Jerat Kematian | Part 7
Ada apa ini?
Masih jelas terbayang rasa perih dan nyeri saat nadi terputus serta kepala pening melihat begitu banyak genangan darah, tapi kenapa sekarang pergelangan tanganku baik-baik saja? Bahkan tak ada setitik darah pun sana, mulus tanpa noda maupun bekas luka.
Ah ya, Rion.
Jelas sekali beberapa menit lalu dia ke sini dan berteriak panik kepada seseorang untuk membawaku ke rumah sakit. Lalu di mana dia sekarang?
Anehnya posisi dudukku pun persis seperti saat sebelum melakukan bunuh diri, dengan jemari memegang silet yang tampak berkilau terpantul cahaya lampu.
Apakah ada semacam pengulangan waktu atau ... aku yang berhalusinasi atas semua rasa sakit itu?
Ah ya, pasti yang kurasakan beberapa menit lalu adalah halusinasi akibat terlalu paranoid akan rasa sakit menjelang kematian.
Hanya itu penjelasan logis akan semua yang kualami ini, tapi anehnya kenapa ada Rion dalam halusinasiku?
Ah sudahlah, yang penting sekarang lakukan ini dulu supaya segera bertemu ayah dan yang lain, jika memang nanti terasa sangat sakit dan tak tahan menunggu prosesnya yang lama maka aku akan meloncat dari jendela kamar lantai dua ini untuk mempercepat kematian.
Menelan saliva, kutaruh silet itu di atas pergelangan kiri dan–
Seperti beberapa menit lalu, rasa sakit yang amat sangat merajai tubuh, genangan darah merah pekat di lantai membasahi kaki, dingin membeku seperti meloloskan tulang satu persatu dari persendian membuatku menjerit kesakitan.
Mengejang dan menggelinjang serta memukul-mukul kepala kulakukan sebagai upaya meredam rasa sakit, semua berubah gelap lalu kemudian–
Aku kembali di menit ketika tangan masih memegang silet, duduk bertumpukan lutut dengan rambut awut-awutan dan pergelangan tangan mulus tanpa segores luka pun.
Kenapa hal ini bisa terjadi?
Siapa yang mempermainkan kematianku seperti ini?!
Aku bangkit, mengambil beker dan menaruhnya di depanku dan kembali pada posisi siap menyilet tangan untuk memastikan bahwa semua yang kualami ini bukan mimpi atau halusinasi.
Di menit ke-lima, kusilet kembali pergelangan tanganku, kali ini dengan gerakan lebih kuat dan dalam.
Dan terjadi lagi kejadian aneh itu, aku mengalami kesakitan yang amat sangat saat darah mancur dengan deras tapi di detik ketika rasa menyesal karena telah berusaha bunuh diri memenuhi jiwa aku kembali pada menit di mana semua itu berawal.
Menit ke-lima.
Puluhan kali aku mencoba, hasilnya tetapa sama. Kesakitan, menyesal dan kembali ke awal.
Peluh membasahi wajah, rasa lelah Yang menyergap membuatku melempar silet itu ke lantai.
"Siapa yang mempermainkanku seperti ini?! Keluarlah!"
Teriakanku membuat ruangan tiba-tib berubah menjadi gelap pekat seakan aku pun tertelan oleh kegelapan itu, dan sedetik kemudian terdengarlah suara yang begitu familier.
"Percuma saja, kau hanya membuang banyak nyawa tak bersalah."
Suara kematian tanpa nada itu menggema di seluruh ruangan.
"A-apa maksudmu?!"
Lengkingan suaraku dijawab tawa menyeramkan olehnya.
"Tunjukkan dirimu, Makhluk sialan!" Kulempar jam beker ke depan, mengakibatkan bunyi pecah nyaring ketika benda bulat itu menabrak dinding.
Aku bangkit, menatap sekeliling untuk mencari keberadaan dirinya. Lagi-lagi suara itu mengeluarkan kekehan mengerikan bercampur teriakan seperti suara kayu kering yang dipatahkan secara paksa.
