-->

Jerat Kematian | Part 4


[Attention: mungkin ada adegan sedikit tidak pantas, jika kurang berkenan silakan dilewati.]

Kumainkan pensil di tangan dengan kepala tertelungkup di meja, sudah tiga harian ini menghabiskan jam istirahat hanya di kelas karena tak ada yang mengajak bicara, bahkan geng sendiri pun menjauh.

Rumor menyebar ke seantero sekolah, bahwa siapa pun cowok yang dekat denganku pasti akan meninggal keesokan harinya, bahkan ada rumor aneh yang mengatakan, hanya dengan kutatap saja cowok tersebut bisa meninggal.

Memangnya aku Medusa apa? Yang mampu merubah seseorang menjadi batu ketika saling bertatapan mata?

Ughhh, sial. Lapar sekali, pagi sudah tidak sarapan dan sekarang tidak bisa pergi ke kantin karena bisik-bisik sumbang yang menyakitkan telinga.

Rasanya tak tahan mendapatkan pandangan menuduh mereka, seakan hanya aku manusia paling kejam di bumi.

Seseorang mengetuk meja beberapa kali, kuangkat kepala dengan mata memicing saat melihat Rion yang berdiri di samping bangku.

"Pakai ini agar nggak mendengar bisikan-bisikan buruk tentangmu dari anak-anak saat melewati mereka."

Setelah mengatakan itu, Rion beranjak pergi tanpa menunggu ucapan terima kasih dariku. Sebuah headset dan sepotong roti ditaruhnya di depanku.

Kutahan lengannya, menunggu waktu berhenti seperti saat terakhir munculnya suara tak bertuan menjelang kematian Gery, anehnya sampai beberapa detik berlalu tak ada apa pun yang terjadi.

Rion menyingkirkan cekalanku dengan kasar, melayangkan pandangan terganggu dan melangkah pergi.

"Tunggu!"

Rion berhenti, terlalu enggan untuk sekedar menoleh.

"Kamu kan telah berbuat baik padaku, kenapa nggak ada suara yang menyuruhku memilih takdir kematian untukmu?"

Rion mengerutkan kening, jelas terlihat tak suka dari bibirnya yang sedikit mengerucut.

"Jadi kamu ingin aku mati, gitu?" cetusnya dingin.

Segera kugelengkan kepala dan mengatakan tidak yang dibalas Rion dengan endikan bahu.

Kutatap headset dan sebungkus roti pemberiannya, meraihnya dengan rasa haru.

Perhatian sekecil ini di tengah pengabaian seluruh sekolah terasa benar-benar menyentuh hati.

*****

"Pril, jaga rumah. Nanti kakakmu akan pulang, jangan lupa siapkan makan malam untuknya juga, karena kami harus ke luar kota untuk menghadiri kondangan saudara."

Pesan dari bunda kujawab 'ya ya ya' tanpa berminat meladeni, kakak yang dimaksud adalah anak pertama bunda dari suami terdahulunya, cowok menyebalkan bernama Lucky yang umurnya terpaut 5 tahun dariku.

Aku tidak pernah suka dengan kedatangannya ke sini, selain badan besarnya yang hitam, dekil dan tak sedap dipandang, pandangan matanya yang seperti menelanjangi benar-benar menakutkan.

Setiap dia pulang ke rumah saat liburan, sebisa mungkin aku menghindar untuk berada satu ruangan dengannya. Sebulan lalu ketika dia pulang Intan dan yang lain menawari untuk menginap di rumah mereka untuk menghindari kakak tiriku itu.

Sekarang, aku bahkan tak punya satu orang teman pun yang akan menjaga dari Lucky.

Ah, seandainya Rizky masih ada, dia pasti ....

Kugelengkan kepala, mengingatnya hanya membuat sesak di dada. Dia terlalu baik.

Sial, pintu kamar kuncinya sedang rusak, bagaimana nanti bisa tidur dengan tenang tanpa berpikiran buruk?

Ah, kalau mau tidur nanti tinggal mengganjal pintunya dengan kursi saja, pasti beres. Lucky pun tak akan bisa berbuat macam-macam.

"Martabak, Pril."

