Jerat Kematian | Part 1
"Bersembunyi di sini, Ap. Sampai aku menghubungi, jangan keluar dari sini. Bertahanlah sampai fajar, kumohon."
Rion menangkup kedua pipiku dengan tangannya yang lebar, sorot mata penuh kekhawatiran itu membuatku tak punya pilihan lain selain menuruti perintahnya.
Keadaannya sendiri benar-benar kacau, pakaian compang camping dengan beberapa luka yang belum kering dan rambut berantakan. Raut muka gelisah tak mampu dia tutupi saat membenahi selimut yang menutupi setengah tubuhku.
Dengan penuh kasih sayang Rion merapikan poni yang menutupi mataku, jarinya yang gemetaran menggenggam telapak tanganku.
"Kita sudah berhasil sejauh ini, bukan? Tinggal satu kali lagi, kamu pasti bisa. Aku akan melindungimu, Ap. Kamu dan aku pasti selamat, pasti. Jadi berjanjilah untuk tetap bersembunyi di sini sampai fajar, sampai aku menjemputmu. Oke?"
Kubalas genggaman tangannya sambil memaksakan senyum di bibirku yang kaku. Aku pun sama ketakutannya dengan dirinya sekarang, tapi menampakkannya di depan Rion kurasa bukan solusi terbaik.
"Berjanjilah akan menjemputku, Rion."
Mantap, dia mengangguk.
"Pasti."
"Kamu harus selamat dan menjemputku di sini, oke?" ulangku. Setetes air mata membasahi pipi, Rion tersenyum dan mengangguk lagi sambil mengusap pipiku.
"Aku pasti akan datang, jadi jangan kemana pun sebelum aku ke sini. Ini malam terakhir, dan semuanya akan kembali normal seperti siang itu. Aku berjanji akan mengembalikan kehidupan normalmu, Ap."
"Kamu gemetaran, apakah kamu takut?" Kuelus punggung tangannya dengan sorot khawatir.
"Takut? Tentu saja enggak. Ada Alexa bersamaku, kami nggak terkalahkan."
Aku ikut mengangguk, berat hati Rion melepas tanganku dari genggamannya.
"Aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik di sini, Ap."
"Tunggu."
Rion yang sudah berbalik menoleh lagi, sorot bertanya menghiasi netra indahnya.
"Namaku April, tolong panggil aku April, bukan Ap."
Rion tersenyum, menampakkan gigi taringnya yang lebih panjang dari gigi manusia biasa.
"Baiklah, April. Aku boleh pergi sekarang?"
Aku mengangguk, mengiringi kepergiannya dengan harapan terakhir untuk mengakhiri semua mimpi buruk ini.
****
Pernah dengar peribahasa tak ada asap maka tak ada api, bukan?
Begitulah semua kekacauan ini bermula, dengan berpusat pada seorang siswa pindahan bernama Rion.
Sosok yang duduk di kursi paling belakang samping jendela itu selalu seperti itu tiap harinya, tangan menopang dagu menatap keluar dengan headset di telinga.
Tak ada yang mau repot-repot memperhatikan atau menyapanya. Bagi kami, dia seperti debu di pojokan kelas, tak perlu disentuh apalagi didekati karena hanya akan mengotori baju saja.
Para guru pun sepertinya sudah menyerah menghukum atas sikapnya yang selalu menelungkupkan wajah di bangku tak memedulikan pelajaran atau apa pun. Apakah dia berandal yang pindah ke sekolah kami? Tidak. Dia hanya dia, yang menyendiri tak pernah mau menyapa kami.
Tak ada yang tahu dari mana asalnya, siapa keluarganya atau di mana tempat tinggalnya. Kami hanya tahu dia teman baru kami yang bernama Rion. Nama panjangnya? Siapa yang peduli?
Anehnya semakin hari kemisteriusannya itu justru menarik perhatian para cewek di sekolah, tampangnya memang lumayan, jujur kuakui wajahnya begitu tampan dengan kulit cerah mulus itu sehingga tidak heran jika banyak perempuan yang tertarik. Ayolah, jarang ada cewek yang tak tersihir wajah putih mulus bening bercahaya, bukan?
Oke, mungkin aku agak keterlaluan dengan deskripsi di atas, tapi kenyataan bahwa wajahnya lebih tampan dari semua cowok di kelas, atau mungkin di sekolah kami bukanlah hal yang kubesar-besarkan. Jika dia berjalan, seakan seluruh semesta berpusat padanya sehingga siapa pun akan sangat sulit memalingkan wajah darinya.
Entah siapa yang memulai, dalam sekejap image suramnya berubah menjadi keren. Hanya aksi kecil seperti melayangkan pandang ke arah mereka secara tak sengaja, histeria masal spontan memenuhi atmosfer sekitar.
Bahkan dengar-dengar, ada sekelompok siswi yang membuat sebuah kelompok pemuja Rion, mereka membuntuti Rion, memfotonya dan membagikan hasil foto dalam grup chat mereka. Mengerikan.
*****
Ugh, pernyataan cinta lagi.
Hari ini sudah tiga anak cewek dari kelas lain menyatakan cinta padanya, yang dijawab dengan tolakan tegas nan dingin darinya.
