Jerat Kematian | Part 3
Plak!
Hari pertama sekolah setelah mengurung diri di rumah akibat shock kehilangan Rizky diawali dengan tamparan di pipi dari Intan, sahabat dekatku.
Rasa panas dan perih menjalar dari pipi ke kepala, pelan kubenahi anak rambut yang menutupi wajah, menatap sosok di depanku yang memandang dengan emosi membara.
"Semua ini gara-gara kamu! Seandainya aja kamu nggak ngejatuhin ponsel Rizky dan nggak pergi bersama dia sore itu, Rizky nggak akan pergi secepat ini! Kamu benar-benar menyebalkan! Aku benci banget sama kamu, Pril!"
Air mata membasahi pipi Intan yang memerah, seluruh teman di kelas berkerumun menonton kami dengan rasa penasaran menghiasi wajah mereka.
"Kenapa kamu seperti ini, Pril? Nggak cukupkah kamu sakiti hatinya dengan pura-pura nggak tahu perasaan dia tiap kali berdekatan denganmu? Apakah harus mengambil nyawanya juga seperti ini? Kenapa kamu tega melakukan ini?"
Rintihannya terdengar begitu pilu, bisik-bisik memenuhi udara, mendengung bagai suara lebah.
"Intan, aku ... aku juga nggak tahu kalau hal seperti itu akan–"
Aku merasa begitu terpojokkan dengan tatapan menuduh teman-teman sekelas. Tak tahukah mereka bahwa aku pun begitu tersiksa dengan kematian Rizky sampai tak bisa tidur setiap malam?
"Diaaaam!" jeritnya, mendorongku mundur.
"Bagiku kamulah pembunuh Rizky! Dasar pembunuh! Kenapa nggak mati aja, hah? Kenapa masih hidup dan sehat seperti ini?!"
Intan mengangkat tangan, hendak menampar lagi, kupejamkan mata dan mundur selangkah untuk menghindar.
Namun, tangan itu tak pernah sampai mendarat di pipi, pelan kubuka mata untuk melihat apa yang terjadi. Dan di sanalah dia, berdiri di sampingku, Gery menahan tangan Intan.
"Sudah, Ntan. Aprilia nggak salah, kejadian yang menimpa Rizky murni kecelakaan. Kamu sudah melihat beritanya, kan? Mobil itu kehilangan kendali dan menabrak banyak orang, jadi bukan cuma Rizky korbannya."
Intan melepas cekalan Gery sambil tertawa sinis.
"Kamu membela karena dia cantik, ya kan? Muak aku! Mulai sekarang kita bukan geng lagi! Bela terus pembunuh ini! Dia selalu dibela, sesalah apapun dia! Muak aku, tau nggak?" bentaknya murka.
Intan berbalik, setelah sebelumnya meludah mengenai sepatuku.
"Intan, kumohon jangan begini!"
Kutahan lengannya, kasar Intan mencengkeram lenganku dan menyingkirkannya dari lengannya lalu mendorong tubuhku sementara Gery menahan pundakku agar tidak terjengkang ke belakang.
Saat itulah waktu terhenti. Aku seperti mengalami dejavu, terbayang kembali kejadian menjelang kematian Rizky.
Kupandang sekeliling, menunggu suara tak bertuan itu muncul, tapi tak terdengar apapun. Semilir angin bahkan terasa begitu sejuk saking sunyinya.
Kemudian di papan tulis depan kelas, secara ajaib muncul tiga gambar.
Kilatan petir. Pusaran air. Kapak berdarah.
Darahku berdesir dan mengumpul di kepala, firasat aneh menguasai sendi seiring kepala yang dilanda pusing hebat sampai membuat sedikit limbung. Sebuah suara akhirnya muncul.
"Ambil satu!"
"Enggak!" pekikku, keras kepala.
Aku tahu dari kematian Rizky, jika memilih salah satu dari tiga pilihan yang muncul maka takdir kematian seseorang telah ditentukan. Seseorang yang dekat dan selalu bersamaku di hari pilihan itu muncul.
Tawa serak menggema dalam ruangan, lintasan visi muncul di otak, menerjang ingatan.
