Jerat Kematian | Part 10
"Maksud kamu apa, Rion?"
Melalui ekor mata Rion melirikku, mengatupkan mulutnya seraya menatap sekeliling.
"Sebenarnya siapa yang musuh di sini, kamu apa mereka? Apakah aku dijebak? Apakah mereka berempat hanya memanfaatkanku?"
Kulangkahkan kaki mendekat ke arahnya yang tampak lebih pucat dari biasanya. Rion justru melangkah menjauh, seperti menjaga jarak dariku.
"Tolong jawab aku, Rion! Aku nggak mau terus melakukan kesalahan, tolong jelaskan padaku apa maksud semua ini?"
Suaraku berubah menjadi rintihan putus asa, rasa marah pada Ryan dan gengnya karena merasa dijebak membuat dadaku sesak.
"Kendalikan kemarahanmu, Ap. Jangan meledak sekarang, atau semua yang telah mereka lakukan sia-sia."
Rion menatap tajam padaku saat suasana disekitar tiba-tiba dikelilingi awan gelap.
"A-apa maksudmu? Kenapa ruangan ini tiba-tiba menggelap?"
Panik kuarahkan pandang ke penjuru arah. Rion tiba-tiba jatuh berlutut dengan satu memegangi dadanya.
"Tolong, kendalikan kemarahanmu," ucapnya dengan napas tersengal, bulir keringat tampak membasahi dahinya.
"Rion! Apa yang terjadi? Kamu kenapa?!"
Aku berlari mendekat ke arahnya hendak membantunya berdiri, tiba-tiba pintu di belakang Rion menjeblak terbuka dengan keras.
"Cukup sampai sini, April! Jangan sentuh Rion!"
Pekikan nyaring dari seorang cewek yang berlari masuk membuat langkahku mundur dan mengurungkan tangan menyentuh Rion.
Bergegas cewek itu menangkap tubuh Rion yang ambruk ke lantai, memeluknya dalam dekapan.
"Rion, sadarlah. Rion?" Dia menepuk pipi Rion pelan dengan kecemasan terlukis di wajah ovalnya.
Beberapa orang berlari menyusul, ikut mengerubungi Rion yang anehnya waktu tetap membeku diantara kami, menyisakan Zaki dan penghuni ruangan menjadi patung.
Cewek itu, Jimee Kim, mengarahkan mata lentiknya kepadaku. Dia adalah ratu di sekolah ini, siapapun yang dipandangnya akan merasa kerdil dan hilang rasa percaya diri. Termasuk aku.
"Bilang Kak Alexa, Rion memaksa terlibat lagi."
Jimee Kim memberi arahan para bawahannya yang langsung mengangguk dan berlari keluar, sedangkan dia tetap berusaha membangunkan Rion yang tak sadarkan diri.
Melihat Rion yang tak juga sadar bibir pink-nya mengerucut, dengan tangan masih memeluk Rion yang pingsan di pangkuannya, Jimee Kim menatap tajam diriku yang merasa seperti seekor kecebong di hadapannya yang agung.
"Ini deklarasi perang terbuka."
Ekspresinya berubah dingin, sangat konstras dengan wajah imut dengan bando manis di kepalanya.
"Apa maksudmu?"
Terbata kutanyakan hal itu, berhadapan dengannya benar-benar mengikis habis rasa percaya diri. Ditambah dengan memandang Rion yang tampak begitu serasi berada dipangkuan cewek sempurna seperti dirinya.
Sesuatu dalam diriku terasa benar-benar hancur dan nelangsa, seperti terbangun paksa dari mimpi indah. Mimpi bersama Rion.
Jimee Kim tetap tak mengalihkan pandang dariku, dengan sudut mata menyapu ruangan, bibirnya menyunggingkan senyum sinis.
"Kalian yang memulai semua ini, berani-beraninya kalian menghalangi apa yang seharusnya terjadi? Karena itu, kami anggap ini sebagai deklarasi perang terbuka. Jangan harap kami memberi ampun dan bersikap lunak lagi."