Aku yang duduk di depannya merasa risih tiap kali dia menolak para cewek itu. Nggak bisa apa sedikit manis saat mengucapkan penolakan?
Ah, tapi aku siapa mengatur-aturnya, dan kenapa sekarang aku jadi kepo sama kehidupannya coba?
Kuakui dia tampan, tapi aku tak memungkiri kalau dia juga aneh. Aku sering mendengarnya bicara sendiri saat pelajaran berlangsung. Sedang menelpon seseorang? Kami dilarang memakai ponsel ketika berada dalam kelas.
Kadang dia berbisik seperti mengusir seseorang, kadang seperti sangat kesal, kadang dia tertawa sendiri. Duduk di depannya membuatku hafal beberapa sikap anehnya yang kuyakin pasti cewek-cewek yang menaksirnya akan kehilangan minat begitu mengetahui semua hal itu.
Setampan apa pun cowok, mana ada sih yang mau sama tukang bicara sendiri? Apakah dia gila? Hmmm, who knows?
Tak diragukan lagi, dia pasti pasien rumah sakit jiwa yang melarikan diri. Aku yakin sekali.
Ada satu lagi rahasia yang tak kuberi tahu pada siapapun, aku pernah melihat dia menguap dan aku bersumpah melihat kedua gigi taringnya lebih panjang dari gigi taring manusia pada umumnya.
Fix, dia pasien rumah sakit jiwa yang juga seorang vampir. Aku harus menjauh sejauh mungkin kalau tidak ingin mati sia-sia karena darahku habis dihisap olehnya.
***
Hari ini aku adalah hari sialku, kami dapat tugas kelompok dari guru dan tak ada yang mau jadi teman belajar kelompok si artis dadakan, terpaksa aku yang duduk di depannya ditunjuk sang guru untuk menjadi teman kelompoknya.
"Hai," sapaku canggung sepulang sekolah, dia masih menatap luar jendela dengan headset di telinga. Mengabaikanku seperti biasa.
Kelas sudah sepi, hanya tinggal kami berdua. Aneh sekali kenapa dia tidak pulang? Sepanjang jam pelajaran kudengar dia berbisik seakan berdebat alot dengan seseorang.
Sebenarnya aku penasaran dia berbincang dengan siapa, tapi siapa sih yang mau repot-repot berurusan dengan orang gila? Ditambah kemungkinan dia seorang vampir benar-benar alasan yang cukup untuk menghindarinya.
Kayak hidup masih kurang gila aja dengan tekanan kedua orang tua, mengurusi vampir kelaparan pasti lebih merepotkan.
"Rion, bisa bicara sebentar?"
Nekat, kugebrak meja di depannya, tapi dia masih saja mengabaikanku. Mungkin dia mengira aku akan menyatakan cinta seperti para cewek lainnnya, ughh ... padahal aku hanya ingin membicarakan tugas kelompok ini lalu pulang dan tidur.
Ah, aku rindu kasurku yang empuk.
Tak menyerah, kupanggil namanya sekali lagi, karena dia tetap tak menyahut, aku pun mengambil inisiatif mencabut headset di telinganya dan melemparkannya ke lantai.
"Arrrrghhhhh!"
Dia terlihat sangat kaget, berteriak kesetanan sambil memegangi telinganya yang tak tersumpal headset. Aku mundur ke belakang, respon yang terlalu berlebihan untuk sebuah headset yang lepas dari telinga.
Dia menggeleng-geleng panik sambil menutup kedua telinga, lalu mencari-cari headset yang kujatuhkan di bawah meja.
Aku semakin mundur menjauh, kaget dengan reaksinya yang aneh dan berlebihan.
Dia terlihat sangat panik dengan tetap menutupi satu telinganya dan menyingkirkan kursi untuk mengambil headset, gerakannya yang panik itu justru membuat headset semakin jauh dari kakinya.
Kubungkukkan badan, mengambil kabel headset dan mengulurkannya padanya.
"Jangan coba-coba lagi." Pandangannya setajam silet. Ugh, dia sudah berubah menjadi si freezer biasanya rupanya.
"Aku hanya menyapa, karena kamu memakai headset kupikir kamu gak dengar sapaanku." Aku membela diri.
Dia membuang muka keluar jendela, tampak sangat kesal.
"Aku nggak sedang akan nyatain cinta, aku mau bicara tugas kelompok!" Buru-buru kujelaskan apa maksudku sebelum dia kembali ke dunia bisik-bisiknya.
Dia menelengkan kepala sedikit, melirikku dengan sudut matanya yang agak sipit.
"Bicara aja," sahutnya cuek.
Gemas, kucabut lagi headsetnya. Namun kali ini dia dengan sigap menahan tanganku.
"Aku nggak main-main, kamu lakukan sekali lagi, kamu akan menyesal seumur hidup!" Ancamannya kubalas dengan tawa mencemooh.
"Ha–ha ... kamu pikir aku takut?!"
Dia berdiri, tangannya kini mencengkeram pergelangan tanganku, "Jangan macam-macam, oke?"
