-->

Jerat Kematian | Part 6


Telepon diangkat ayah setelah cukup lama, betapa gembiranya hati mendengar suaranya yang menandakan sedang baik-baik saja.

"Mungkin nanti sore ayah dan bunda sampai rumah, ini sedang di jalan ayah, Nak. April minta apa untuk oleh-oleh nanti?"

"Martabak saja, Yah."

"Ayah jauh-jauh ke luar kota oleh-olehnya tetap martabak? Mintalah yang lain, Nak."

"Emmm, apa ya, yah?"

Mendengar suaramu saja sudah tenang hatiku, Yah.

"Pril, kakakmu sudah kamu buatkan sarapan? Jangan malas! Kalo bunda dengar kakakmu kelaparan awas saja kamu akan bunda–"

Terdengar debat kecil antara ayah dan bunda di seberang, lalu terdengar suara kalem ayah lagi.

"Jangan dengarkan bunda, Nak. Bunda hanya bercanda, dia terus menghawatirkan keadaan kalian selama di sini. Jadi April jadi minta oleh-oleh apa nanti?"

"Duh, jadi bingung kalo ditanya, Yah."

"Ah, di sini ada bakpia yang sangat terkenal, bagaimana kalo ayah membelikanmu–"

"Ayahhhh!!!! Depan!!!!"

Teriakan panik bunda membuat darahku seakan berhenti berdesir dengan kepala pening disertai bayangan gelap mengelilingi.

Suara tabrakan yang sangat keras dan ban berdecit terdengar jelas dari sini, jeritan panik bunda pun terdengar samar-samar.

Suara keras itu refleks mengingatkan pada saat Rizky terseret mobil menjelang kematiannya sehingga jantung pun terasa berhenti berdetak dengan darah naik ke kepala.

"Ayah? Bunda? Halo? Ayah! Bunda! Halo?! Ayah?! Halo?!!"

Teriakan panikku tak mendapat jawaban, sedang suara keras di seberang terus terdengar. Beberapa detik kemudian semua kehebohan itu berubah menjadi keheningan yang sangat mengerikan.

Di detik itulah aku sadar, kesalahan besar inilah yang terus disebut Rion sejak semalam.

Ponsel terjatuh dari tangan seiring kesadaran yang menghilang.

******

Mataku nanar menatap jasad ayah yang terbujur kaku di depan. Air mata rasanya tak bisa mengalir lagi, pingsan berkali-kali pun tak bisa mengurangi kekosongan dan rasa sakit dalam hati.

Anak macam apa aku? Yang mengantarkan orang tuanya sendiri pada kematian?

Seandainya aku tidak menelepon ayah, seandainya tidak terlalu penasaran dengan ucapan Rion, mungkin saja ayah ... ayah ....

Kematiannya begitu mengerikan, saat menerima telepon dariku, sebuah mobil tiba-tiba menabrak mobil ayah dengan kencang, ayah memutar kemudi untuk menghindar yang malah membuatnya menabrak buldoser yang sedang meratakan jalan, tubuhnya yang terpental keluar disambut gilasan buldoser.

Sedangkan bunda, jasadnya pun tak utuh karena ketika kecelakaan terjadi, badannya terjepit di dalam mobil, terperangkap di sana dan secara tiba-tiba sebuah gergaji mesin menerobos masuk, memecah kaca dan memotong tubuh besarnya.

Bukankah hal seperti itu mustahil? Bukankah kematian setragis itu tidak akan pernah terjadi? Bukankah kematian seperti itu hanya ada di film-film?

Kenapa takdir kematian mereka begitu kejam? Kenapa harus menimpa mereka berdua yang tak tahu apa-apa?

Kenapa juga dari semua orang, kenapa kematian mengerikan itu menimpa ayah yang begitu baik? Ayah yang tak pernah marah bahkan selalu berbuat baik pada semua orang?

Lalu, ke mana lagi aku akan berlindung jika ayah sudah tidak ada? Siapa yang menghiburku dengan senyum sejuknya? Siapa lagi yang ....

Ayah. Maafkan April. Maafkan April, Ayah.

*****

Saat pemakaman, kulihat Rion berdiri paling belakang diantara teman-teman yang datang melayat.

Dia menunduk dalam, seperti menyesal karena tak bisa membantuku. Kuusap air mata dan mendatanginya.

"Rion–"

"Kenapa nggak mau mendengarkan aku?" bisiknya parau, sorot matanya yang penuh sesal malah semakin menyakiti hatiku.

"Aku bisa apa? Aku tahu apa? Kamu nggak ngasih tahu apapun, hanya bilang jangan memikirkan orang yang kusayangi, seandainya kamu nggak bilang kayak gitu, aku nggak akan menelepon ayah dan ayah–"

Kuusap air mata, menggeleng saat melihat dia membuka mulut.

"Jangan bicara apa pun lagi, aku nggak butuh bantuanmu lagi. Akan kuselesaikan sendiri malam ini, semua akan selesai malam ini, Rion. Aku nggak peduli lagi."

Setelah mengatakan itu, aku berlari pergi mengabaikan panggilan darinya.
******

Ayah.

Untuk apa aku bertahan? Bukankah lebih baik kususul ayah sekarang?

Rasa bersalah bercampur sakit menggerogoti diriku seperti kangker, aku tak tahan lagi jika tetap bernapas tanpa memikirkan kesalahan besar yang telah kuperbuat.

Kenapa saat aku begitu menginginkan kematian seseorang justru orang paling kukasihi yang diambil? Bukankah hal ini tidak adil?

Daripada terus tersiksa menyaksikan satu persatu orang yang kusayang meninggalkanku, lebih baik kususul saja mereka sekarang. Bukankah dengan begitu, semua kegilaan ini berakhir?