"Kamu hanya membuang nyawa tak bersalah dengan terus mengulang adegan bunuh diri itu. Yang kubutuhkan hanyalah tumbal dari kelas ganjil untuk sekolah kalian tapi kamu terus memberikan baaaaanyaaaaak tumbal tambahan dengan suka rela. Menyenangkan sekali."
Kalimat panjang di atas diucapkannya dengan susah payah disertai bunyi napas seakan sesuatu menyangkut kerongkongannya, suara yang mampu menaikkan bulu kuduk siapa pun yang mendemgarnya.
"Apa maksudmu?!"
Pertanyaanku hanya dijawab suara tawa yang sangat nyaring tanpa jawaban memuaskan. Rasanya aku bisa mati karena semua kebingungan ini, kenapa dia terus berkata tumbal, tumbal, dan tumbal?
Sebuah sosok muncul dari kegelapan, melayang rendah mendekat yang sontak membuatku mundur dan jatuh terduduk kehilangan keseimbangan karena lutut yang mendadak lemas melihat penampakan mengerikan tersebut.
Dialah sosok yang kutemui pertama kali dalam kelas ketika ditinggal oleh Rion dengan bentuk yang jauh lebih menyeramkan sekarang, apakah dia pemilik suara kematian itu?
"Bekerja samalah denganku dan akan kuberi satu nyawa untukmu."
Sosok itu mengulurkan tangan, secara ajaib menampilkan bayangan ayah yang seakan sedang tersenyum hangat menatapku.
"Ayah?"
Aku beringsut mendekat, menggapai-gapai bayangannya yang hilang serupa kabut.
"Bekerja samalah dan dia kukembalikan padamu."
"Benarkah ayah akan hidup kembali?"
Sosok serba putih dengan urat urat bitu menonjol dari balik kulit transparannya yang setiap membuka mulut pipinya ikut robek itu mengangguk.
"Iya anak baik, karena itu bekerja samalah denganku ...."
Air mata mengalir deras membasahi pipi karena deraan rasa sesal dan harapan yang membeludak, perlahan aku bangkit untuk menjawab uluran tangannya. Namun–
"April!"
Entah darimana datangnya tiba-tiba Rion muncul dan mendorongku ke belakang sampai punnggung menabrak dinding.
Jeritan marah makhluk itu menggema di seluruh ruangan disertai angin kencang bergemuruh seperti suara tornado.
"Jangan berbuat licik dengan terus menipunya!"
Teriakan Rion disambut tawa menggelegar oleh makhluk itu, Rion berlari ke arahku dan membantu bangkit.
"Berapa kali aku memberimu kesempatan untuk menghentikan upaya bunuh diri konyolmu itu, hah?! Kenapa malah melenceng jauh ke arah ini?! Kenapa terus melakukan kesalahan fatal?! "
Rion mengguncang badanku dengan keras, menyalurkan kemarahannya.
"J-jadi kamu yang terus mengirimku ke waktu sebelum aku mengiris nadi? Bukan makhluk itu?"
Gemetar kuarahkan telunjuk pada makhluk yang terus berteriak marah dan memunculkan tornado di belakang Rion.
"Tentu saja! Kamu bilang kalau menyesal dan ingin diberi satu kesempatan hidup, karena itulah aku terus memutar waktu untukmu, tapi kenapa saat aku lengah sedikit saja kamu malah hampir membuat perjanjian gila lagi dengan setan itu?!"
"Dia bilang akan mengembalikan nyawa ayahku! Kamu pikir apa yang lebih penting selain melihat ayahku hidup kembali? "Aku balas berteriak karena kesal terus dibentak olehnya.
Guncangan tangan Rion di pundakku behenti, berganti menatapku seakan cewek di depannya ini orang gila, dia melepas cekalan seraya mengacak rambutnya dengan frustrasi.
"Kamu pikir nyawa yang sudah hilang bisa kembali?! Berpikirlah secara realistis, Ap. Ayahmu nggak mungkin hidup lagi!"
"Berhenti ikut campur, putra Nanda Leo!"
Makhluk itu mengibaskan tangan dan membuat Rion jatuh tersungkur menjauh dariku, puluhan makhluk aneh muncul dari belakang tubuhnya, siap menerkam kami.
"S-siapa mereka?"
