Jerat Kematian | Part 9
Aku tidak menyangka kalau masalah ini akan berkembang ke arah sini, kupikir akan terus sendirian dalam kebingungan dan hanya bisa meratapi orang-orang yang terbunuh atas tindakan yang tak kusadari letak salahnya di mana.
Namun, kini aku berdiri di depan mereka, empat sosok ber-hoodie yang tak terpengaruh saat terjadi penghentian waktu di kantin sekolah siang tadi.
Suasana belakang sekolah terasa sunyi karena semua siswa berada dalam kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran. Entah kekuatan apa yang dimiliki salah satu dari mereka sehingga mampu men-teleport diriku yang sedang terkantuk-kantuk mendengarkan penjelasan pelajaran dari Bu Hilma sehingga bisa berada di sini.
Satu persatu dari mereka membuka hoodie dan betapa terkejutnya saat melihat pahatan wajah sempurna mereka, wajah yang tak asing dari perbincangan seluruh siswa atas keistimewaan mereka.
"Kamu Zakito si Playboy itu, kan? Kabarnya kamu pindah sekolah setelah rumor itu, ternyata bersembunyi di balik hoodie? Ah, yang benar saja, makanya tadi pagi aku seperti mengenali suaramu."
Zaki berdecak, membuang muka dengan bergumam 'astaga' seraya mengangkat tangan hendak menamparku yang segera ditahan oleh Ryan.
"Dan kamu, bukannya model yang sedang naik daun itu? Kabarnya jarang masuk karena sibuk pemotretan? Kok bisa-bisanya bergabung–"
Dengan geng aneh ini? Kutelan saliva untuk mencegah kata-kata itu meluncur dari mulut. Aku sedang tidak ingin menambah musuh untuk saat ini.
Putra hanya menggaruk tengkuk dan tersenyum bosan, memainkan rambut cokelat kemerahannya yang terlihat sangat pas menghiasi wajah putih lonjongnya, ditambah satu tindik di telinga yang menyempurnakan penampilannya.
Aura model memang beda sekali dengan siswa biasa, tiba-tiba saja aku merasa minder berkumpul dengan anak-anak sempurna ini.
"Dia terlalu banyak bicara, ya kan?" desah Ryu, cewek mungil cantik dengan mata bulat seperti boneka. Siapapun yang melihat dia pasti akan langsung jatuh cinta, membuat cewek seperti diriku semakin minder saja.
Segera kututup mulut dan bergumam kata maaf agar tak menyinggung, yang dijawab desahan sinis dari mereka.
Dari hawanya saja aku tahu, mereka bertiga terpaksa membawaku kemari. Hanya Ryan yang tampak tenang diantara mereka, menatapku tanpa kata. Sosoknya ini mengingatkan pada seorang cowok dingin yang duduk di belakang kursiku dan tidak masuk hari ini
Bedanya, Ryan terlihat lebih hangat dan bersahabat. Meski dalam hal ketampanan, Rion lebih–
Ya Ampun, kenapa malah sibuk sendiri menganalisa mereka? Kutatap mereka berempat yang tampak sangat terganggu dengan kehadiranku.
Ugh, aku tidak suka situasi seperti ini!
"Jadi, ada perlu apa?" Suaraku kubuat sedingin mungkin.
"Bagaimana kalo langsung saja kasih tahu apa tugasnya dan kita berpencar melakukan tugas masing-masing?"
Zaki yang terlihat paling anti denganku membuka mulut dengan tak sabar, ucapannya itu mendapat anggukan dari Putra. Jelas sekali dia mengabaikan pertanyaanku barusan.
"Tugas? Tugas apa?" Aku membeo dengan raut bingung.
"Ah, inilah kenapa aku benci orang awam.
Ryan, segera beri tahu, waktu kita cuma tinggal dua puluh lima menit."
Oke, si Ryu ini, bibirnya memang mungil, tapi siapa yang menyangka kalau kata-katanya bisa begitu pedas. Menyebalkan. Memang apakah itu salahku kalau tidak memahami pembicaraan mereka?
Lama-lama kesal juga terus dianggap tak mengerti tapi selalu disalahkan, tidak tahu apa kalau si April ini bukan cewek yang mudah ditaklukkan? Rion saja sampai menyerah menolong! Lihat saja, akan kubuat kalian semua kesal!
