-->

Jerat Kematian | Part 2


Netraku mengerjap beberapa kali karena pupil yang harus menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang menerobos melewati tirai yang terbuka lebar.

"Bangun, Pril. Kesiangan mulu nih, anak! Mau kulaporkan ayahmu karena terlambat sekolah lagi?"

Bunda berdiri di samping ranjang sambil berkacak pinggang, matanya yang sipit itu melotot dengan bibir manyun, benar-benar pemandangan pagi yang buruk untuk memulai hari.

"Bangun kesiangan? Bukankah aku masih belum pulang dari sekolah?"

"Ngigo terus sana! Ini sudah setengah tujuh, mau molor sampai kapan, ha?" Bunda melempar jam weker yang kutangkap dengan sigap. "Hari ini nggak ada sarapan, cepat berangkat sekolah dan jangan lupa beli belanjaan yang kucatat sepulang sekolah!"

Mataku fokus menatap gincu merah di bibirnya yang bergerak maju mundur seiring nada omelannya yang semakin tinggi.

Sambil masih terus mengomel, Bunda menaruh secarik kertas di atas nakas dan beberapa lembar uang lalu melenggang keluar dengan badannya yang sebesar gajah.

Ugh, apa ini? Jadi semua yang kualami dengan Rion tadi hanya sebuah mimpi?

Aneh, mimpi itu terasa begitu nyata, baru kali ini aku bermimpi senyata itu, tapi baguslah, kupikir aku akan mati dibunuh makhluk-makhluk seram di kelas.

Kusibak selimut dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, alangkah terkejutnya saat melihat lengan dan kakiku yang penuh baret-baret luka yang terasa pedih begitu tersiram air.

Mimpi apa yang bisa sampai melukai tubuh di dunia nyata? Sial, kulit mulusku!

******

"Pagi semuaaa~" Kurangkul geng-ku yang berisi lima orang dari belakang, lalu berjalan di samping mereka dengan ceria.

"Nih, kamu nggak sarapan lagi hari ini, kan?"

Rizky mengulurkan sekotak tempat makan padaku sehingga ujung tangan kami bersentuhan.

"Ya ampun, Rizky. So sweet bangeeet~ I love you, deh!" Kulempar sebuah cium jauh yang dibalas olehnya dengan jari telunjuk yang menyilang di kening.

"Cieee, cieeeee ... sang suami lagi bawain bekal untuk sang istri, nih~" goda keempat sahabatku sambil menyenggol kami berdua.

"Jangan lebay, tadi aku buat nasi goreng untuk adik-adik dan kelebihan banyak, jadi daripada terbuang kukasih aja ke April, dia pasti nggak dikasih sarapan sama ibu tirinya itu."

Rizky menjawab cuek sambil sibuk memainkan ponsel di tangan, kukalungkan lengan di pundaknya, aroma parfumnya yang gentle menyergap hidung.

"Aku ditolak, nih? Tega sekali kamu, Riz," godaku sambil menjewer telinganya, Rizky membuang muka menyembunyikan semburat merah di pipinya yang sedikit berjerawat.

Bibirku siap melontarkan godaan lain saat tiba-tiba sebuah suara tak dikenal menyerbu otakku.

"Mobil, tiang, atau kereta?"

"Eh, apa?" Kuputar kepala mencari asal suara, tiba-tiba waktu seakan membeku, hiruk pikuk para siswa yang memenuhi koridor mendadak menghilang diiringi gerakan di sekitar yang ikut terhenti.

Semua berubah seperti patung, bahkan ponsel Rizky yang jatuh karena tersenggol olehku yang kaget atas suara tadi tertahan di udara.

Suasana berubah menjadi begitu sepi dan mencekam seakan hanya ada aku sendirian di tengah keramaian koridor.

Apa ini? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

"Mobil, tiang, atau kereta? Jawab!"

Suara itu menggelegar, seakan mampu memecahkan gendang telinga.

Kupandang segala arah untuk mencari asal suara, namun nihil. Tak ada apapun, suasana semakin mencekam karena hanya aku sendiri yang bisa bergerak di tengah keheningan ini.

"Jawab sekarang juga!"

Suara itu kembali menggelegar, kupegang kedua telinga yang berbunyi 'ngiiingg' akibat getaran volume yang dihasilkan oleh suara tak bertuan itu.

"Jawab!"

"M-mobil!" jeritku menyebutkan satu kata pertama yang terlintas, dalam sedetik semuanya kembali seperti semula.

Ponsel Rizky jatuh menabrak lantai, menyebabkan layarnya pecah dibarengi hiruk pikuk kembali muncul setelah menghilang secara misterius.

