-->

Jerat Kematian | Part 8


Sepertinya hari ini ada yang sedikit aneh, atau aku saja yang baru sadar bahwa murid sekolah ini bertambah banyak?

Segerombolan siswa yang duduk-duduk di depan kelas tersenyum dan melambai padaku. Setitik rasa bahagia menyentuh hati, apakah ini nyata? Anak-anak sudah tidak mengucilkanku lagi?

Bergegas melangkah mendekati mereka yang tersenyum semakin lebar, aku tak pernah melihat mereka sebelumnya tapi siapa peduli? Mereka tersenyum saja rasanya sudah bahagia setelah begitu kesepian karena dikucilkan.

"Mereka bukan manusia, jangan ke sana."

Seorang siswa yang kepalanya tertutup tudung hoodie hitam menyenggol bahuku serya membisikkan kalimat tersebut.

"Maksudmu apa?"

Sedikit berlari kupercepat langkah untuk nenjajari langkahnya, cowok itu malah semakin menunduk menyembunyikan wajahnya dibalik hoodie.

"Hey!"

Kutahan lengannya dan menarik lepas hoodie yang menutupi sebagian besar wajahnya, cowok itu tampak kaget dengan seranganku yang tiba-tiba dan tergesa menutup kembali kepalanya dengan hoodie.

"Hey! Ap-apa yang kamu lakukan?!" serunya panik, berjalan semakin cepat meninggalkanku. Kenapa reaksinya seperti itu sih? Memangnya dia vampir yang tak boleh terkena paparan sinar matahari, gitu?

Sempat kulihat nickname di dada kanannya, Ryan Ichdar. Nama yang asing, benarkah dia anak sekolahku?

Kukejar cowok itu dan mencekal lengannya erat untuk menghentikan langkahnya.

"Berhenti sok misterius! Jelaskan padaku apa maksudmu mengatakan mereka semua bukan manusia?"

Cowok itu menghentikan langkah, menarik lepas lengannya dari cekalanku dengan kasar.

"Mereka memang bukan manusia, kok."

Ayolah, aku sudah terlalu lelah dengan segala kemisteriusan Rion, jangan ditambah lagi.

Kuhela napas panjang, menatap gerombolan anak yang terus tersenyum dan melambai ke arah kami.

"Mereka terlihat normal," lirihku, memiringkan kepala mencari perbedaan yang tak kutemukan.

Cowok jangkung berkulit pucat itu semakin menunduk seakan menyembunyikan wajah entah dari siapa, menatapku dari balik hoodie.

"Mereka bukan manusia, mereka arwah tumbal sekolah ini. Apa kamu nggak melihat bedanya?" bisiknya pelan. Dasar cowok aneh.

"Nggak tuh, bedanya apa emang?" ketus kumenjawab, sebenarnya aku sangat penasaran tapi menunjukkan rasa penasaran pada orang yang baru pertama kutemui rasanya tidak terlalu bagus.

Cowok bernama Ryan itu mendekat, seperti hendak membisikkan kalimat penting sembari sesekali melirik segerombolan siswa-siswi yang terus melambai ke arah kami, tanpa sadar kudekatkan telinga ke wajahnya dengan rasa penasaran yang menggila.

"Mereka nggak punya–"

"Ryaaan~"

Seorang cewek berhoodie sama dengan Ryan melompat dan memeluk Ryan dari belakang, menarik dia menjauh dari sisiku.

"Aih, kenapa meninggalkanku tadi?"

Tudung hoodie cewek bertubuh mungil itu terbuka, menampakkan wajah oval mungil dengan bibir mungil merah muda, mata besarnya menatap tajam ke arahku yang terheran-heran mencari tahu darimana dia datang.

"Kenapa kamu dekat-dekat cewek pembunuh ini? Auranya hari ini merah gelap, tanda akan ada pembunuhan kembali. Kamu juga merasakannya kan, Yan? Kenapa malah mendekatinya?"

Cewek setinggi pundakku itu kini berdiri diantara aku dan Ryan, tatapan benci jelas tak disembunyikan dari mata bulatnya yang berwarna hazel.

"Kamu nggak bersentuhan dengannya, kan? Kulitmu nggak menyentuh kulitnya, kan? Apakah waktu berhenti? Ryan, jawab aku!"

