Jerat Kematian | Part 5
Kuguncang badannya agak keras untuk memaksa menatap mataku.
"Kubilang jawab aku, Rion!"
Rion menghela napas panjang dengan kepala menengadah ke atas, seakan menimbang sesuatu saat melihat air mata di pipiku.
"Aku benar-benar nggak tahu apa yang diinginkan suara tak bertuan itu, juga nggak habis pikir apa kesalahan yang telah kuperbuat sehingga harus kehilangan semua sahabat dekat?
Setiap malam aku selalu berpikir apakah bisa memperbaiki semua ini? Kapan semua ini berakhir? Sampai kapan harus menyaksikan semua Kematian ini? Aku bisa gila karena hal ini, Rion."
Cengkeramanku di lengannya melemah karena sibuk mengusap air mata.
"Kumohon, beritahu aku," rintihku. Putus asa.
"Apa yang ingin kamu tahu?" Pelan, Rion bertanya. Rasa simpati atau sekadar kasihan menyentuh hatinya.
"Semuanya. Beritahu aku semuanya, Rion. Aku lelah terus seperti ini."
"Nggak bisa."
Rion menggeleng tegas, meski sorot matanya memancarkan keraguan.
"Kenapa?" Wajah memelas yang kupasang tidak menggoyahkan keinginan kuat Rion, ekspresinya kini berubah datar seperti topeng.
"Baiklah. Aku akan memberi jawaban atas satu pertanyaan," ucapnya akhirnya, tak tahan dengan raut memelas di depannya.
"Dua."
Aku masih mencoba bernegosiasi, Rion hanya menghela napas, lalu mengangguk.
"Oke, dua. Aku akan memberi tahu dua hal padamu. Jadi apa yang ingin kamu tanyakan? Tentang kenapa aku bisa tahu kalo kamu memilih dua benda untuk kematian kakakmu?"
Aku mengangguk.
"Karena aku tahu, itu saja. Kamu telah melakukan kesalahan besar yang akan sangat kamu sesali, Ap."
"Jawaban macam apa itu? Kesalahan apa yang akan kusesali? Dia pantas mati dengan cara mengerikan!"
Jeritan kemarahanku tak diindahkan Rion, dia memberi isyarat dengan mengangkat dua jari sebagai tanda saatnya mengajukan pertanyaan kedua.
Argh, kenapa hanya memberi tahu sepotong-sepotong kalau akhirnya tidak membantu sama sekali? Apa susahnya sih bicara 'bla bla bla' mengupas tuntas tentang yang sebenarnya terjadi?
"Dari mana semua ini berawal? Apa kesalahan yang telah kuperbuat?"
Mengalah, kuajukan pertanyaan lain.
"Ingat kejadian sepulang sekolah saat kamu melepas headset dari telinga karena kuabaikan?"
Netraku melebar, kaget dan tak percaya menguasai diri. Jadi?
"Itu bukan mimpi? Makhluk-makhluk mengerikan yang mencakar-cakar tubuhku dan satu makhluk dengan kulit seputih kertas dan setiap bicara kulitnya sobek dan berdarah? Semuanya nyata?"
Rion mengangguk, "Betul. Ingat apa yang kamu lakukan dengan makhluk putih itu?"
Keningku berkerut, mencoba keras untuk mengingat kembali tapi gagal. Kejadian siang itu seperti mimpi acak yang biasa kualami ketika tidur, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, terlalu sulit untuk diingat.
"Itulah kesalahan pertamamu, melupakan apa yang telah kamu lakukan padahal itu kunci semua masalahmu ini. Sekarang, ingat mitos sekolah kita tentang kelas ganjil?"
Ah, aku dan geng-ku dulu sering membicarakan mitos aneh ini, katanya entah berapa tahun sekali seluruh murid yang berada di kelas ganjil itu satu persatu meninggal dengan cara mengerikan dan tak wajar.
Bukankah itu hanya mitos? Bahan bercandaan anak-anak di waktu makan siang dan beberapa siswa yang mengaku indigo? Kabarnya ruang kelas ganjil tempat insiden itu terjadi sudah dipugar dan tidak ada yang tahu di mana letak persisnya sekarang.
Apa maksud Rion menyebut mitos lama yang bahkan tidak terbukti kebenarannya itu?
"Memangnya apa hubungan mitos itu dengan semua ini? Jangan bilang kalo kelas yang kita tempati sekarang adalah kelas–" Kututup mulut, berharap mendapatkan gelengan dari Rion.
Sayangnya, berbeda denganku yang takut meski penasaran, Rion justru terlihat begitu berat mengungkapkan apa yang akan dia bicarakan.
"Itu hanya bahan bercandaan kakak kelas saat masa MOS, kan?" kejarku, masih dengan harapan yang sama.