Kelima temanku heboh melihat nasib ponsel Rizky sementara, aku hanya berdiri mematung kebingungan karena tak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi.

"Pril, ponsel Rizky rusak, tuh! Kamu sih godainnya kebangetan." Senggolan Tisya mengembalikan ke alam sadar, segera kuberjongkok di depan Rizky yang tampak santai mengelus layar ponselnya yang pecah.

"Maafkan aku, aku benar-benar nggak sengaja, Riz. Maafkan, ya?" ucapku sarat rasa bersalah.

"Nggak papa, aku juga sudah bosan kok sama model ini, rencananya akan beli yang baru juga, sih. Mau menemani membeli yang baru nanti sepulang sekolah?"

Senyumnya yang begitu manis hampir membuatku tersihir. Kugelengkan kepala mengusir bayangan aneh dan sedetik kemudian mengangguk.

"Bener nggak papa? Apa aku perlu memberi ganti rugi? Ya Tuhan, serius maafkan aku, tadi aku–"

"Nggak papa udah, ini juga udah sering jatuh, kok."

"Ehem! Cie, cieee~ yang ngerelain ponsel kesayangan dipecahin si doi~" goda Bella disambut oleh Tisya dan yang lain dengan ucapan yang sama.

"Bukannya itu baru beli bulan kemaren, ya, Bel?" Gerry si pendiam ikut berkomentar.

"Tau, masa udah bilang bosen? Setahu aku kotor dikit langsung di lap, tuh." Intan yang berdiri di samping Gerry menyahut.

"Hush, kalian apaan, sih? Bener kok aku memang rencana ganti yang baru, aku nggak cocok pake model yang ini makanya–"

"Ih, kalian ini pada nggak peka, deh. Yaiyalah nggak masalah kalo yang nyenggol si April, coba kalo kita pasti–"

"Bisa diam nggak, sih?" Ucapan dingin Rizky langsung membungkam mulut usil mereka, tak mau berdebat lebih panjang, keempat temanku itu memutuskan pergi ke kelas masing-masing.

"Riz, beneran ini aku minta maaf ...."

"Nggak apa-apa, kok. Bener."

"Aku punya tabungan, nanti kubantu benahin layarnya gimana?"

Rizky tampak berpikir, lalu menggeleng.

"Bagaimana kalo kamu membantuku memilih yang baru dan mentraktir makan setelahnya?"

"Beneran cuma itu doang?"

Rizky mengangguk, tersenyum lebar.

"Yup. Sepulang sekolah? Gimana?" Tawarannya kujawab dengan anggukan.

"Oke. Sekalian nanti aku belanja keperluan rumah juga."

*****

Ujung mata melirik Rion yang seperti biasa dengan aktivitas anehnya di kursi belakang, sebenarnya ingin sekali bertanya apakah kejadian yang kualami dengannya kemarin hanya mimpi atau benar-benar nyata?

Sayangnya begitu melihat sorot matanya yang setajam silet, nyaliku menciut menjadi sebesar atom yang segera meledak dengan kecepatan cahaya saat tak sengaja bertatapan dengan wajah dinginnya.

"Tugas kemarin."

Rion menyodorkan dua buah buku ke bangkuku saat pelajaran ketiga akan dimulai. Dengan kening berkerut kubuka buku itu, tertera namaku dan namanya sebagai satu kelompok.

Jadi, kejadian kemarin–

"Apa?" sahutnya dingin saat aku menoleh ke belakang, kutelan ludah mengurungkan pertanyaan yang sudah siap dilontarkan.

"T-tugas ini kamu yang mengerjakan?" Gagap kuberanikan diri bertanya, karena aku sendiri tak ingat apa saja yang terjadi padaku kemarin setelah kelas terakhir selesai.

Rion mengangguk tanpa repot-repot menatapku. Hah. Dingin banget, sih.

"T-terima kasih."

Segera aku berbalik menghadap depan, tak tahan dengan sikap dinginnya yang lebih dingin dari es itu.

Hey, kenapa aku gugup saat bicara dengannya? Sejak kapan aku menaruh hormat pada cowok aneh itu?

Pelan, kutaruh sebutir lolipop di bangkunya.

"S-sebagai ucapan terima kasih."

"Nggak perlu. Aku cuma nggak ingin nilaiku jelek karena nggak mengerjakan tugas kelompok." Tapi, diambilnya lolipop itu lalu dimasukkan saku kemeja, membuatku melongo atas tingkah anehnya.

"Lihat apa?"

Aku menggeleng, menyibukkan diri memeriksa tugas buatannya yang rapi tanpa celah.