Seruan khawatir cewek mungil dijawab gelengan santai oleh Ryan.

"Ryu, jangan seperti ini, aku hanya memberi tahu dia kalau yang di depan itu bukan manusia, itu aja." Jari Ryan menunjuk ke segerombol anak di depan kami yang kini menyeringai menyeramkan.

"Buat apa? Toh dia bukan manusia juga."

Dua siswa yang juga ber-hoodie hitam tiba-tiba muncul merangkul Ryan dan Ryu, membawa keduanya menjauh setelah mengucapkan kalimat itu seraya memandang muak padaku.

"Jangan berurusan dengannya, mau mati sia-sia karena kebodohannya?"

Sedikit kasar cowok ber-hoodie yang baru datang itu menoleh ke arahku seraya mengangkat jari tengahnya.

"Pembunuh berdarah dingin nggak pantas punya teman seperti kita," desisnya lagi, melayangkan tatapan muak.

Apa sih masalah anak-anak ini denganku? Kenapa begitu membenciku? Kami bahkan baru bertemu pertama kali di sini.

"Zaki, jangan terlalu kasar," sergah cowok disampingnya sambil nyengir ke arahku, wajah tampannya hampir saja membiusku, ditambah senyum menawan dari bibir tipisnya.

"Dia bukan pembunuh berdarah dingin, tapi psikopat berwajah malaikat yang terus melakukan pembunuhan tanpa ampun dan bertingkah seakan korban yang paling menderita."

Aku menelan ludah mendengar ejekannya yang sangat menyakitkan, melenggang pelan cowok itu mendorong pundakku dengan ujung telunjuk, ekspresi jijik terlihat jelas di mukanya.

"Hey, April." Dia mendekatkan wajahnya, menatap tengah mataku.

"Berhentilah. Berapa banyak lagi yang mau kau bunuh, ha? Apa perlu kupasung saja jiwamu sehingga berhenti melakukan semua kejahatan ini?"

"Apa maksudmu?!"

Aku balas mendorong tubuh kurusnya penuh kemarahan. Mentang-mentang tampan lalu boleh berbicara seenaknya, begitukah?

Cowok itu berdecak, hendak melayangkan balasan dengan mengangkat tangan dan–

"Sudah, Putra. Kita pergi saja."

Ryan menahan tangan cowok itu dan menariknya pergi, "Jangan bersentuhan kulit dengannya, kamu tahu konsekwensinya, kan?"

Ucapan tegas dari Ryan sontak membuat Putra mundur satu langkah dan menurunkan tangannya, Ryu si cewek mungil memberi isyarat untuk pergi dari situ yang diikuti empat temannya.

Lima orang aneh itu menjauh, kutatap kepergian mereka dengan gelengan kepala dengan perasaan campur aduk.

Kenapa aku baru tahu ada geng aneh seperti mereka di sekolah? Konyol sekali bukan memakai hoodie sama seperti itu? Memangnya mereka pikir mereka itu sekelompok boy band atau apa?

Namun, sesuatu mengusik ketika melihat punggung mereka yang semakin menjauh, sepertinya mereka tahu banyak tentangku. Apakah mereka mengetahui sesuatu? Ya, mereka pasti mengetahui sesuatu atau sudah mengobservasi diriku tanpa sepengetahuanku.

Perlukah kutanyakan? Tapi siapa mereka dan kelas berapa?

*****
Hari ini, Rion tidak masuk sekolah.

Sial. Padahal banyak sekali pertanyaan yang akan kuajukan padanya tapi bangku di belakangku itu malah kosong tak berpenghuni.

Dia bilang aku tidak boleh mempunyai perasaan seperti rasa senang, takut, benci atau penasaran. Memangnya aku seperti dia yang bisa sangat dingin pada semua orang?

"Hai, Kak!"

Hampir saja terjungkal dari duduk mendapat sapaan yang begitu ceria setelah berhari-hari diabaikan oleh seluruh anak yang kukenal.

Empat siswi kelas satu tampak tersenyum-senyum sendiri mengerubungi mejaku di kantin sekolah.

Hari ini ada apa, sih? Kenapa mendadak banyak yang peduli padaku?

Tunggu, tunggu. Aku harus membuktikan sesuatu.