Jarak antara kami begitu dekat, sampai embusan napasnya terdengar olehku.
"Oke, tolong lepaskan."
Aku mundur dua langkah, wajahnya terlalu tampan untuk dilihat dari dekat. Aku takut khilaf. Hey, aku hanya perempuan biasa yang juga tertarik dengan cowok tampan, oke?
Kasar, dia melepaskan cengkeramannya.
"Sejujurnya aku memakai ini karena di sini terlalu berisik," jelasnya tiba-tiba, kupandang sekeliling yang sepi.
Siapa yang berisik?
"Mereka." Dia mengedarkan pandang ke seluruh ruangan, membuatku semakin tak paham.
Oh, mungkin maksudnya teman-teman kami saat di kelas, aku mengangguk-angguk sok paham.
"Kadang memang rame banget sih mereka ...." Kubenarkan penjelasannya.
"Bukan." Dia malah menggeleng-geleng, "bukan teman sekelas tapi mereka."
Kuedarkan pandang, tiba-tiba seluruh tubuh rasanya merinding.
"Jangan bilang ...."
"Yup. Mau lihat? Mau dengar?" Dia mencondongkan badan mendekat, seakan menantangku.
Aku mundur dua langkah, "Gila aja aku lihat begituan!"
Dia malah melangkah maju sambil menyunggingkan senyum, memotong jarak diantara kami.
"Karena kamu sudah membuatku mendengar mereka dengan mencopot headsetku. Ini bayarannya."
Tuk.
Dia mengetuk tengah keningku pelan dengan ujung telunjuknya.
Lalu, semua berubah dalam sekejap.
Ruang kelas yang hening dan kosong berubah riuh oleh celotehan tak jelas, beberapa makhluk tak jelas bentuknya melayang ke arahku dengan seringai tajam dari mulut yang menyatu dengan telinga.
Aku jatuh terduduk dengan berteriak histeris dan mata melotot. Pikiran rasanya kosong dipenuhi ketakutan.
"M-makhluk apa itu? S-siapa mereka?"
Aku berteriak kencang saat sebuah lidah tanpa tuan menjilat pipiku, meninggalkan air liur basah dengan bau menjijikkan.
"Sudah kubilang jangan macam-macam denganku, kan?" Rion tampak menikmati pemandangan raut ketakutanku dengan menyedekapkan tangan.
"Tolong singkirkan mereka! Mereka mulai menggigit lenganku! Ya Tuhan, nggak! Jangan menarik kakiku! Rion, tolong aku!"
Rion malah tertawa seakan jeritanku adalah hiburan untuknya, tubuh jangkungnya itu menunduk dan matanya menatapku dengan pandangan mencemooh.
"Kalo kamu berhasil keluar dari ruangan ini dengan selamat, kukembalikan penglihatanmu seperti semula. Kutunggu di depan kelas selama sepuluh menit."
Dengan santai Rion menendang seekor makhluk berbentuk penggaris dengan mata dan mulut simetris yang menghalangi jalan lalu melenggang keluar kelas.
"Rion! Berengsek! Tunggu aku!"
Aku berusaha bangkit tapi cengkeraman kuat dari makhluk-makhluk itu menahan badan, Rion yang sudah di depan pintu menyeringai puas sambil melambaikan tangan.
"Sepuluh menit tidak keluar, selamat menikmati menjadi aku." Dengan tersenyum sok tampan, Rion menutup pintu.
"Sial! Hey! Berengsek! Kubunuh kau! Rion!"
"Ikutlah dengan kami, ikutlah dengan kami."
Suara mereka bergaung di telinga, memunculkan gema aneh yang memusingkan. Cakaran-cakaran kecil di kaki dan tangan membentuk baret-baret yang memunculkan titik-titik berwarna merah.
Sebuah sinar terang benderang tiba-tiba memenuhi ruangan, sosok serba putih dari mulai rambut, kulit dan seluruh tubuh muncul di tengah para makhluk menjijikkan ini.
Tangannya terulur, senyum yang terukir di bibirnya membuat wajahnya robek seperti kertas, memunculkan tetesan merah yang sangat kontras dengan seluruh tubuhnya yang berwarna putih.
"Mau membuat perjanjian denganku? Dengan begitu kamu akan terbebas dari mereka semua."
Suara yang keluar dari mulut penuh darah itu layaknya sebuah lonceng yang berbunyi dari kejauhan, para makhluk yang mulai menggelayut dan menjambak rambutku benar-benar menakutkan, tanpa berpikir panjang aku mengangguk dan menyambut uluran tangannya.
Sosok itu kembali menyunggingkan senyum, menggumamkan sesuatu. Semilir angin melingkar di sekitar tubuhku membuat badanku terangkat ke atas perlahan.
"April! Apa yang kamu lakukan?! Bodoh!"
Rion terengah-engah di depan pintu, sorot matanya tampak begitu marah melihatku bergandengan tangan bersama makhluk itu, dengan satu loncatan dia meraih tanganku yang bebas, namun ....
Baca Part 2 disini
Pengarang Cerita : Himada Via
Facebook : Himada Via

0 Response to "Jerat Kematian | Part 1"
Post a Comment