Hahhh. Benar-benar cowok super duper aneh.

Malas-malasan, kutumpuk buku tugas kami ke ketua kelas. Dilihat dari sikapnya yang lebih dingin dari biasanya aku semakin yakin kalau kejadian kemarin hanya mimpi dan secara tidak sengaja aku mencakar badanku sendiri saat tidur sehingga meninggalkan semua bekas ini.

Kadang hal seperti itu bisa terjadi, kan?

*****

"Awas!"

Semua orang berlari menghindari sebuah tiang pemancar yang tiba-tiba roboh, untunglah relfeks Rizky saat menarik lenganku menjauh bagus sehingga kami berdua pun terhindar dari tiang jatuh itu.

"Hampir saja. Pril, kamu nggak papa?"

Aku mengangguk, menatap kosong pada tiang yang melukai beberapa orang di trotoar itu.

Apakah ini ada hubungannya dengan suara aneh yang kudengar tadi pagi? Ah, pasti hanya sebuah kebetulan.

Aku tidak percaya hal mistis seperti itu. Ini kan sudah 2019, masa masih ada hal tidak masuk akal seperti bisikan gaib, ya kan?

Kami cukup bersenang-senang hari ini, Rizky mendapatkan ponsel sesuai seleranya dan kami makan sore bersama di sebuah resto siap saji. Semua terlihat sempurna.

Sebagai kenang-kenangan, kami pun berfoto berdua mengingat jarang sekali bisa pergi berdua seperti ini tanpa gangguan dari geng kami atau adik-adiknya yang usil.

"Yang lain pasti iri, hahahaha."

Sinar bahagia terpancar di matanya saat mengirim foto itu ke grup chat kami. Ah, diantara teman satu geng, Rizky lah yang paling baik, disaat ibu tiriku selalu menghukum dengan tak memberi sarapan, dia pasti datang dengan sekotak makan di tangan.

Bagai malaikat pelindung, ya kan?

"Seram sekali ya tadi, kok bisa gitu tiang yang begitu besar roboh tanpa ada angin atau hujan?"

Kuanggukkkan kepala, memang aneh, sih. Tapi yang terpenting kita berdua selamat.

Matahari senja begitu indah terlihat dari tempat kami berjalan, bentuknya yang berwarna oranye seperti bola api yang hangat, sehangat tangan Rizky yang menggenggam erat tanganku.

"Indah sekali, ya?"

Aku mengangguk, menatap sisi wajahnya yang justru terlihat tampan dengan beberapa butir jerawat itu.

"Ternyata kamu cakep juga, ya?" gumamanku membuat Rizky tertawa.

"Apaan, sih?"

"Beneran, jerawat kamu itu justru–"

Brakkk!!!!

Ciiiitttttt!!!

Berdua kami menoleh karena terkejut bercampur bingung dengan suara gemuruh di belakang kami.

"Minggir! Minggir!"

"Lari! Lari!"

Kejadiannya begitu cepat saat teriakan histeris itu memperingatkan kami, orang-orang berlarian menghindari sesuatu yang bergerak sangat cepat.

Lalu tampaklah sebuah mobil warna merah dengan kecepatan tinggi yang melaju kencang ke arah kami, Rizky refleks melepas pegangan dan mendorong tubuhku menjauh sekuat tenaga lalu tubuh jangkungnya itu pun melayang dihantam mobil sebelum akhirnya terhempas ke aspal dan terseret beberapa meter dengan kepala bercucuran darah.

Sementara mobil yang seperti kehilangan kendali itu masih terus melaju dan menabrak tiang tidak jauh dari tempat Rizky tergeletak setelah sebelumnya menabrak pengendara motor yang melintas.

"Rizky!"

Kepala rasanya pening melihat darah sebanyak itu dari kepalanya, terhuyung aku mendekat, menatap dirinya yang sudah setengah sadar.

"Rizky? Kamu nggak papa?!"

Pertanyaan bodoh. Jelas dia sedang di ambang kematian.

"Rizky!"

Kugoyang-goyang tubuhnya, tangannya yang terkulai di genggaman benar-benar menakutkan.

"Rizky! Ya Tuhan, bangunlah!"

Matanya yang sedikit terpejam membuka kembali dengan pandangan kosong, tak bisa merespon apapun.

Petugas kesehatan membawanya masuk ke ambulans, kepalanya yang terus mengucurkan darah membuat lantai ambulans tergenang oleh darahnya, sangat mengerikan.