Lucky menaruh sekotak martabak di meja, kuhentikan aktivitas bermain game di ponsel dan menatapnya, heran.

Tumben sekali orang ini baik?

Cuek, Lucky mengunyah martabak Bangka di tangannya seakan-akan memberi martabak adalah hal yang biasa dia lakukan. Sejak kapan orang ini baik padaku?

"Buruan di makan, kalo dingin nggak enak loh. Sama nih tadi aku beli teh."

Sedikit ragu, kuambil sepotong martabak dan mengunyahnya. Rasa gurih perpaduan telur, daging dan daun bawang dengan bumbu khas yang menyatu di mulut membuatku mengambil sepotong lagi.

Lucky tersenyum, mengulurkan teh botol yang sudah tersisa setengah.

"Tersedak loh nanti kalo cara makannya gitu."

Mengucap terima kasih, kuraih teh botol dari tangannya dan meminumnya sekali tenggak.

Mungkinkah dia sedang baik mood-nya sehingga mentraktir makanan yang paling kusuka, atau hanya aku saja yang selama ini terlalu buruk sangka padanya?

Entah kenapa setengah jam kemudian aku merasa mengantuk sekali padahal belum terlalu larut, terhuyung kulangkahkan kaki dan melempar tubuh ke ranjang, sedetik kemudian sudah tak ingat apa pun.

Kesadaran samar-samar mengetuk relung kalbu saat merasakan seseorang yang meraba-raba tubuh. Berat, kubuka mata.

Pandangan terasa samar dengan kepala yang berputar-putar, berat. Kukerjapkan mata berkali-kali, mengumpulkan kesadaran yang kabur entah kemana.

Embusan napas yang memburu di atas tubuhku spontan membuat kesadaran pulih seratus persen.

Refleks kuterbangun dari tidur karena sinyal bahaya menggedor-gedor otak, sekuat tenaga kudorong sosok besar yang menindih tubuhku dan berguling ke samping dengan susah payah di tengah kepala yang berputar-putar.

"A-apa yang sedang kamu lakukan, Lucky?!" bentakku, mundur ke pojok ranjang.

Kugenggam kemeja yang kancingnya sudah terbuka beberapa dengan tubuh gemetar hebat.

Mata Lucky terlihat kosong seperti mata orang mabuk, tak mengindahkan wajah garangku dia meloncat lagi dan siap menerkam tubuh mungilku.

"Hentikan! Apa yang kamu lakukan?!"

"Sekali saja, Pril. Sekali saja."

Desahannya benar-benar menjijikkan, kutampar pipinya yang sayangnya tak berpengaruh apa-apa pada tubuh besarnya itu.

Bibirnya mendekat bersiap mendaratkan sebuah ciuman yang segera kutahan dengan menyorongkan bantal ke wajahnya lalu sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkramannya yang kuat dan mencoba berlari keluar.

Dengan sigap lucky menahan kakiku, menariknya mendekat, terkekeh melihatku yang meronta-ronta.

"Jangan, Lucky. Kumohon jangan."

Tangisku pecah, yang kutakutkan akhirnya terjadi. Kini yakinlah aku bahwa memang ada yang tidak beres dari cara Lucky memandang selama ini.

Lucky menarik kedua kakiku mendekat dan melempar tubuhku ke ranjang, dengan seringai menakutkan dari mulutnya dia menahan kedua pundak sehingga tak memberikan ruang untuk berontak.

Lucky kembali terkekeh, menundukkan kepala bersiap untuk mencium, wajahnya yang berminyak dengan pipi gembulnya itu benar-benar menjijikkan, ditambah bibir monyongnya yang siap menyentuh wajah mulusku.

"Kumohon jangan. Jangan."

Tangisanku yang menghiba sama sekali tidak menggoyahkan niat Lucky melaksanakan niat jahatnya.

Satu inci lagi bibir hitam menjijikkan itu menyentuh bibirku, kubuang muka sebagai perlawanan terakhir.

Di detik ketika terlintas keinginan yang begitu besar untuk menyingkirkannya dari muka bumi ini, waktu tiba-tiba terhenti.

Seakan mendengar lintasan hatiku, muncullah suara tak bertuan itu.

"Apa yang kamu pilih kali ini?"