"April, kamu harus melakukan sesuatu untuk mencegah sebuah musibah besar terjadi." Ryan memulai dengan wajah serius yang mendapat anggukan dari geng-nya.
"Nggak mau."
Kusedekapkan tangan di dada dengan ekspresi keras kepala sebelum Ryan menyelesaikan apapun itu ucapannya.
Serentak empat wajah itu menatap tajam, emosi dan kemarahan menghiasi raut mereka.
"Hey! Berhenti jadi pembunuh! Kamu pikir kami melakukan ini semua demi siapa?!" Zaki seperti sudah mau meledak, dia maju selangkah hendak mendorongku yang segera ditahan oleh Ryan.
"Demi siapa memang?" tanyaku cuek, memandang tajam ke arah mereka berempat tanpa rasa takut.
Peraturan pertama ketika kamu diintimidasi seseorang adalah balaslah mengintimidasi mereka.
"Demi kamu, Bodoh!" Putra menjitak kepalaku tanpa ampun, membuatku mengaduh kecil seraya mengelus puncak kepala yang sakit.
Ugh, mentang-mentang tinggi!
"Apa, hah?! Apa?!" tantangnya saat kulayangkan tatapan membunuh pada sosok jangkung itu.
"Sudah, sudah. April, tolong bekerja samalah dengan kami, pikirkan nyawa nggak bersalah yang akan jadi korban di sini."
Ryan melerai dengan suara tenangnya, membuat semua terdiam.
"Dengerin, tuh!" ketus Zaki, melotot galak ke arahku.
"Bikin kesel aja bisanya!" sahut Putra.
Entah ada masalah apa antara aku dan kedua cowok itu, sepertinya apapun tindakanku selalu salah di mata mereka.
"Nyawa siapa?"
Ingatanku kembali pada peristiwa saat makan siang tadi ketika banyak genangan darah yang muncul secara tiba-tiba, "Apakah ada hubungannya dengan yang kulihat tadi siang?"
Ryan mengangguk, "Kamu mau melakukannya kan, Pril? Kita nggak punya banyak waktu, aku dan Ryu akan membantu menghadang para setan itu merasuki tubuh para siswa, Putra akan menghipnotis para guru sedang Zaki akan membantumu melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan."
"Kenapa harus aku? Aku nggak punya kekuatan apapun."
"Karena kamu yang nyebabin semua ini, Bodoh! Ah sudahlah, sekarang laksanain aja apa yang disuruh, banyak bacot banget, sih!" Zaki kembali memarahiku tanpa sebab.
"April, kami minta kerjasamamu, jadi tolong turuti apa kata Zaki nanti," ucap Ryan sungguh-sungguh.
"Bukannya kebalik, tuh. Kami yang bantu dia, Yan. Bukan kita yang butuh kerjasama dia," ralat Putra yang dijawab Ryan dengan gelengan lelah.
"Udahlah, yang penting sekarang April mau membantu kita, Put. Jangan terus memprovokasi dia."
"Baiklah, aku mau, tapi dengan syarat kasih tahu aku semua yang kalian tahu. SEMUANYA, oke?"
Mendengar itu Ryan menoleh pada ketiga temannya seperti meminta jawaban sementara itu Putra malah mendorong pundakku dengan wajah marah.
"Hey, Burik. Ini semua tuh karena kamu yang bunuh diri berkali-kali sehingga hal seperti ini harus terjadi, seenggaknya bersikaplah tanggung jawab dikit! Nggak selamanya Rion membantumu, tahu!"
"Kamu tahu tentang Rion?"
Kemarahanku berubah menjadi penasaran ketika Putra menyebut nama itu.
"Kami tahu semuanya! Selama ini hanya diam karena nggak mau ikut campur, tapi ketua kami memutuskan ikut campur jadi kami pun menghargainya. Tapi kalo kamu terus bersikap belagu kayak gini, kami bisa saja berubah pikiran, tahu!"
"Oke! Oke! Berhenti terus membentakku, aku hanya nggak tahu apa yang sedang terjadi, bukannya nggak mau bertanggung jawab! Kalian ingin aku bekerja sama, ya 'kan? Apa susahnya menjelaskan tentang semua yang sudah terjadi? Aku juga nggak ingin semua ini terjadi tahu!"
