-->

Sweet But Psyco | Part 2 | I Kill My Friend 2


Lily dan Naura sedang berjalan-jalan di bawah cakrawala yang tampak cerah. Keduanya menikmati embusan angin yang menerpa rambut mereka semena-mena. Segerombol burung terbang, mengepakkan sayapnya di angkasa yang membiru. Bukan rahasia lagi, jika sosok Lily, si cewek manis menjadi pusat perhatian orang-orang jika dia sedang berjalan. Tubuhnya yang berisi dengan tinggi badan bak model, tentu membuat siapa saja bisa langsung berkata, "dia luar biasa"

Naura baru selesai membeli gula-gula di pinggir taman, dia membeli dua. Satu untuknya, dan satu untuk Lily. Naura berjalan ke arah Lily dengan wajah girang seperti sifatnya. Dia menyerahkan gula-gula berwarna pink kepada Lily kemudian duduk di sampingnya.

Mereka kini sedang duduk bersampingan di sebuah bangku taman yang berhadapan langsung dengan air mancur. Kondisi taman lumayan sepi karena ini bukan hari libur, di sini hanya ada penjual gula-gula dengan gerobak dan beberapa motor lewat. Itupun jaraknya tidak terlalu dekat dengan posisi Naura dan Lily.

"Oi, sebentar lagi matahari tenggelam!" teriak Naura memandang ke barat yang sudah mulai didekati matahari.

"Mau pulang sekarang?" tanya Lily.

Naura kontan menolehnya. "Gak bisa! Kita belum liat matahari tenggelam, Ly. Bentar lagi," tolaknya.

"Oke."

Mereka akhirnya menghabiskan gula-gula di tangan masing-masing, menikmati kehangatan sinar matahari sore yang menabrak tubuh keduanya dengan bebas. Naura tampak memikirkan sesuatu, dia menoleh Lily yang masih fokus dengan gula-gulanya.

"Ly, kok baru sadar ya kalau Leoni tadi gak sekolah? Dia juga gak balas chat-ku semalam," heran Naura.

Leoni, Naura dan Lily memang berbeda kelas. Sehingga ketiganya sulit mengabari jika ada apa-apa. Lily menggidikkan bahu pura-pura tidak tahu.

"Kemarin kalian main bareng, kan? Aku gak ikut karena lagi ke rumah nenek. Setelah itu, Leoni izin gak sama kamu?" tanya Naura mengingat kejadian kemarin ketika dia tidak bisa ke rumah Lily karena halangan. Naura harus ke rumah neneknya untuk bersilaturahmi di hari raya idul fitri ini.

"Iya. Leoni ke rumah aku."

"Terus dia bilang gak mau ke mana? Atau jangan-jangan kalian marahan lagi," ujar Naura curiga.

"Marahan apa sih. Dia udah pergi. Mau ketemu sama Leoni?" tanya Lily menoleh Naura tajam.

"Mau dong. Emang Leoni di mana?" girang Naura.

Lily selesai menghabiskan gula-gula di tangannya, menghadap Naura kemudian menusukkan kayu bekas gula-gula ke telinga Naura dengan keras. Naura membuka mulut kaget dengan badan tak berkutik. Naura merasakan tusukan kayu tersebut memelesak ke dalam telinganya semakin mendalam.

"Argg..." Naura mendesis, tangannya bergerak hendak mendorong Lily namun didahui Lily dengan mendorong Naura hingga jatuh dari bangku.

Naura tengkurap di rumput taman, berusaha mencabut tusukkan kayu di telinganya yang terasa sangat sakit. Lily mengeluarkan gunting tajam dari saku seragam, menjepit jari-jemari Naura dengan gunting, kemudian menekannya kuat-kuat hingga suara tulang terdengar renyah.

Niat Naura mengeluarkan tusukkan kayu di telinganya gagal karena jari-jari yang sakit dan bercucuran darah. Dia berusaha berdiri kembali, tetapi tangan Lily dengan cepat menusukkan kayu lebih dalam hingga tembus ke telinga kiri Naura.

Naura menjerit ke sakitan, matanya dapat merasakan kaku hingga hidung yang sulit bernapas. "Ke-kenapa...." lirih Naura gelagapan. Cewek itu kini telentang di taman, perutnya di duduki Lily yang sudah tidak sadar siapa dia yang sebenarnya.

Lily perlahan mendekati wajah Naura, berbisik padanya, "Leoni ada di surga, aku membantumu untuk menemuinya!"

Dengan kondisi sekarat, Naura mencekik leher Lily mencari perlawanan. Lily sempat terkejut dengan tindakan Naura, namun dengan cepat, Lily merobek urat nadi Naura hingga ke sikut dengan gunting. Naura melepaskan cekikan, tangannya yang dipenuhi darah terjatuh di rerumputan.

Lily mengangkat gunting tinggi-tinggi, menusukkannya ke dada Naura hingga tepat mengenai jantungnya. Lily kembali mengeluarkan gunting, merobek dada Naura dengan kedua tangan kemudian mengambil jantungnya dengan senyum senang.

Lily meremas jantung Naura dengan kedua kepalan tangan hingga hancur.

Matahari mulai terbenam menuju tahtanya di ujung barat, langit keorenan yang menyelimuti semesta, menjadi saksi bisu tindakan Lily kepada sahabatnya sendiri. Sunyi serta sepi di taman, terpecahkan dengan tawa Lily yang menggelegar puas.

Lanjutannya COMING SOON!

Pengarang Cerita : Bambieta Adora
Facebook : Bambieta Adora

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Sweet But Psyco | Part 2 | I Kill My Friend 2"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

;