Pertama kali dalam hidup, aku sangat senang dengan hadirnya suara kematian ini.

Segera kumeloloskan diri dari cengkeraman Lucky dan menendang tubuh hitamnya ke samping ranjang dengan kasar, terdengar bunyi debam pelan ketika tubuh besar itu mencium lantai.

Dengan napas tersengal-sengal, kubenahi kancing baju, menatap tubuh Lucky yang terjungkal di lantai, meludahinya.

"Apa pilihannya?" desisku.

Ketakutan itu kini bermetamorfosa menjadi kemarahan yang meluap kala mengingat Lucky dengan wajah mesum gilanya.

Tiga buah benda muncul, melayang di atas kamar.

Gergaji mesin.

Buldoser.

Pisau dapur.

Penuh emosi, kuraih gerjaji mesin dan buldoser, ketika hendak meraih pisau, benda ketiga itu tiba-tiba menghilang.

"Kamu melakukan kesalahan."

Suara tak bertuan itu berujar datar tanpa emosi.

"Apa yang salah?! Dia pantas mati dengan cara paling menyakitkan! Cowok berengsek macam dia harus musnah dari muka bumi ini tanpa menyisakan bekas sedikit pun!"

Seruan penuh kemarahanku tak mendapat jawaban, hanya terdengar suara gelembung pecah menandakan waktu yang kembali seperti semula.

Panik, segera kuberlari ke luar kamar sebelum Lucky sadar dan mengejar untuk meneruskan niat jahatnya.

Susah payah karena tangan yang gemetar kubuka pintu depan dan berlari sekencang-kencangnya meninggalkan rumah sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Lucky tidak sedang mengejar.

Ketakutan membayangkan Lucky berhasil menyusul membuatku terus berlari dan berlari sampai jantung rasanya mau meledak kekurangan asupan oksigen.

Kehabisan tenaga, kakiku tersandung sehingga tubuh terjungkal ke depan.

Aku berusaha bangkit dengan dada nyeri, mengatur napas, kuselonjorkan kaki sambil menatap langit malam yang gelap.

Jadi beginilah nasibku, sendirian dengan kedua lutut lecet tertabrak aspal, tak punya teman, kehilangan sahabat paling baik dan hampir kehilangan kehormatan di tangan cowok berengsek yang katanya kakakku.

Pandangan mulai mengabur karena kaca-kaca yang pecah di pelupuk mata, mengalirkan air membasahi pipi.

Kuhela napas panjang, mengembuskannya perlahan. Berulang kali.

Lalu, tidur di mana malam ini? Aku tak mungkin pulang sampai besok pagi.

Dari kejauhan terlihat seseorang berlari mendekat. Panik, aku segera bangkit dan berlari menjauh dengan terpincang-pincang.

B-bagaimana ini? Lucky mengejarku sampai sini! Bagaimana bisa si berengsek itu berlari secepat ini?

Orang itu mencekal lenganku dari belakang, membalik pundakku dengan kasar.

"April! Apa yang baru saja kamu lakukan?!"

Rambut dan kausnya basah oleh keringat, seperti telah berlari dari jarak yang sangat jauh. Keningnya berkerut dengan sorot marah di matanya.

"Apa maksudmu?"

Kusingkirkan cekalannya dengan tak kalah kasar, meski sedikit lega ternyata bukan Lucky yang menemukanku di sini.

"Kamu melakukan kesalahan, Ap. Kesalahan yang berdampak sangat mengerikan!"

Rion menggeleng-geleng, ekspresi wajahnya antara panik dan takut serta rasa kesal yang mendominasi.

"Kenapa kamu memilih dua benda untuk menentukan kematian seseorang? Kamu akan menyesalinya, Ap. Benar-benar menyesalinya!" gertaknya, mengacak rambut menyalurkan rasa frustrasi.

"Tunggu."

Kulayangkan tatapan tajam yang dibalas Rion dengan membuang muka, menghindari mataku.

"Dari mana kau tahu kalau aku memilih dua benda? Jawab aku, Rion!"

Baca Part 5 disini

Pengarang Cerita : Himada Via
Facebook : Himada Via

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Jerat Kematian | Part 4"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

;