Suara lembutnya mengalun tegas, tanpa ampun sedikit pun.
"Apa maksudmu dengan kata kami dan kalian? Jelaskan padaku, sungguh, aku nggak paham."
Bukannya menjawab, Jimee Kim justru bangkit dan memapah tubuh Rion yang terlihat besar di badannya yang hanya setinggi pundak Rion, tapi anehnya Jimee Kim tak tampak kesulitan dengan hal itu.
"Tanyakan saja pada Ryan, dia tahu segalanya. Tapi, jangan harap kami akan membiarkan kalian merusak apa yang sudah kami jaga bertahun-tahun."
Setelah mengatakan itu tiba-tiba Jimee Kim menghilang bersamaan dengan kembalinya waktu yang berjalan normal meninggalkanku dan seisi ruangan yang kebingungan.
Suasana tiba-tiba gaduh oleh para siswa siswi yang saling bertanya dengan kebingungan melihat kekacauan di sekitar mereka, sepertinya Rion membuat mereka lupa akan apa yang baru saja terjadi.
Zaki memegangi kepalanya dan berjalan ke arahku dengan sorot mata kebingungan dan penuh tanda tanya.
"Ada yang ikut campur, ya? Tenagaku seperti terserap habis oleh sesuatu."
Tanpa menjawab kuseret tangannya keluar ruangan, Zaki tampak heran tapi memutuskan mengikuti langkahku.
"Kita ke Ryan sekarang," ucapku tegas, harus kupastikan siapa pihak yang benar di sini sehingga aku tak salah memilih kubu.
Pihak Ryan atau Rion?
Siapa yang sebenarnya bertanggung jawab dengan semua yang terjadi di sini? Siapa tokoh antagonis dalam semua insiden ini?
Lalu, apa hubungan sang Ketua Osis, Jimee Kim, dengan semua ini? Dan sejak kapan sekolah kami dipenuhi para siswa yang mempunyai kekuatan tak masuk akal seperti mereka?
Apakah sebenarnya ini sudah berlangsung sejak lama hanya saja orang awam seperti aku baru menyadarinya?
*****
Beberapa ambulans terparkir di depan sekolah, mengangkat beberapa siswa siswi kelas satu yang berlumuran darah akibat kesurupan dengan menggores lengan mereka sendiri.
Suasana mendadak chaos karena untuk yang pertama kalinya dalam sejarah sekolah kami terjadi belasan anak kesurupan dengan melukai tubuh mereka sendiri.
Anehnya, tidak sampai setengah jam suasana kembali berubah kondusif, para siswa belajar seperti biasa seakan tak ada apapun yang terjadi, mereka seperti lupa dengan apa yang baru saja terjadi.
Bukankah ini benar-benar hal aneh? Aku yakin ini ada sangkut pautnya dengan kejadian di gedung praktek memasak tadi, siapa yang mempunyai kemampuan menghapus ingatan jangka pendek siswa siswi seluruh sekolah?
"Tentu saja anak Osis."
Dengan santainya Putra menjawab pertanyaanku, seakan hal seperti itu bukanlah sesuatu yang aneh dan luar biasa.
"Jadi, mereka sekumpulan anak-anak super seperti kalian?"
Kugebrak meja di depanku dengan semangat hingga membuat empat orang yang berada di situ menolehkan kepala mereka.
Kami berlima sedang bersembunyi di gedung kosong berisi bangku dan kursi lama sebelah gedung utama sekolah, Ryan dan Ryu tampak kehabisan tenaga sedang Zaki tak henti-hentinya mengumpat Rion yang merusak rencananya.
"Kami bukan manusia super, kamu mengangggap kami ini apa emang?"
Zaki menjawab sinis, yang kubalas dengan cengiran. Oke, sebenarnya aku dilanda cemburu yang sangat setiap kali mengingat bagaimana Jimee Kim memeluk Rion tadi, tapi kusembunyikan semuanya dengan pura-pura ceria seperti ini.
"Sebenarnya apa hubungan Jimee Kim dengan Rion, kenapa mereka terlihat begitu dekat?"