Saking takutnya aku kembali jatuh terduduk, bergerak mundur dengan mendorong pantat untuk bersembunyi dari makhluk-makhluk mengerikan di depan.
"Akan kuhabisi kalian malam ini dan memulai semuanya dari awal, anak Nanda Leo masih satu lagi di sekolah itu, kan? Dia yang akan kujadikan pion kali ini."
Rion segera bangkit, berjalan ke arahku dan menarik tanganku lalu membalik punggungku sehingga berdiri di depannya membelakangi makhluk itu.
Dengan satu tangan dia merengkuhku dalam pelukan, mencengkeram kedua lenganku dengan erat sehingga tak bisa bergerak seinci pun.
Jangan berpikir ini adegan romantis seperti dalam film atau drama, karena pada kenyataannya Rion seperti menjadikan punggungku tameng untuk menghalau serangan makhluk-makhluk yang ada di belakangku.
Aku memberontak berusaha melepaskan diri, tapi lengan Rion begitu kuat mengunci badanku.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Rion?! Kenapa menjadikanku tameng seperti ini?"
Protes dariku mendapat tatapan tajam sebagai jawaban, "Diamlah, kamu ini sangat berisik, tahu!"
Aku tahu dia begitu benci padaku yang berkali-kali melakukan kesalahan, tapi bukankah sangat keterlaluan menjadikan seorang wanita sebagai tameng sebenci apapun dia pada wanita tersebut?
"Jangan menghadap ke belakang, pokoknya jangan!"
Rion mencengkeram bahuku lebih kuat, menahan agar tetap berada dalam pelukannya.
"Memang ada apa? Bukankah kamu menggunakanku sebagai tameng?" desisku penuh kemarahan.
"Terserahlah kamu mau mengartikan apa, tapi turuti saja perintahku."
Rasa penasaran akan apa yang terjadi di belakang seperti membunuh secara perlahan, suara gesekan besi yang membuat ngilu, derit benda tajam menyobek marmer dan muncratan basah nan dingin yang mengenai baju benar- benar membuat frustrasi.
Sementara itu Rion tetap mencengkeram bahuku dengan sangat kuat sampai nyaris membuatku menjerit kesakitan dengan satu tangan yang lain entah sibuk melakukan apa.
"Pejamkan matamu, Ap. Jangan membukanya seinci pun, tolong ikuti perintahku kali ini saja!" pekik Rion di sela gerakan tangannya yang cepat, bagaimana dia sadar bahwa aku akan membuka mata karena rasa penasaran yang menggila ini?
Suara gemuruh benda-benda keras yang saling bertabrakan memekakkan telinga, ditutup jeritan melengking seakan mampu menulikan pendengaran.
"Rion! Aku nggak kuat lagi! Ada apa di belakang?!"
Aku berontak, sedang Rion membelenggu badanku dengan satu rengkuhan tangan sementara tangan yang lain entah sibuk melakukan apa di belakang dan bibir yang terus berkomat-kamit mengucap bahasa aneh.
"Kumohon, tahan dirimu sebentar lagi, Ap. Ini semua demi kamu," bisiknya penuh penekanan di sela kalimat-kalimat dari bahasa yang sama sekali tak kumengerti keluar dari bibirnya.
Teriakan makhluk-makhluk berbagai bahasa dan suara bersahutan dengan suara Rion yang semakin tinggi mengalahkan suara mereka.
Kekacauan besar sepertinya terjadi di belakangku, Rion terus meracau dengan bahasa anehnya sampai keringat membasahi kemejanya.
Aku menunggu semuanya dengan jantung berdebar keras, antara takut, gelisah, penasaran dan ... debar aneh satu lagi yang tak bisa kuartikan ketika telinga yang menempel di dadanya mendengar degup jantung Rion yang cepat.
Perasaan aneh apa ini? Sangat menggelikan aku punya debaran seperti ini pada Rion.
Kugelengkan kepala untuk kembali fokus menerka-nerka apa yang terjadi antara Rion dengan makhluk putih mengerikan bersama koloninya di belakangku.