Kuulurkan tangan dan menyentuh kulit mereka yang hangat. Ah, untunglah. Mereka manusia.

Katanya 'kan untuk membedakan mana yang manusia dan mana yang tidak kita harus menyentuh kulitnya apakah dingin, hangat atau malah transparan tak bisa disentuh. Entah juga, sih.

"Kak, kami penggemarmu!" seru dua anak kembar berbarengan, mata mereka yang berbinar ceria mengingatkan pada diriku sendiri ketika sebelum semua hal mengerikan ini terjadi.

"Aku juga, Kak," sahut cewek sebelah mereka yang wajahnya mirip pemeran Milea. Cantik sekali.

"Aku lebih ngefans kamu daripada mereka, Kak." cewek jangkung berwajah bule tak mau kalah.

Hey, ada apa dengan kumpulan para cewek cantik yang tiba-tiba mengatakan sebagai penggemarku ini?

"Ummm, k-karena apa kalian ngefans sama aku?"

Kugaruk tengkuk yang tidak gatal, Intan yang sahabat dekatku saja jijik serta tetap menolak bicara denganku, dan sekarang adik kelas ini malah bilang sebagai penggemarku?

Dengan penuh semangat mereka duduk dan memajukan wajah lebih dekat seakan meneliti seluruh inci wajahku.

"Karena hanya kakak yang berhasil menaklukkan Pangeran Es kami, Pangeran Rion, Kak! Kyaaaa~ ajari kami caranya dong, Kak. Ya? Ya? Yaaa? "

Si kembar Chica dan Chaca heboh sendiri, hidup mereka sepertinya sangat menyenangkan sekali sampai bisa seceria itu. Haaaah.

"Kami ini anggota Squad Rionisty, dan beberapa hari ini kami terus mendapatkan foto kebersamaan kalian di grup chat squad, itu membuat pemimpin kami marah, tapi bagi kami kakak keren, loh."

Cewek mirip Milea yang bernama Natasya mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto-foto saat Rion bersamaku.

Aku hampir kejang melihat semua foto itu, bagaimana bisa moment-moment menyebalkan antara aku dan Rion terlihat semanis ini di foto?

Astaga. Siapa penyebar gosip ini? Bagaimana bisa dia memfoto dengan angle yang begitu pas sehingga kami terlihat sangat mesra?

"Siapa yang mengirimkan ini semua pada kalian?"

"Kak Lie, fotoghraper mading itu loh, Kak. Dia stalking kalian untuk mendapatkan semua foto ini."

Penjelasan dari Natasya membuatku mengingat wajah Lin Lie, pacar Jimee Kim sang Ketua Osis. Cowok yang mengaku setampan Sehun itu sepertinya minta kukirim menuju kematian. Tunggu saja.

"Apa sih rahasianya, Kak? Kabarnya gara-gara Kakak mendapat julukan pembunuh lalu Rion simpati, ya? Apakah kami perlu menjadi pembunuh juga?"

Pertanyaan dari si Jangkung bule bernama Elena membuatku tersentak dan segera menggeleng tegas.

"Jangan! Kamu pikir aku mau jadi pembunuh?"

Elena cemberut dan menggeleng pelan mendengar bentakan dariku.

"Lalu apa rahasianya? Bukankah kami berempat nggak kalah cantik darimu, Kak? Emangnya seleranya dia yang seperti apa?"

Aku menghela napas berat dan membuang pandang dari kehebohan mereka berempat yang saling membicarakan kebiasaan Rion yang tak pernah dan tak ingin kuketahui.

Aku lupa Rion sepopuler itu. Hah.

"Ah ya, kenapa kami lupa tugas kami ke sini? Kami mau tanya nih, Kak. Ada hubungan apa antara Kakak dengan Rion? Nggak ada, kan? Ya, kan?" Si kembar Chica dan Chaca memberondongku pertanyaan sampai membuat kewalahan.

Gelengan tegas dariku sontak mendapatkan seruan bahagia dari mereka, seakan mendapatkan sebuah jackpot.

"Untunglah, berarti kami masih ada peluang. Hey, kembar, kita saingan lagi, nih!"

Mereka kembali asyik sendiri membicarakan Rion dan spontan mengabaikanku. Kulahap makan siang di depanku dengan malas, ternyata mereka baik saat ada maunya saja. Dasar.