Bisikan nelangsaku rupanya didengar oleh Putra yang mengalungkan tangannya di pundakku.
"Mereka sepupu, jangan mikir hal aneh," jawabnya dengan gaya pura-pura nelangsa, mengolokku. Tentu saja.
"D-dari mana kamu tahu?!"
Segera kusingkirkan tangannya dari pundak dan menatap Putra dengan sorot galak. Putra hanya mengendikkan bahu, cuek.
Ryu berjalan mendekat dan berdiri di samping Ryan yang tampak sibuk dengan ponsel di tangan.
"Menemukan sesuatu lagi?"
Ryan mengucek matanya seraya mendongak menatap Ryu dan menggeleng.
"Nggak ada aktivitas di ruang Osis. Sepertinya mereka berunding di ruangan lain."
Kami segera mengerubungi layar ponsel Ryan yang menampilkan ruang osis yang kosong, kutatap mereka satu-persatu yang tampak serius menatap ruang kosong itu.
"Hey, jawab aku, kalian ini lawan atau kawan?! Kalian mengintai ruang osis untuk apa?"
Keempat pasang mata itu sontak memandang kearahku seakan aku manusia paling bodoh di dunia. Zaki bahkan sampai menggeleng dengan begitu dramatisnya.
"Serius kamu nggak tahu apa-apa setelah begitu banyak kematian di sekitarmu? Rion yang selalu jadi pahlawan kesianganmu itu nggak menjelaskan apapun memangnya?"
Kujawab sindiran Putra dengan gelengan lemah, Ryan menatapku prihatin seraya melayangkan pandang pada Ryu.
"Jelasin aja semuanya daripada dia terus mengoceh, ya nggak? Lagian, dia sudah menyelamatkan Dhanu adikku." Jawaban Ryu dibalas anggukan kepala oleh Putra.
"Aku setuju."
"Lagian lucu banget, nggak nyangka aja ciuman bisa menyelamatkan banyak orang dari kematian, sayangnya si Berengsek itu malah menghapus ingatan mereka, harusnya kan lucu kalo akhirnya dia terkenal ssbagai monster ciuman."
Zaki sepertinya masih sangat kesal dengan Rion yang menurutnya merusak rencananya membuatku terkenal menjadi tukang cium gila.
"Daripada kamu tukang menghamili orang."
Ucapan lirihku sukses menyulut emosi Zaki kembali, "hey!!! Aku nggak pernah menghamili siapapun! Cewek itu hanya menyebarkan gosip murahan karena nggak terima kuputus, tahu!"
Kujawab kemarahannya dengan endikan bahu, "siapa yang peduli? Wajahmu cocok kok menyandang titel itu."
"Seperti wajahmu yang cocok jadi pembunuh, ya 'kan?" balasnya tak mau kalah, kami saling memelototi dengan amarah di dada.
"Ngomong-ngomong, kenapa Rion datang menolong April? Bukannya dia ada di pihak Jimee Kim?" Celetukan Putra mendapat anggukan ketiga temannya.
"Mana kutahu," jawabku cuek.
Keempat orang aneh itu menatap tubuhku dari atas kebawah seraya menopang dagu, seperti menimbang sesuatu.
"Pfft, apakah kalian memikirkan apa yang sedang kupikirkan?"
Pertanyaan Putra mendapat gelak tawa dari Zaki dan Ryu, sedang Ryan menundukkan kepala menyembunyikan wajah dibalik hoodie-nya.
"Nggak mungkin, mana mungkinlah Rion tertarik sama cewek kayak dia?" Ryu tidak bisa berhenti tertawa, seakan itu adalah hal terlucu di dunia.
"Ini Rion gitu loh." Putra menggeleng-geleng.
"Seorang Rion jelas nggak mungkin melakukan semua ini demi rasa cinta pada cewek seperti ini, 'kan?" Zaki memperjelas maksud kedua temannya yang segera mendapat anggukan setuju.