Bermenit-menit kemudian suara gemuruh, tabrakan, decitan, teriakan, jeritan, pekik Kesakitan dan muncratan benda basah itu berhenti, saat kurasakan cengkeraman Rion mengendur, tanpa sadar aku ikut menghembuskan napas lega meski belum bisa mengontrol debaran jantung yang menggila.
"Sudah."
Rion melepas rengkuhan dan jatuh terduduk kehabisan tenaga, aku segera berbalik melihat keadaan di belakangku.
Aneh, di sana tak ada bekas kerusakan apapun, lantainya pun kering seakan tak pernah terjadi apapun. Sebenarnya apa yang terjadi antara Rion dengan makhluk itu?
Hawa dingin ruangan menyergap kulit, yang lebih aneh lagi pakaian yang kuyakin akan basah kuyup terkena muncratan- muncratan tadi bahkan tak basah setitik pun, padahal aku sangat yakin tidak sedang berhalusinasi.
Lalu tadi apa? Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini?
"Rion, Rion ... kamu baik-baik saja, kan?" Kugoyang goyang kedua pundaknya, dengan rambut basah kuyup oleh keringat Rion mendongak menatapku.
"Nggak apa. Aku hanya kehabisan tenaga."
Rion mengibaskan tanganku dengan sedikit kasar dan susah payah bangkit melangkah meninggalkanku.
"Itu tadi ... apa?"
Hati-hati kulontarkan pertanyaan yang dijawab dengan tatapan tajam darinya.
"Hanya sedikit masalah."
Kenapa selalu irit bicara, sih!
"Makhluk tadi mengatakan aku telah melakukan hal sia-sia dengan terus berupaya bunuh diri yang nggak akan berhasil, apa maksudnya?"
Langkah Rion terhenti, senyum sedih menghiasi bibirnya.
"Kamu akan tahu besok."
"Jangan terus menghujaniku dengan rasa penasaran! Jelaskan padaku, Rion!"
Kutahan lengannya dan menekan cengkeraman untuk memaksanya membuka mulut.
"Kamu pikir aku bisa?" tanyanya dengan ekspresi antara sinis dan lelah, netra tajamnya sampai menyipit ketika bertemu pandang denganku.
"Sampai kapan sih kamu terus melakukan hal bodoh? Harusnya kamu diam saja dan lihat, jadi nggak akan kacau seperti ini! Kenapa setiap petunjuk dariku selalu kau artikan berbeda?!"
Kasar, Rion menyingkirkan tanganku. Mungkin ini sudah batas kesabaran seorang Rion yang hanya punya kesabaran setipis kertas.
"Ini yang terakhir, aku nggak akan menolong ataupun membantumu lagi dan nggak akan pernah peduli apa pun yang bakal menimpa dirimu!"
Dia berbalik pergi dan melambaikan tangan dari balik punggungnya yang semakin menghilang tertelan gelap ruangan.
"Seenggaknya kasih tau aku bagaimana supaya kematian nggak terjadi lagi di sekitarku, Rion!"
Teriakanku membuat dirinya kembali menghadapku seraya melayangkan tatapan dingin.
"Jangan punya perasaan apapun baik itu marah, sayang, benci, takut ataupun penasaran. Kamu bisa?"
Kugaruk belakang kepala yang tidak gatal, tersenyum canggung.
"Errrr, itu terdengar mustahil, kita ini manusia jadi wajar kalo punya–"
"Berarti nggak ada cara lain, terima saja takdirmu," tukasnya datar.
Rion menjentikkan jari, sedetik kemudian seluruh tubuhnya lenyap dan ruangan serba hitam di sekeliling menghilang berganti menjadi ruangan kamar dengan aku yang terduduk memegang silet di tangan.
Lekas kulempar silet itu, memandang sekeliling mencari sesosok makhluk berkulit pucat dengan otot-otot menonjol menyeramkan beserta para makhluk seram lain di sekitarnya.
Huft, untunglah mereka semua sudah pergi sekarang.
Kupandang bulan yang mengintip dari balik jendela yang terbuka, bertanya-tanya dalam hati apakah semua ini sudah berakhir atau justru baru saja dimulai?
Baca Part 8 disini
Pengarang Cerita : Himada Via
Facebook : Himada Via

0 Response to "Jerat Kematian | Part 7"
Post a Comment