Sebuah bus berisi anak-anak TK tampak terguling ke jurang dengan bagian belakang terbakar, jerit tangis dan teriakan histeris memenuhi kepala.
"Tidaaaaaaak!"
Kupegang kepala yang terasa mau meledak, tawa serak itu semakin keras terdengar.
"Ambil salah satu benda itu atau mereka yang tak bersalah menjadi korban."
Tanpa berpikir panjang kuambil gambar pusaran air karena menurutku hal itu paling mudah dan tak menyakitkan, siapapun korban berikutnya, akan kugagalkan proses kematiannya. Aku pasti bisa!
Pyasssh!
Pusaran air di tanganku meledak dan menghilang, meninggalkan jejak basah di telapak tangan.
Sedetik kemudian, waktu berjalan seperti semula. Intan meninggalkanku setelah mengumpat kata-kata kotor sebagai hadiah terakhir.
"Nggak apa-apa. Dia hanya terbawa emosi, semua akan kembali seperti semula dan kita berkumpul seperti biasa lagi. Jangan dipikirkan, oke?"
Aku mengangguk, melangkah gontai ke bangku dengan pikiran penuh, menebak-nebak siapa yang akan meninggal hari ini melalui tanganku.
Ya Tuhan, kenapa hal ini terjadi padaku? Apa salahku sehingga menjadi orang yang menentukan kematian orang lain?
Rion tetap bungkam meski aku memaksa untuk memberi tahu ada apa dibalik semua ini, dengan sinis dia bilang bahwa itu karena kecerobohanku sendiri.
Ah, tak ada gunanya mengharapkan orang seperti dia. Akan kuselesaikan masalah ini sendiri.
Dari yang telah terjadi pada Rizky, aku mendapat suara misterius itu setelah tangan kami saling bersentuhan, lalu kematian itu menggiring kami untuk terus bersama selama seharian.
Siapa? Intan atau Gery?
Pasti Intan, tangan kami saling bersentuhan, sedang dengan Gery aku tak sedang menyentuh tangannya saat waktu berhenti itu.
Huft. Baiklah. Seharian ini akan kujaga
Intan. Aku pasti bisa meloloskan dirinya dari kematian tak masuk akal ini, aku yakin bisa.
******
Tebakan bahwa Intan yang menjadi korban selanjutnya sepertinya tepat, terbukti seharian ini ada saja sesuatu yang mengharuskan aku terus bersamanya meski umpatan dan makian menghiasi separuh hariku.
Sampai sore, Intan baik-baik saja meski beberapa kecelakaan kecil yang melibatkan air terus menimpanya, atas usaha dariku dia pun bisa melewati semua kecelakaan itu.
Mari kita buktikan, kalau hari ini berakhir dan Intan bisa lolos dari kematian tak wajar, maka aku akan mendapatkan satu petunjuk lagi. Petunjuk mengenai semua hal tak masuk akal ini.
"Nginep di rumahku? Kamu gila?! Aku bahkan muak melihat wajahmu, tau! Berani-beraninya minta menginap di sini?"
Tolakan keras yang kuterima tak membuatku goyah dan tetap bersikukuh menunggunya meskipun Intan membiarkan diriku terlunta-lunta di teras ditengah hujan deras.
Baiklah, bertahanlah, April. Begitu hari ini berlalu dan Intan selamat, maka kamu telah berhasil menyelamatkan satu nyawa.
[Kamu di mana?]
Pesan masuk dari Gery, saat kantuk mulai menyerang menunggu Intan mengizinkan masuk rumah.
[Di rumah Intan.]
[Menginap di sana?]
Kujelaskan dengan singkat pada Gery tentang situasi yang kualami sekarang.
[Aku akan menjemputmu dan mengantar pulang. Intan keras kepala, aku nggak jamin dia akan memberimu tempat menginap malam ini, kamu bisa mati kedinginan kalau tidur di luar]
[Nggak usah, Gery. Aku biasa kok tidur di luar.]
Pesanku tak mendapat balasan, lima belas menit kemudian bunyi motor Gery terdengar di luar pagar rumah.
"Ayo pulang, jangan memaksa seseorang memaafkanmu saat dia nggak ingin memaafkan, Pril."
"Bukan itu tujuanku menginap di sini, Ger."