Dengan menumpukan tangan di lutut aku bangkit terhuyung, tertawa miris ketika melihat refleksi wajah di cermin.

Mata bengkak, rambut awut-awutan dengan beberapa anak rambut yang menempel di pipi karena air mata yang mengering, itulah penampilanku kini.

"Mungkin dengan ini aku bisa istirahat dengan tenang tanpa hidup dengan semua kesedihan ini lagi."

Pelan, aku merangkak mendekati meja belajar lalu meraih kotak pensil, tampak sebuah silet yang tipis nan tajam memantulkan cahaya rembulan yang mengintip dari jendela yang terbuka di dalam sana.


Sorot mata yang mulai dipenuhi oleh kekosongan membuatku menatap nanar silet yang kini berada di telapak tangan.

Netra sayu ini beralih pandang ke hair dryer di ujung meja, silet apa kabel?

Mana yang akan kupilih?

Mana yang lebih cepat mengantarkan pada kematian?

Kudongakkan kepala, setitik air mata membasahi pipi. Kedua sudut bibir tertarik ke atas menertawakan betapa gilanya hidupku, aku tak sanggup lagi menjalani hari setelah apa yang terjadi pada ayah.

Kuamati silet tajam yang berkilau tertimpa cahaya lampu, lalu beralih mengamati pergelangan tangan kiri, sedikit ragu kuletakkan lapisan baja yang tipis nan tajam itu di sana sembari menghela napas panjang.

Baiklah. Ayo kita lakukan.

Satu gerakan kecil dan ....

Tersilet sudah.

Kebas.

Detik pertama, itulah kurasakan. Detik kedua rasa kebas itu menjelma menjadi rasa perih disertai nyeri tak terkira. Berdenyut-denyut ngilu setiap detiknya.

Seiring darah yang mengalir deras dari luka sayatan yang kubuat, pandangan mulai berkunang-kunang dengan perut mual melihat darah yang memancur membasahi lantai.

Bau anyir bercampur besi memenuhi ruangan, badan mulai lunglai sehingga ambruk ke lantai. Air mata meleleh seiring rasa perih yang teramat sangat menyakitkan menjalar mulai pergelangan tangan ke atas.

Jadi, beginikah akhir hidupku?

Rasa nyeri itu semakin luar biasa seiring banyaknya darah yang keluar, naik ke lengan atas dan menjalar ke seluruh tubuh. Kutekan pergelangan tangan untuk menahan nyeri serta perih berdenyut-denyut yang tak pernah kurasakan seumur hidup itu.

Tubuh terasa lemas dan rasa dingin yang mengerikan mulai menggerogoti sekujur tubuh, kupeluk badan yang menggigil hebat.

Tidak berhenti sampai situ, rasa nyeri dan perih itu bermetamorfosa menjadi kesemutan di sekujur tubuh, sakit kepala yang luar biasa karena berkurangnya asupan darah ke otak membuatku menggelinjang karena tak tahan akan sakit yang teramat sangat.

Tuhan, ambil nyawaku sekarang juga! Ini sakit sekali! Kenapa prosesnya selama ini?!

Kujambak rambut dengan sisa-sisa tenaga berharap rasa sakit di kepala menghilang, tetapi napasku mulai tersengal, menarik satu helaan napas saja terasa seperti mencabut organ tubuh.

Lalu rasa dingin mengerikan itu mulai menjalar dari ujung kaki, semakin naik ke atas seiring napas yang tinggal satu-satu, rasanya benar-benar mengerikan, di titik ini aku ingin kembali ke beberapa menit sebelum memutuskan tindakan bodoh seperti ini.

Sakit sekali.

Sakit.

Tolong sudahi saja semua derita ini.

Ya Tuhan, sakit sekali.

Luar biasa, proses menuju kematian ternyata semengerikan ini. Detik ini juga aku menyesal, sungguh. Aku menyesal.

Wajah orang-orang yang kusayang satu persatu muncul di ingatan. Ayah, mama, Rizky, Gery ... tapi kenapa wajah mereka tampak sedih? Kenapa terlihat tidak senang melihat aku yang sebentar lagi menyusul mereka?

Rasa sakit kembali menyerang tanpa ampun, dingin mengerikan itu mulai menjalar ke atas menuju paha sedang kaki mulai mati rasa dengan sakit kepala teramat sangat dan kesusahan bernapas yang semakin menyiksa.

Bercucuran air mata aku memohon pada Tuhan untuk menyegerakan proses kematian menyakitkan ini atau membatalkannya. Aku tak tahan, sungguh. Sangat menakutkan. Sangat menyakitkan dan jangan tanya betapa mengerikannya ini.

Di sela pandangan yang berkunang-kunang dan kesadaran yang mulai menghilang, kulihat sepasang kaki mendekat.

"April! Apa yang kamu lakukan?!" Suara panik Rion entah kenapa terdengar begitu melegakan.

Kuangkat tangan, menyentuh lengannya hendak mengucapkan terima kasih tapi bibir terlalu kaku untuk digerakkan.

"Panggil ambulans! Kita bawa ke rumah sakit!"

*****

Bersambung.

[Untuk kalian di luar sana, seberat apapun masalah yang kalian hadapi jangan pernah mencoba untuk bunuh diri, selain prosesnya yang lama dan menyakitkan serta belum tentu berhasil, bunuh diri juga hanya meninggalkan penyesalan yang mendalam.

Kumohon, bertahanlah di dunia ini. Hiduplah dengan bahagia dan positif. Semangat!]

Baca Part 7 disini

Pengarang Cerita : Himada Via
Facebook : Himada Via

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Jerat Kematian | Part 6"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

;