"Tapi kamu terus melakukan hal bodoh! Mengesalkan banget, tau nggak?!"
"Aku melakukan itu semua karena nggak tahu dan nggak ada yang ngasih tahu! Siapa yang ingin membuat orang mati sia-sia?! Nggak ada!"
Aku dan Putra sama-sama terengah-engah karena tak ada yang mau berhenti memaki, Ryu terlihat tak sabar sedang Ryan hanya diam menatap kekacauan ini dan Zaki terus mengompori Putra untuk menyerangku dengan kata kata pedasnya.
"Cukup beritahu aja apa yang sedang terjadi, apa susahnya, sih?"
Akhirnya aku mengalah karena kelelahan terus berteriak.
"Karena aku nggak mau, puas?!" tukas Putra.
"Menggelikan. Lalu kamu harap aku membantu kalian? No!"
Mata kami saling mendelik karena tak ada yang mau mengalah, mengabaikan leraian Ryan.
Tiba-tiba angin kencang berembus mengelilingi kami, aku dan Putra sama-sama terdiam lalu ....
Tubuh Ryu secara tiba-tiba ambruk ke tanah, serentak kami mengerubunginya dengan raut panik tercetak di wajah saat melihat Ryu yang tersengal-sengal memegangi dadanya.
"Li-lima belas menit lagi, to-tolong segera blokir mereka, aku nggak kuat terus melawan mereka sendirian seperti ini."
Susah payah Ryu mengucapkan hal tersebut, Ryan segera duduk dan memangku kepala Ryu seraya menatap tajam kami bertiga.
"Nggak ada waktu lagi. Zaki, bawa April ke gedung praktek dan jelaskan apa tugasnya, Putra mulailah hipnotis para guru di gedung praktek, oke?"
"April, tolong selamatkan adikku, tolong ...."
Setelah mengatakan itu, Ryu kehilangan kesadaran, jiwanya seperti melayang ke tempat lain disusul Ryan yang memejamkan mata.
"Ayo! Jangan banyak tanya dan protes lagi, turutin kami dan kamu mendapatkan apa yang kamu mau."
Zaki menarik tanganku dan mengajak berlari sedang Putra tiba-tiba menghilang entah ke mana.
"Kalian ini manusia super atau apa? Kok bisa tiba-tiba menghilang dan muncul seperti itu? Sejenis dengan Rion, ya?"
Zaki memelankan laju lari dan menoleh ke arahku dengan wajah serius.
"Waktu kita hanya sedikit jadi dengarkan intruksi dariku, oke? Kita akan ke ruang praktek memasak kelas satu, kematian masal akan terjadi di sana, tapi kita bisa menghentikan kematian itu kalo mau bekerja sama, karena hanya kamu yang bisa melakukan ini, paham?"
Wajah putihnya sedikit memerah dengan ekspresi panik menghiasi, membuat diriku menahan sedikit ego untuk menentang ucapannya.
"Aku harus ngapain?"
Seperti kaget mata Zaki sedikit melebar melihat responku yang langsung bersedia bekerjasama.
"O-oke, nanti kamu–" Zaki menggaruk tengkuknya dan memandang ke gedung praktek tak jauh dari kami.
"Kamu harus membebaskan jiwa mereka semua dari cengkeraman setan itu dengan mencium mereka satu persatu, ayo!"
Zaki menarik tanganku untuk kembali berlari seraya sesekali melihat jam tangan, kutahan tangannya sehingga dia kembali menoleh.
"Apa maksudmu dengan mencium mereka?"
"April, ini mungkin terdengar mustahil, tapi intruksi Ryan seperti itu. Kamu boleh nggak percaya aku, tapi memang itulah yang harus dilakukan, kamu harus membuat sentuhan yang bikin mereka nggak tahu harus bertindak apa. Nah, bukankah hanya ciuman yang bisa memberi efek seperti itu? "
Dengan sangat tenang Zaki menjawab, mengabaikan wajah kebingunganku.
"Sentuhan yang memberi kesan kuat? Aku bisa menonjok atau menamparnya aja, 'kan? Kalo ciuman–"
"Hanya itu cara terpraktis, Pril. Lagian napa, sih? Tinggal cium aja, 'kan? "
Aku curiga Zaki hanya mempermainkanku dengan menyuruh jal itu, tapi melihat wajahnya yang serius membuat sedikit ragu juga.