Tak mungkin kujelaskan padanya bahwa aku menjaga nyawa Intan sampai hari berakhir, kan?
Gery hanya menghela napas dan memilih duduk di kursi sampingku.
"Kenapa selalu memaksakan diri sih, Aprilia?"
"Aku nggak memaksakan diri, Ger. Ini sangat penting bagiku."
"Sepenting dirimu di mataku?"
Kutatap dia dengan raut heran, "Apa maksudmu?"
Gery menghela napas lagi, balas menatap intens.
"Aku tahu ini waktu yang nggak tepat, kamu baru saja kehilangan Rizky dan aku tahu kalo nggak sebanding dengan dirinya, tapi izinkan aku melindungi dirimu sebagai ganti Rizky, Pril. Aku ... nggak bisa menahan ini lagi, aku merasa harus mengatakan semua perasaan ini malam ini juga."
Mulutku terkunci, tak bisa mengatakan apapun. B-bagaimana bisa seorang Gery mengatakan hal seperti itu? Gery yang kukenal adalah si cuek yang hidupnya hanya untuk game.
"Kalo kamu mengatakan ini supaya aku mau pulang bersama, ini nggak lucu, Ger."
Gery menggeleng, tatapannya benar-benar serius.
"Aku jujur dari dalam hati, Pril. Aku sudah lama menahan ini, hanya karena kulihat Rizky lebih dekat denganmu aku gak berani mendekat, tapi sekarang Rizky udah nggak ada dan–"
"Maaf aku nggak bisa, Ger." Kupotong ucapannya, mengabaikan raut kecewa di wajahnya.
"Kita berenam berteman sejak masuk SMA, aku nggak mau persahabatan ini semakin hancur, kamu juga tahu kalo Intan suka kamu, kan? Kalian bahkan sering memakai barang couple, bagaimana bisa–"
"Tapi aku cintanya sama kamu! Intan hanya pelarian perasaan frustrasi ini, Pril. Rizky terlalu tinggi untuk kusaingi jadilah aku dan Intan–"
"Tetap saja aku nggak bisa. Kamu tahu kan Intan akan semakin marah dan membenciku kalo tahu semua ini?" .
"Aku akan melindungimu darinya, kita pasti bisa, Pril. Dan Intan pasti akan mengerti."
Lagi-lagi aku menggeleng. Tegas.
"Aku kecewa padamu, tau nggak? Sadar nggak sih kalo kamu udah mempermainkan Intan dan persahabatan kita?"
"Bagaimana bisa kamu menolakku seperti ini? Nggak bisakah memberiku satu kesempatan, Pril?" pintanya menghiba.
"Karena kamu pantas mendapatkan penolakan ini. Berpikirlah dengan jernih, Ger. Yang kamu lakukan ini salah, minta maaflah pada Intan."
"Tapi, Pril–"
Kugelengkan kepala, saat seseorang menyatakan cinta padamu, semua jadi serba salah, tapi menolak tegas adalah salah satu pilihan bagus daripada memberikan harapan palsu yang akhirnya menyakiti perasaannya.
Dengan bahu lesu Gery meninggalkanku. Kupijat kening untuk meredakan sakit kepala, bagaimana bisa semua masalah menjadi serumit ini?
"Dik, kami mau menutup pintu gerbang, pulanglah. Intan nggak ingin bertemu denganmu malam ini, semoga besok dia mau bertemu."
"Tante, Intan sudah tidur, kah?"
Ibu Intan mengangguk. Lega, aku pun pamit pulang.
Tiga jam lagi menuju pukul dua belas malam, jika sampai pukul itu aku berhasil membuat intan tetap hidup. Maka misi ini sukses.
Kutantang langit, siapa pun yang melakukan semua ini padaku dan para sahabatku, aku pasti akan mampu mengalahkanmu.
*****
"Ada apa?"
Suara mengantuk Intan membuatku hampir melonjak kegirangan saat kutelepon pagi harinya.
Intan masih hidup! Aku berhasil!
"Enggak. Hanya memastikan kamu baik-baik saja, Ntan."
"Bodo!" serunya, menutup panggilan.
Akhirnya! Aku bisa menyelamatkan satu sahabatku dari kematian! Aku berhasil!