"Sayangnya apa yang ada di pikiranmu benar, dan tahun ini adalah tahun di mana kutukan itu–"
"Cukup, Rion!"
Sebuah mobil berhenti di sebelah kami setelah mengerem dengan keras, tergesa sosok dari dalam mobil keluar, mendorong tubuh Rion sampai dia terhuyung ke belakang.
"Lex, aku cuma–"
Ucapan Rion dijawab oleh sosok itu dengan tamparan di wajahnya sehingga membuat rambut depan Rion menutupi sebagian mata. Rion menunduk, seperti menyesal telah melakukan kesalahan.
"Untuk apa? Mau mengacaukan semuanya?" Suara sinis wanita itu membuat Rion mengangkat kepalanya.
"Tapi, Lex. Si April ini hampir saja diperkosa kakaknya dan karena emosi dia–"
"Sudah berapa kali kubilang untuk nggak pakai hati, Rion?" tandas wanita itu, tak memberi Rion kesempatan menjawab.
Rion kembali menunduk, memainkan jemarinya dengan bahu terkulai.
"Biarkan saja ini berakhir dan kamu bisa bebas, kenapa susah sekali menjadi penonton yang baik? Kenapa malah ikut campur?"
Suara wanita itu terdengar sangat tegas meski diucapkan dengan nada lembut, mengingatkan pada guru olahraga baru kami yang sangat cantik itu. Tunggu, apakah dia ....
"Bu Alexa?" panggilku, memastikan.
Sosok itu menoleh, melepas tudung kepala yang menutupi, menampakkan wajah cantik sedikit pucatnya.
Ternyata benar, dia guru olahraga sekolah kami. Hari kedatangan Bu Alexa sama dengan hari kepindahan Rion ke sini, aku baru sadar bahwa mereka ternyata mempunyai kemiripan satu sama lain.
Kulit yang lebih pucat dari kebanyakan orang di daerah kami dan wajah yang terlalu sempurna.
Ini pasti bukan kebetulan, ada hubungan apa antara guru super cantik dan siswa populer ini?
"Aprilia, kamu menginap di mana malam ini?"
Seakan tak ada apa-apa Bu Alexa mengulas senyum manis dan menawari untuk menginap di rumahnya, setelah memberikan tatapan tajam pada Rion dengan gelengan tegas.
Lunglai, Rion berjalan ke mobil. Menunggu kami berdua di sana.
"Sebenarnya ada apa dengan semua ini, Bu?"
"Nggak ada apa-apa, jangan dengarkan dia. Dia anak aneh, kamu bahkan tahu dia nggak punya satu orang teman pun di sekolah ya kan? Jangan percaya semua ucapannya, oke?"
Bu Alexa menepuk pundakku, mengajak masuk mobil dengan sikap yang benar-benar santai seperti tak ada apa pun.
"Boleh saya bertanya satu pernyataan saja, Bu?" Kutahan kaki sebelum masuk ke mobil Bu Alexa.
"Ya? Silakan."
"Anda dan Rion ... ada hubungan apa?"
Bu Alexa tertawa kecil, menatap Rion yang membuang pandang ke luar jendela.
"Kami kakak beradik, tapi karena Rion tidak mau semua temannya tahu, jadi tolong rahasiakan hal ini, ya?"
Kedipan matanya kujawab dengan anggukan, kini yakinlah aku bahwa kedatangan mereka berdua dalam waktu bersamaan bukanlah suatu kebetulan.
Sebenarnya banyak yang ingin kutanyakan, seperti apakah mereka berdua terlibat dalam semua misteri kematian ini melihat bagaimana reaksi Bu Alexa saat mengetahui Rion yang akan menceritakan mitos sekolah padaku tadi.
Sayangnya, kutelan semua pertanyaan dalam hati karena segan dengan Bu Alexa. Yang terpenting sekarang, ada tempat menginap yang aman untukku.
******
Seseorang menepuk pundak dari belakang ketika aku berjalan di koridor sendirian, berbisik di telinga.
"Takdir mengerikan memang nggak bisa kamu hindari, tapi kamu bisa merubah targetnya. Jadi, hari ini sebisa mungkin jangan memikirkan orang yang paling kamu sayangi, oke?"
Setelah mengatakan itu, Rion berjalan melewatiku seakan tak ada apa-apa, mengacak rambutnya dengan menghela napas panjang dan memasang headset di telinga.
Kukejar Rion dan menjajari langkahnya.
"Hey, maksud kamu apa?"
"Kamu ingin memperbaiki kesalahan semalam, kan? Hari ini jangan satu kali pun memikirkan orang yang kamu sayang, jangan menghubungi atau bersentuhan dengannya. Cukup pikirkan saja hal lain maka semua akan baik-baik saja."
Rion mendorongku pelan sampai menabrak pot bunga di samping, menyembunyikan tubuhku dari tatapan bu Alexa di kejauhan.
