-->

Lukisan Misterius | Part 2 | Enam hari sebelum Alisa benar-benar sendirian


Alisa terbangun, mengerjapkan mata berkali-kali dan tubuhnya menggeliat seperti cacing. Ayam berkokok di luar sana benar-benar berisik dan berhasil membangunkannya. Menyebalkan. Alisa menoleh ranjang Ellie namun tak ada siapa pun di atas sana. Selimut masih melebar dan belum terlipat rapi. Apakah Ellie sudah duluan pergi kuliah? Pikir Alisa.

"El?" Alisa berteriak, keluar kamar dan memeriksa kamar mandi. Siapa tahu, Ellie masih di dalam sana.

"Cari siapa?" Erick keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya, sementara badan bagian atas benar-benar telanjang.

"Aku cari Ellie. Kirain lagi mandi," sahut Alisa.

"Ellie? Emang dia di mana?"

"Nggak tahu. Makanya aku nanya."

"Mungkin udah berangkat duluan?" tebak Erick, membuat Alisa berpikir sebentar kemudian mengangguk ragu. "Mungkin."

"Gak usah di pikirin, dia mungkin males nungguin kita." Erick menepuk bahu Alisa sekali kemudian pergi ke kamarnya.

_

Hari pertama Alisa kuliah di Jakarta, sungguh membuat pikirannya tidak tenang. Ellie, yang Alisa pikir sudah berangkat duluan ternyata tidak ada. Dia belum ada di kampus, lalu ke mana Ellie?

"Satya!" panggil Alisa, berjalan mendekati laki-laki itu yang sedang sibuk memakan sebungkus roti.

"Kenapa, Al?"

"Tadi kamu berangkat terakhir dari villa, kan? Lihat Ellie, gak?" tanya Alisa cemas.

"Lho? Kata Erick dia udah berangkat duluan."

"Itu baru 'mungkin' aku gak tahu ke mana Ellie. Dia gak masuk kelas."

"Serius?"

Alisa mengangguk mantap. Dia yakin seratus persen tidak ada Ellie mengikuti kelas hari ini.

"Terus dia ke mana, ya?" Satya ikut kebingungan.

"Sat, buruan kita cari Ellie!" Alisa merengek, baru kali ini Satya melihatnya seperti ini.

"Kamu kenapa? Gak usah cengeng gitu."

"Gimana kalau Ellie di culik?"

"Ngaco. Dikira ini film apa. Kita tunggu kelas Erick, abis itu pulang ke villa dan cari Ellie." Satya menarik tangan Alisa menuju ke fakultas Erick yang berbeda dengan mereka berdua.

_

Erick membuka kunci villa dengan terburu-buru. Masalahnya, Alisa terus mengoceh di sampingnya dengan nada tak sabar. Pintu terbuka, keadaan villa masih sama seperti pagi hari tadi, rapi dan bersih.

"Ellie?" Erick menaiki tangga, mencari gadis itu.

Satya dan Alisa juga mencari Ellie di tempat yang berbeda. Satya ke kamar mandi, sementara Alisa ke gudang yang terletak di ujung ruangan. Alisa membuka gudang, menyeleksi setiap benda tak terpakai yang sudah berdebu di dalam sana. Sangat tidak masuk akal, memang. Yang benar saja mencari seorang Ellie di gudang, dia adalah tipe gadis penakut yang tidak mungkin masuk ke sini.

Alisa menggeleng. Benar, Ellie tidak mungkin di sini. Alisa balik badan, hendak pergi dari sana. Namun sebelum niatnya terlaksana, tubuh Ellie jatuh dari atap tepat di hadapan Alisa.

Alisa menjerit, kaget melihat tubuh Ellie yang tergeletak dengan mata terbuka lebar. Alisa jongkok, menepuk-nepuk pipi Ellie yang terasa dingin. "Ellie! Wake up! Kamu kenapa?!" Alisa cemas. Dia memeriksa denyut nadi Ellie dan tidak merasakan tanda-tanda kehidupan Ellie.

Tidak! Itu tidak mungkin. "Erick! Satya!"

Mendengar teriakan kencang itu, Erick dan Satya mengikuti sumber suara, memasuki gudang dan terkejut melihat mayat Ellie di sana.

"Oh my god..." Erick semakin mendekat, menatap Alisa yang sedang menangis kencang.

"Al, dia kenapa?" tanya Satya cemas.

"Dia.... Dia meninggal," jawab Alisa pedih.

"Meninggal? Karena apa?" Satya ikut jongkok, memeriksa denyut nadi Ellie untuk memastikan.

Alisa hanya bisa menggeleng tidak tahu. Dia sungguh frustasi dengan kematian Ellie yang tanpa sebab seperti ini.