"Ya Tuhan, lagi?!"
Jeritan bunda di teras rumah saat berkumpul dengan tetangga membuatku mendekat karena penasaran.
"Mengerikan! Sudah ditemukan? Bunuh diri? Badannya sudah menggelembung ketika diangkat? Sejak kapan jatuhnya?"
"Ada apa bunda kok heboh banget?"
Bunda menoleh ke arahku, wajahnya yang pias benar-benar menghwatirkan.
"Temanmu yang tampan seperti orang India, yang suka main ke sini bareng intan dan Rizky, katanya dia tengelam di sungai! Motornya tergeletak di jalan, kabarnya dia bunuh diri!"
Tubuhku limbung seketika, yang ditangkap bunda dengan sigap. Kepala rasanya berputar-putar dengan perut mual mendengar kabar ini.
Jadi?!
Targetnya adalah Gery?! Bukan
Intan?! Bagaimana bisa?
Argh, sial. Saking fokusnya pada Intan aku sampai lupa jika Gery pun seharian kemarin bersama kami, meleraiku yang terus bertengkar dengan Intan atas kematian Rizky.
Ya Tuhan!
Bahkan semalam kami berpisah dengan saling menyakiti! Ah, tidak. Aku yang telah menyakiti perasaannya dengan begitu kejam.
Kenapa ....
Kenapa begini.
Harusnya tidak begini.
Harusnya bukan Gery, apakah aku salah memprediksi?
Tetes-tetes air mata itu semakin deras membasahi pipi. Rasa sakit karena kehilangan menghunjam dada bagai belati berkarat yang ditusukkan dengan sadis.
Teringat kembali punggung kuyunya yang dibasahi hujan saat pergi akibat penolakan dariku.
****
"Pembunuh."
"Pembunuh."
"Pembunuh."
Bisik-bisik serupa mengiringi langkah menuju kelas, seluruh mata memandang dengan berbagai rasa, curiga, marah, kesal dan muak.
Rumor menyebar seperti virus, menjangkiti semua teman dalam sekejap.
Kulihat Intan yang tersenyum sinis ke arahku dengan matanya yang sembab, mengangguk dan menjawab pertanyaan beberapa orang yang mengerubungi dirinya.
"Pril, katanya Gery bunuh diri karena cintanya kamu tolak dengan sangat sadis ya, semalam? Kamu kok tega sih berbuat begitu? Bukankah kamu secara nggak langsung yang bikin dia bunuh diri?"
Kukepalkan tangan di bawah meja, menahan tangis yang siap tumpah kapan saja menerima tuduhan tak berdasar ini.
"Kata Intan kamu juga yang membuat Rizky meninggal, ya?"
Kugelengkan kepala, pelan.
"Tapi yang Gery ini akibat kamu loh, Intan bilang dia menerima pesan dari Gery sebelum tenggelam di sungai itu, katanya Gery melakukan semua itu karena nggak tahan kamu hina saat menyatakan cinta."
"Lihat, deh. Pesan kematian yang Gery kirim ke Intan, dia bilang nggak bisa melanjutkan hidup karena April. Bukannya jelas kalau April penyebab dirinya terjun ke sungai?"
Semua berkerumun melihat ponsel Intan, lalu beralih pandang menatapku dengan sorot jijik dan muak.
"Sok cantik banget, sih." Celetukan sinis seorang siswa dibalas anggukan beberapa kepala.
"Jijik aku, keluar yuk. Nanti kita dihina dan bunuh diri karena nggak tahan sama mulut pedasnya."
Intan bangkit dan melangkah pergi, diikuti semua orang yang berada di kelas setelah sebelumnya melayangkan tatapan menuduh dan jijik padaku.
Kenapa seperti ini? Apakah Gery benar-benar bunuh diri karena penolakan dariku? Selemah itukah dia?
Apa yang diinginkan suara kematian itu? Membuatku sengsara dengan rasa bersalah dulu sebelum mengambil nyawa teman-temanku?
Begitukah?
Baca Part 4 disini
Pengarang Cerita : Himada Via
Facebook : Himada Via

0 Response to "Jerat Kematian | Part 3"
Post a Comment