"Hey! Cukup! Seburuk itukah aku di mata kalian?! Begini-begini ada yang bilang aku kayak artis India, tahu!"
Ketiga orang itu malah tertawa terbahak-bahak sedang Ryan menatapku serius dengan tangan menopang dagu seakan memikirkan sesuatu.
"Apa ada sesuatu yang terjadi antara kalian sebelum semua kematian ini menjeratmu, Pril? "
"Eh?"
Aku yang sibuk membalas ejekan Putra dan Zaki menoleh ke arah Ryan, diikuti oleh ketiga temannya.
"Maksudku, kalian 'kan sekelas, apakah ada sesuatu yang spesial terjadi antara kamu dan Rion sebelum semua tumbal ini dimulai?"
Keempat pasang mata menatap serius padaku yang mengerutkan kening, mencoba mengingat hal yang terus dipermasalahkan oleh Rion. Ah ya! Peristiwa siang itu!
Secara singkat kuceritakan pada mereka tentang peristiwa yang membuatku terus dihantui setan seputih salju dengan wajah mengerikan tersebut, dan munculnya suara kematian yang mengarahkanku pada kematian-kematian mengerikan orang-orang di sekelilingku.
Ryu memeluk tubuhnya sendiri seakan bisa melihat wujud setan yang kuceritakan itu sedang ekspresi Zaki, Putra dan Ryan berubah sangat serius.
Ketiganya menagngguk seakan sepakat dengan satu hal, menatapku dengan pandangan berbeda dari beberapa menit lalu.
"Jadi hanya ada satu alasan kenapa Rion melakukan semua ini, pantas saja dia terus melakukan hal aneh yang nggak kumengerti."
Ryu seakan menemukan benang merah atas semua yang terjadi, seraya membisikkan sebuah nama yang asing di telinga.
"Alasan kenapa dia seakan melawan takdirnya sendiri," sahut Putra, mantap.
"Ya, hanya satu alasan kenapa dia membela April sampai membahayakan nyawanya." Zaki mengangguk, beralih menatap prihatin padaku.
"Rasa kasihan," tutup Ryan seperti tak tega mengucapkan hal itu.
Keheningan meliputi kami berlima, mereka sibuk dengan pikirannya sendiri meninggalkanku yang kebingungan dengan ucapan misterius mereka.
"Memangnya ... ada apa dengan Rion? Kenapa dia kasihan padaku?"
Pertanyaanku mendapat respons tak terduga, mereka memadangku penuh keheranan dengan sedikit bumbu pertanyaan 'apakah kamu gila?' di raut mereka.
"Hey? Apalagi salahku kali ini?"
Aku mundur beberapa langkah melihat Putra dan Zaki yang seakan siap melumatku menjadi butiran debu.
"Dia selalu membantumu tapi kamu nggak tahu apa maksud bantuannya? Kamu ini terlalu cuek atau emang nggak peka? Ha?" Zaki berteriak melampiaskan frustrasinya.
"Ya Tuhan, untunglah Rion membantu cewek kayak dia, coba kalo kayak Ryu–" Putra tak sanggup melanjutkan ucapannya karena pelototan dari Ryu.
"Mungkin udah dikirim ke alam baka dia."
"Memang kenapa, sih? Kenapa Rion melakukan semua ini karena kasihan?"
"April."
Ryan menatapku dengan sorot serius dibalik hoodie-nya, tak ada sedikitpun senyum di bibirnya.
"Kamu sudah diperalat Rion. Harusnya dialah yang ada diposisimu sekarang."
"M-maksudnya?"
Entah kenapa aku merasa tidak siap mendengar kenyataan yang akan keluar dari mulut Ryan?
"Rion, adalah–" Ryan berhenti seakan berat mengatakan hal tersebut, tahu bahwa ucapannya akan menyakitiku.
"Alasan utama dibalik terjadinya pengorbanan tumbal di sekolah ini."
Lanjutannya COMING SOON!
Pengarang Cerita : Himada Via
Facebook : Himada Via

0 Response to "Jerat Kematian | Part 10"
Post a Comment