"Ngomong-ngomong, kenapa kalian membawa pisau kecil seperti itu?"

Hanya karena tidak enak diabaikan, kukeluarkan pertanyaan saat mereka saling pamer pisau masing-masing.

"Bukan ... berencana menjadi pembunuh supaya mendapat perhatian Rion, kan?"

Mereka saling pandang lalu bersamaan meledak oleh tawa mendengar pertanyaan konyol dariku.

"Tentu saja enggak, Kak."

"Memangnya kami segila kakak?" Ucapan Elena yang dilontarkan dengan nada bergurau memcubit sudut hatiku, kubalas gurauannya dengan senyum tipis.

"Lalu buat apa?"

"Habis istirahat kami ada kelas memasak dan katanya harus bawa pisau kecil sendiri-sendiri karena ini tugas individu, kakak horor terus deh pikirannya." penjelasan Natasya disambut tawa oleh ketiga temannya.

Hampir saja aku menghela napas lega ketika tiba-tiba waktu berhenti. Segala hiruk pikuk dalam kantin sekolah seolah tertelan bumi, tawa mereka berempat yang ceria pun ikut menghilang.

Panik aku bangkit, memandang segala arah mencari sosok mengerikan yang akan memberi intruksi kematian.

Apa kesalahan yang kulakukan hari ini sehingga akan ada kematian lagi? Kompensasi kegagalan bunuh diriku kemarin atau balasan atas rasa penasaran dengan pisau di tangan para penggemar Rion itu?

Jangan.

Tolong jangan anak-anak ceria ini, hidup mereka terlihat sangat menyenangkan, tolong jangan mereka.

Sayangnya sampai beberapa detik berlalu, tak ada apa pun yang terjadi, sedikit lega aku kembali duduk. Namun, kenapa waktu belum berjalan kembali?

Sudut mata memandang pada sekelompok siswa ber-hoodie hitam yang duduk di pojok kantin, dan kelopak mata seketika melebar ketika salah satu dari mereka balas menatap seraya menyeringai tipis.

D-dia tidak ikut terpengaruh penghentian waktu ini? Siapa dia? Seorang indigo atau ....

Dengan mata menyipit kutatap gerombolan itu lebih jelas dan terperanjat kaget saat mengetahui ternyata mereka berempat tak ada yang terpengaruh kekuatan makhluk penghenti waktu ini.

Cowok yang mengarahkan jari tengah kepadaku tadi pagi menatap muak dan bosan sedang Ryu si Cewek Mungil memilih menunduk seraya mengaduk minumannya pelan, terlihat tak ingin ikut campur.

Si cowok tinggi kurus yang dipanggil Putra membuang muka, jelas tak sudi melihatku. Hanya Ryan yang terus mengawasi reaksiku dengan wajah tenang, meski tak berkedip seakan tak ingin melewatkan apapun.

Kugeser kursi dan bergegas mendatangi mereka tapi perhatianku teralihkan oleh darah yang tiba-tiba muncul dari atap dan merembes ke seluruh dinding ruangan, mengubah seluruh warna putihnya menjadi merah.

Darah merah pekat berbau anyir itu kini membasahi lantai kantin, menggenang seperti akan merubah ruangan ini menjadi lautan darah.

Apa maksud tanda ini? Apakah akan ada kematian massal? Tapi, siapa saja korbannya? Seluruh siswa yang berada di kantin inikah?

Tapi kenapa akan ada kematian masal? Apakah ini yang dimaksud Rion semalam?

"Kak, kakak? Lah, malah melamun? Apa seperti ini selera Rion? Ugh, mengecewakan."

Mereka berempat meninggalkanku dengan terus membicarakan keanehan sikapku dan membandingkannya dengan ketua mereka yang cantik dan segalanya.

Sejak kapan waktu kembali berputar?

Ah, para siswa ber-hoodie itu! Ke mana perginya mereka? Apakah mereka tahu kalau aku memergoki mereka yang tidak terpengaruh penghentian waktu?

Sial. Kenapa semakin rumit begini?!

Baca Part 9 disini

Pengarang Cerita : Himada Via
Facebook : Himada Via

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Jerat Kematian | Part 8"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

;