. sebuah tanda tanya besar memenuhi isi kepalaku.

"Sebenarnya apa yang terjadi hari ini?"

Gambar mungkin berisi: 2 orang

Baca part 2 disini


Pengarang Cerita : Rian Yanuar

Facebook : Ashley Graham

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Response to "Murid Pindahan | Part 1 | Anak Nakal"

  1. Aku suka saat membaca ini seperti nyata gitu, namun aku tau ini adalah cerita yang dibuat pengarang. Jalan ceritanya masih banyak hehe apalagi ada Artikel Baru dari anda

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

;