"Aku harus pergi, Alex mengawasiku dari jauh."
Bergegas dia melangkah, menundukkan kepala dengan pura-pura sibuk melihat ponsel di tangan.
Tidak bisa menghindari takdir buruk tapi bisa merubah target asal aku tidak memikirkan orang yang kusayang? Apakah ini tentang suara kematian semalam?
Ah, entahlah. Semua kalimat yang diucapkan Rion selalu berbelit dan membingungkan.
Orang yang kusayangi? Siapa lagi yang kusayang di sini selain Rizky?
******
Waktu istirahat kuhabiskan dengan membaca tulisan teman-teman tentang mitos kelas ganjil di sekolah kami, banyak yang membahasnya meski beberapa hanya berisi bualan kosong tentang makhluk astral penghuni sekolah, lalu ada satu dua yang membahasnya dengan serius.
Seorang alumni sekolah kami yang terkenal sebagai seorang indigo menulis bahwa mitos kelas ganjil itu benar-benar ada, setiap sepuluh tahun sekali secara ajaib akan ada satu kelas di lantai dua yang berisikan jumlah murid ganjil. Nah, di kelas itulah akan terjadi rentetan kematian-kematian tak wajar.
Murid ganjil di lantai dua? Lantai dua berarti tempat murid kelas dua.
Jemari mulai menghitung jumlah murid di kelas. Ah! Aneh. Jumlahnya tidak ganjil setelah kedatangan Rion, tuh.
Selain itu gedung sekolah kami kan ada beberapa, gedung manakah yang dimaksud kakak kelas ini?
Aku masih tidak mau menerima kenyataan bahwa mungkin saja kelas yang kutempati sekarang adalah kelas mitos itu. Toh tentu banyak kelas dengan jumlah murid ganjil di sekolah ini selain kelasku, bukan?
Ditambah lagi meski Rizky satu kelas denganku, tapi Gerry tidak. Lucky juga bukan anak sekolahku tapi nyatanya aku bisa menentukan kematian untuknya, bagaimana hal tersebut bisa terjadi?
Kuarahkan pandang ke layar ponsel, kembali membaca tulisan kakak kelas itu.
[Rentetan kematian siswa di kelas ganjil tersebut jika disusun dengan menggunakan awal huruf dari nama penghuni kelas akan membentuk sebuah kalimat berisi urutan nama-nama yang akan meninggal, kalimat itu berbunyi ....]
Layar ponsel tiba-tiba menggelap, dengan peringatan sebuah virus telah menyusup masuk sehingga harus segera keluar dari laman ini jika tak ingin virus menyebar dan merusak ponsel.
Sial. Kenapa bisa begini? Argh, aku tak mendapat jawaban apapun yang memuaskan. Haruskah mencari tahu dengan menanya satu persatu anak indigo di sekolah ini?
Apa sebenarnya hubungan semua ini? Kalau tidak ada hubungannya kenapa Rion semalam menyebutkan mitos ini? Dan kenapa Bu Alexa begitu marah padanya?
Ucapan Rion tadi pagi yang melarang mengingat orang yang kusayang justru mengusik ingatan. Siapa memang orang yang kusayangi di sini? Bukankah tak ada?
Orang yang kusayangi, hmmm ....
Sebuah wajah dengan senyum teduh terlintas di kepala, wajah orang yang paling kusayangi, wajah tempat aku bertahan dan mengadu.
Ayah.
Ah, tidak mungkin. Ayah kan sedang di luar kota, ayah juga bukan murid sekolah sini, Aku pun nggak menyentuh tangan ayah saat suara kematian itu muncul.
Jadi, tidak mungkin ayah. Tidak mungkin.
Lucky.
Ya, pasti Lucky yang akan mati hari ini, dia satu-satunya saudara yang kupunya. Siapa tahu selama ini aku tidak menyadari bahwa telah menyayangi dia?
Pikirkan saja tentang Lucky hari ini. Hah,
Aku tak sabar menunggu kabar kematiannya. Dilindas buldoser? Atau terpotong-potong gergaji mesin?
Rasakan. Akan kusaksikan kematianmu, berengsek! Karena tubuhmu yang besar, buldoser mungkin tidak cukup membunuhnya jadi harus dipotong dengan gergaji mesin menjadi potongan-potongan kecil.
Namun, sesuatu terus mengusik selama waktu istirahat, entah kenapa ingin sekali menelepon ayah untuk memastikan keadaannya.
Hanya mengobati rasa penasaran tidak apa-apa, kan? Aku hanya akan bertanya sedang apa ayah setelah itu sudah, tidak termasuk memikirkan dirinya, kan?
Baiklah, mari telepon ayah sebentar.
Baca Part 6 disini
Pengarang Cerita : Himada Via
Facebook : Himada Via

0 Response to "Jerat Kematian | Part 5"
Post a Comment