"Kumohon, bertahanlah. Bertahanlah," racauku di tengah perjalanan menuju rumah sakit, Rizky yang kesadarannya tampak timbul dan tenggelam sudah tak bisa merespon ucapanku, dia seperti sibuk menjemput kematiannya yang sangat menyakitkan.

Kadang tubuhnya menggelinjang seperti kesakitan yang amat sangat sementara darah terus merembes dari perban yang dililit seadanya di kepalanya.

Aku dan kakak Rizky hanya bisa menunggu dalam kekalutan saat Rizky masuk UGD dan tak ada kabar sampai beberapa jam, sedang teman-teman yang kuhubungi tak bisa datang karena hujan yang turun deras.

"Sudah tak bisa diselamatkan, dia kehilangan terlalu banyak darah, kepala belakangnya retak sehingga darah masuk ke otak."

Penjelasan dokter jaga UGD kepada kakak Rizky membuat tubuhku limbung, ingin rasanya aku pingsan tapi anehnya kesadaran ini tetap bertahan.

Rizky.

Secepat itukah?

Kenapa?

Kulihat tubuhnya yang terbujur kaku di atas ranjang pasien itu didorong ke kamar mayat, kakaknya menepuk pundak kuyuku.

"Pulanglah dan bersihkan dirimu, terima kasih sudah menemaninya sampai sini, jangan salahkan dirimu, Pril."

Lemas, aku mengangguk dan berjalan lunglai keluar. Hujan deras yang turun beserta gelegar halilintar seakan menyambut diriku yang keluar dari UGD.

Bagaimana bisa hal ini terjadi? Kenapa Rizky? Bagaimana bisa tak ada tanda apapun yang menunjukkan bahwa dia akan meninggalkan kami secepat ini?

"Selamat. Satu nyawa telah terenggut. Terima kasih atas kerjasamanya."

Suara aneh itu tiba-tiba muncul di kepala. Kupandang sekeliling, mencari asal suara.

"Siapa kau?"

"Hihihi."

"Siapa kau?!"

"Hihihi~hihihihi~"

Tawa membahananya merobek malam, suaranya begitu mengerikan bagai tumpukan kertas tebal yang dirobek keras-keras, kering dan membuat ngilu.

Suara itu kini menjauh dan semakin jauh, kukejar asal suara dengan menerobos hujan namun nihil suara itu menghilang semisterius kemunculannya.

"Siapa kau?! Kenapa melakukan ini pada Rizky?!"

Tak ada jawaban, langit terlihat gelap dengan tetesan hujan yang menyakiti wajahku.

Aku jatuh terduduk dengan badan basah kuyup di pelataran rumah sakit, kenapa Rizky? Kenapa dia mengalami semua ini? Kenapa harus orang sebaik dia?

Seseorang tiba-tiba datang memayungi, mengulurkan tangan untuk mengajak berdiri.

"Hujan malam nggak baik untuk kesehatan, bangunlah. Kamu terlihat seperti orang gila."

Rion membuang muka, terlalu malas untuk melihat ke arahku. Kusambut uluran tangannya dan berdiri di sampingnya.

Perlahan, dia mengajakku keluar rumah sakit, dengan menghela napas panjang dan sorot mata lelah Rion menatapku.

"Hey, bodoh. Ini bukan sinetron, berhentilah bersikap menyebalkan seperti tadi, memalukan tahu?"

"Kamu nggak tahu, Rizky–Rizky, dia–"

Rion kembali menghela napas panjang, seakan semua sangat membosankan di matanya "Aku tahu," potongnya, dingin.

"Kau tahu apa? Orang nggak punya teman sepertimu tahu apa, hah? Kamu nggak tahu bagaimana rasanya melihat sahabat baikmu meninggal di depan mata! Kamu nggak akan tahu rasanya! Karena kamu nggak punya teman!"

Kudorong dia penuh emosi sehingga payungnya jatuh ke tanah, bukannya membalas kemarahanku Rion malah menatap tajam tepat tengah mataku.

"Bukannya kamu yang menentukan takdirnya? Kamu sendiri yang memilihkan proses kematian untuknya, kenapa jadi semarah ini?" tukasnya dingin.

"Apa maksudmu?!"

Tanpa menjawab, Rion memungut payung itu dan menyerahkannya padaku lalu berjalan pergi di bawah derasnya hujan.

"Hei, Rion! Apa maksud ucapanmu?! Hey! Rion! Berengsek! Jawab aku!"

Punggung itu tetap pergi menjauh mengabaikan teriakanku yang seperti orang gila.

Baca Part 3 disini

Pengarang Cerita : Himada Via
Facebook : Himada Via

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Jerat Kematian | Part 2 "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

;