"Tidak ada luka, darah atau legam, tapi kenapa dia meninggal?" Satya semakin terheran-heran.

Tubuh Ellie yang putih mulus, tidak memperlihatkan tanda-tanda penyiksaan, cekikan, pembunuhan. Lalu bagaimana dia bisa mati? Sakit? Ellie tidak memiliki penyakit apapun!

"Kita harus bagaimana?" Erick membuka suara kembali setelah mereka diam cukup lama.

"Yang jelas, jangan sampai kabar ini sampai ke orang tuanya!" tegas Satya.

"Hah? Kamu gila? Mereka harus tahu!" Alisa berdiri, menentang keras usul Satya.

"Kamu yang gila! Kalau mereka tahu mau bilang apa, hah? Ellie tanggung jawab kita, Al. Mereka akan kecewa sama kita karena gagal menjaga anaknya!"

"Aku setuju," ungkap Erick.

"Hah? Lalu mayat Ellie bagaimana?" Alisa bertanya-tanya.

"Kita akan simpan di sini, kita akan cari jalan keluar. Ayo." Erick menyuruh Satya dan Alisa keluar dari gudang.

Satya keluar dari gudang, namun Alisa masih tetap di dalam. "Gak ada waktu buat bersedih, Al! Kita harus cari tahu!" Satya menarik tangan Alisa keluar gudang dengan kasar.

_

Alisa terus memandangi ranjang Ellie sambil tiduran menyamping, merasa rindu dengan perempuan cantiknya yang kini telah meninggalkannya tanpa sebab. Bagi Alisa, Ellie jahat! Mengapa dia tega meninggalkannya? Alisa semakin tidak semangat menjalani hidup setelah satu-satunya alasan dia bertahan, mati.

Alisa menarik napas dalam dan mengeluarkannya pelan. Dia berusaha tenang saat ini, tidak mau semakin frustasi. Alisa berdiri, berjalan keluar kamar tepat jam sebelas malam. Alisa menuruni tangga dengan lesu, memandangi lukisan yang terpampang bebas di dinding. Alisa merinding, mengusap leher belakangnya dan berjalan menuju dapur.

Satu gelas penuh ia habiskan, dengan napas terengah-engah, Alisa duduk di kursi makan dan diam-diam menangis.

"Alis...."

"I'am here...."

Alisa terkesiap, menoleh sekeliling mencari asal suara yang terdengar lirih. Itu suara Ellie, tentu saja Alisa mengenalnya. "Ellie?" Alisa mencoba memanggilnya, berdiri dari kursi dan berjalan menuju gudang.

"Ellie, kamu di dalam? Apa kamu hidup, Ellie? Jawab aku kalau iya!" Alisa mengetuk pintu gudang, namun tak ada jawaban dari dalam sana.

"Alis!"

Alisa sontak menoleh, melihat sosok Ellie yang berdiri di hadapan lukisan itu dengan wajah pucat. "Help, me!"

"Ellie! Aku datang!" Alisa berlari, namun dengan secepat kilat Ellie menghilang memasuki lukisan itu.

"Aliiiisssss.....!"

Alisa masih bisa mendengar suara manisnya, dia di dalam sana. Di dalam lukisan sialan itu!

"Ellie!!"

Alisa memukul-mukul lukisan dengan keras, niatnya hanya ingin mengeluarkan Ellie dari sana. "Keluarkan Ellie! Atau bawa aku bersamanya!" teriak Alisa terlanjur kesal.

Sebuah tangan tiba-tiba keluar, menjambak rambut Alisa dan menariknya ke dalam lukisan dengan kasar. "Aaaargggg!" Alisa teriak, berusaha mengeluarkan diri dari dalam sana.

"Lepaskan! Aarggg!"

Alisa terbangun, berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah. Jantung Alisa berdegup kencang, dia benar-benar ketakutan. Kedua tangannya mengelap keringat dingin yang bercucuran bebas dari pelipisnya. Alisa menatap sekeliling, tubuhnya sedang di dapur dan duduk di kursi makan.

"Ellie?" Alisa memanggilnya dengan nada bergetar. Tak ada reaksi, hanya ada detikan jam dinding yang terdengar jelas.

Alisa kembali meneguk segelas air dan mulai mendapat pencerahan. Dia yakin, mimpinya barusan bukan hanya berakhir menjadi mimpi. Itu nyata! Alisa yakin Ellie ada di dalam lukisan itu.

_

TBC

Catatan Alisa : [Aku sangat ketakutan dengan mimpi itu, tetapi hal itu juga membuatku sangat penasaran!]

Lanjutannya COMING SOON!

Pengarang Cerita : Bintang Kejora
Facebook : Bintang Kejora

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Lukisan Misterius | Part 2 | Enam hari sebelum Alisa benar-benar sendirian"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

;