"Ayolah, ini semuanya 'kan karena kamu, jadi wajar 'kan kalo kamu harus menerima konsekwensinya, tinggal cium aja, kok."
"Tinggal cium katamu?! Hey, aku bukan playboy yang menghamili cewek lalu nggak mau mengaku, ya?"
Zaki menatapku dengan pandangan yang tak bisa kuartikan, lalu menghela napas panjang seraya mendongakkan kepala seperti berusaha meredam kemarahan atas sindiranku itu.
"April," ucapnya dengan bibir terkatup, menahan kemarahan yang siap meledak kapan saja.
"Kamu ingin orang nggak bersalah mati atas ulahmu lagi atau nggak? Kalau ada kesempatan membenahi apakah kamu akan mengambilnya seberbahaya apapun itu?"
"Tentu saja iya."
Kini kami berdiri di depan ruangan praktek memasak, tampak lima puluhan anak kelas satu sedang sibuk dengan praktek memasak mereka.
"Jadi, mari kita lakukan. Cium mereka semua."
Langkahku mundur satu langkah dengan wajah pucat, mencium semua anak kelas satu?
"Waktu kita hanya tersisa tujuh menit, Putra hanya mampu bertahan menghipnotis para guru selama sepuluh menit dan kita membuangnya dengan debat nggak berguna."
"T-tapi aku nggak pernah mencium siapapun! Selain itu, bagaimana dengan imej-ku nanti? Nggak cukup sebagai pembunuh, aku juga akan di cap sebagai cewek mesum!"
Zaki memegang kedua pundakku dan menggoncangnya keras.
"Kamu masih memikirkan imejmu di saat seperti ini?! Ayolah, maut di depan mata, Pril! Lebih penting mana imejmu atau nyawa mereka semua?!"
Dengan penuh emosi lengan Zaki menunjuk ke dalam ruangan, peluh membasahi wajah tampannya ketika melihat jam tangannya dengan raut resah.
"Ryan dan Ryu sedang sibuk menghalau para setan yang akan mengambil kesadaran mereka dan kamu bimbang masalah sepele seperti ini? Ayolah, berhentilah menjadi cewek menyebalkan, kita selamatkan mereka semua!"
"T-tapi ...."
Kutelan saliva dengan susah payah, memandang anak cowok kelas satu yang rata-rata lebih tinggi dariku itu.
"Kamu hanya perlu merangsek masuk dan langsung mencium sebanyak yang kamu bisa, itu akan sangat membantu Ryan dan Ryu. Ayolah, Pril."
"Kalo ... kalo mereka menampar atau melawan gimana?"
Ngeri kutatap mereka yang rata-rata memegang pisau di tangan, kalau mereka menusuk perutku sebagai perlawanan, habislah aku.
"Aku akan menyembuhkanmu," jawabnya sungguh-sungguh.
"Apakah kamu akan memasang tameng nggak terlihat untuk mencegah mereka melukaiku?" tanyaku, sedikit menyesal telah menyindirnya dengan rumor tentang dirinya yang beredar beberapa bulan lalu.
Zaki menggeleng pelan, mengeluarkan plester dari sakunya dengan begitu percaya diri.
"Akan kusembuhkan pakai ini," jawabnya serius, seketika menerbangkan rasa kagum dan bersalah dari dalam diri.
"Kamu ini manusia super juga nggak, sih? Kalo plester siapapun bisa menyembuhkan kali."
Kutatap wajahnya dengan kecewa, bukannya menjawab, Zaki malah mendorong pinggangku masuk sambil berteriak.
"Cium pipi, kening, atau leher mereka! Aku akan menghentikan waktu untukmu, hanya selama tiga puluh detik setelah itu berjuanglah sebisamu!"
Serentak semua yang ada di situ menatapku dan Zaki yang menjentikkan jari seraya mengedipkan mata padaku.
Seketika waktu berhenti, seiring teriakan Zaki untuk mulai mencium aku segera berlari ke siswa terdekat, memantapkan hati mendaratkan ciuman di pipinya yang penuh jerawat.
Zaki mengawasi seraya menyedekapkan tangan di dada, menikmati reaksiku yabg mengernyit jijik tiap kali berhasil mencium satu anak.
Ya Tuhan, dari semua murid di sekolah ini, kenapa harus kelas satu yang para cowoknya rata-rata berjerawat seperti ini? Euwwwh.
Suasana mendadak gaduh ketika bibirku menempel di pipi seseorang, betapa terkejutnya saat melihat anak itu adalah
Dhanu, selebriti kelas satu.
Waktu sudah kembali berjalan normal rupanya, sial! Masih banyak yang harus kucium, bagaimana ini?
Seperti dikomando secara serentak tiba-tiba para cewek yang ada di situ mengerubungi dan kalap menyerangku, mendorong menjauhi Dhanu yang jelas tampak shock seraya memegang pipinya.
"Pril, kesempatan bagus! Cium mereka semua! Cium, Pril!"
Teriakan penuh semangat Zaki tak mampu membuatku bangkit dari rasa sakit atas jambakan dan cubitan kalap para cewek kelas satu yang marah karena mencium Dhanu.
Tak kalah kalap kucium mereka semua, ada yang meludahi bahkan menggores lenganku dengan pisau yang mereka pegang.
"Ada orang gila! Ada orang gila!"
Anak-anak kelas satu berlarian menjauh saat tahu bahwa aku akan mencium mereka, rasa perih di lengan dan kaki akibat perlawanan mereka seperti membunuhku perlahan tapi aku harus tahan atas semua ini jika ingin mereka selamat.
"Anak kelas dua kesurupan! Ada cewek kesurupan!"
Teriakan menggema di penjuru ruangan, diiringi teriakan ngeri dan tawa membahana. Berapa yang sudah kucium? Sudah semua, kah?
"Kak! Jangan gila! Ngapain Kakak mencium kami semua? Kakak kerasukan, ya?!"
Elena dan si Kembar menahan tubuhku agar berhenti mengejar para anak kelas satu. Kulayangkan ciuman ke pipi mereka, si Kembar berhasil kucium tapi Elena rupanya lolos dan mengelak karena tubuhnya yang lebih jangkung dariku.
"Elena, kumohon. Berikan pipimu," seruku kelelahan karena semakin banyak anak yang memegangi tubuh sehingga membuatku tak bisa berkutik.
Elena berlari menjauh mengabaikan lambaian tanganku, kutatap kepergiannya dengan sorot nelangsa.
Tiba-tiba muncul suara seperti letupan gelembung air, dan semuanya pun kembali terhenti.
Bergegas kulepaskan diri dari cengkeraman mereka, dengan rambut dan seragam berantakan susah payah merangkak ke arah Zaki yang anehnya ikut berhenti bergerak.
Jadi, bukan dia yang menghentikan waktu? Lalu siapa?
Di tengah keheningan itu, suara langkah kaki terdengar mendekat dari luar, membuka pintu perlahan.
Kedua netra melebar ketika melihat sosok ber-hoodie abu-abu dengan celana selutut yang berdiri di depan pintu, tanpa suara dia berjalan mendekat.
Bagaimana bisa dia ada di sini? Bukankah tidak masuk hari ini?
Begitu jarak diantara kami hanya tinggal beberapa langkah, perlahan dia menyibak hoodie dari kepala, menampakkan rambut ikal yang sedikit menutupi mata sendunya.
"Jadi, kamu memutuskan untuk melawan kami dengan bergabung bersama mereka, Ap?"
Aku terkejut dengan nada sedih di suaranya tapi di sudut hati yang terdalam, kenapa ada rasa lega dan bahagia yang menyeruak dan tak bisa dikendalikan?
Sosok itu merentangkan tangan, lalu mengangkatnya ke atas dengan mata terpejam, bibir pink pucatnya bergerak pelan mengucapkan kalimat yang tak kumengerti.
Angin sepoi-sepoi berembus di sekitar kami, perlahan bergerak menyapu wajah semua yang ada di situ. Seperti menghapus sesuatu.
Garis wajahnya yang selalu serius dan fokus membuat debaran jantungku menggila.
Rion.
Aku tahu kamu pasti akan datang menolong tak peduli berapa kali kau bilang telah menyerah untuk membantuku.
Baca Part 9 disini
Pengarang Cerita : Himada Via
Facebook : Himada Via

0 Response to "Jerat Kematian | Part 9"
Post a Comment